
Selama beberapa tahun menikah dengan Lee, selama itu pula dia berharap akan adanya momongan yang menghiasi hidupnya. Namun, anak adalah hak sang pencipta. Kepada siapa dia ingin memberi.
Siapa sangka, setelah resmi bercerai Siti mendapat keinginannya. Dia tidak sadar sudah dua bulan terakhir Siti tidak mengalami menstruasi.
Antara bahagia dan tidak. Meski anak adalah keinginannya tapi, anak itu akan lahir dengan kehidupannya orang tuanya yang sudah tidak bersama.
"Kenapa, Teh?" tanya Zidan saat melihat Siti termenung setelah keluar dari kamar mandi. Zidan mengambil benda panjang berwarna putih di jemari Tetehnya.
"Ini apa?"
"Kamu mau punya ponakan, Zidan."
Zidan yang masih polos langsung kegirangan mengetahui Siti hamil. Dia melompat seraya tertawa riang. Hanya beberapa menit saja. Hingga tawa itu kemudian hilang.
"Kenapa?" tanya Siti heran.
"Coba aja, Bapak masih ada. Pasti bahagia banget. Bapak pengen banget punya cucu, Teh."
Siti memeluk erat adiknya. Mengelus kepalanya penuh kehangatan.
"Kita berdua akan mengurus Dede bayinya, iya 'kan?"
"He-em, Zidan akan bantuin teteh ngurus Dede bayinya. Zidan mau ajak dia main dan ngaji biar pinter."
Siti menarik nafas panjang. Dalam hati kecilnya dia ingin sekali memberitahu ini pada Lee. Akan tetapi, dia takut. Takut Lee tidak akan perduli dan itu akan membuat Siti merasa sakit begitu dalam.
Sudah dua pekan sejak meninggalnya Pak Muhiddin. Meski hati mereka selalu dilanda kesedihan. Namun, diri dan Zidan sudah mulai menjalankan kehidupan seperti biasa.
"Aku harus kuat. Bagaimanapun juga ada nyawa lain yang harus aku jaga."
Kekayaan yang dulu keluarga Bu Amira berikan pada Pak Muhiddin, bisa digunakan Siti untuk memenuhi kebutuhannya saat ini. Sawah yang luas, dan kolam ikan menjadi sumber mata pencaharian mereka.
Saat pergi dari rumah, Siti tidak membawa apapun, termasuk uang dan ponsel. Untuk itulah, dia sekarang hanya bisa mengandalkan sawah dan kolam ikan. ATM dan semua tabungannya, ada di ibu kota.
Ponsel yang sekarang dia pakai, adalah pemberian dari Erlangga.
[Aku sedang dalam perjalanan]
[Iya, hati-hati di jalan. Mau aku masakin apa?]
[Tidak perlu repot-repot. Jaga saja kesehatan, jangan terlalu cape.]
[Terima kasih]
"Lagi ngobrol sama siapa? Siti?"
"Hmm." jawab Erlangga singkat.
"Aneh rasanya. Tapi, itulah takdir."
"Apa kamu yakin, tidak merindukan Siti sama sekali?"
"Terkadang. Tapi, kamu tau sendiri aku bagaimana?"
Erlangga hanya bisa mengulas sedikit senyuman yang di paksakan. Dia tau bagaimanapun sifat sodaranya itu.
Saat merasa benci pada seseorang, maka akan sulit untuk menghadirkan rasa yang lain.
'kita lihat saja, Lee. Apakah rasa itu akan berubah saat ada anak yang sedang Siti kandung.' gumam Erlangga.
Erlangga tau perihal kehamilannya Siti, saat Siti mengirim pesan singkat dan sebuah fotonya tes kehamilan bergaris dua.
Mata Lee jauh memandang. Menyusuri keindahan kampung halaman Siti, tempat yang sebenarnya dia rindukan di dalam lubuk hatinya yang paling dalam.
Sampailah di halaman rumah.
Siti dan Zidan keluar, menyambut mereka. Zidan menghampiri Erlangga dan Lee untuk menjabat tangan.
__ADS_1
Lee memeluk Zidan lama. Melepas rindu yang selama ini dia pendam.
Tidak terasa air mata Siti menetes kembali. Dia ingin sekali berlari dan memeluk Lee. Namun, apa daya. Mereka kini bukanlah siapa-siapa.
Sesak rasanya nafas Siti. Dadanya seakan remuk tak berbentuk. Detak jantungnya seperti berhenti berdetak.
Erlangga melangkah, mendekati Siti dan memberikan sapu tangan padanya.
"Jangan menangis. Kuatlah." bisiknya.
Lee melepas pelukannya. Matanya sinis melihat kedekatan Erlangga dan mantan istrinya.
"Ada apa kemari?" tanya Siti pada Lee.
"Ada sesuatu yang harus kita bicarakan."
"Masuklah."
"Aku dan Zidan pergi memancing. Kalian bicara sepuasnya."
Siti tersenyum. Dia mengajak Lee ke belakang rumah, ada bangku di sana.
"Kenapa kesini? kenapa tidak ...."
"Kemana?" tanya Siti ketus. "Kita bukan muhrim sekarang, jadi tidak bisa berada dalam satu atap hanya berdua."
Seperti luka yang tersiram air garam, perih. Itukah yang Lee rasakan. Keegoisannya luluh lantah begitu dia melihat Siti.
"Bicaralah."
"Kita ke intinya saja, lagi pula sepertinya kamu tidak nyaman dengan kehadiranku saat ini."
Siti menutup mulutnya rapat-rapat. Dia ingin sekali menjerit dan mengatakan bahwa dia sangat merindukan mantan suaminya.
"Ini." menyodorkan amplop cokelat. "Itu adalah hak-mu."
"Buku tabungan kamu, beberapa surat kendaraan, sertifikat rumah, dan deposito yang aku buat atas nama kamu, dulu."
"Ini, juga." ucapnya lagi sambil memberikan sebuah kotak berukir yang sangat cantik.
"Itu dari eyang."
Siti membuka kotak itu. Beberapa perhiasan mahal yang bertahtakan berlian di dalamnya.
"Jangan di tolak. Eyang bahkan tidak sanggup ikut kesini, dia tidak ingin saat bertemu denganmu tidak bisa berpisah lagi."
"Aku bahkan belum sempat berpamitan." air mata Siti kembali tumpah ruah.
"Aku belum sempat meminta maaf pada Mama atas semua kesalahan yang pernah aku buat. Mama yang sudah seperti ibu kandung untukku. Sejak kecil aku tidak merasakan hangatnya pelukkan seorang ibu, bisa aku dapatkan dari Mama. Dan sekarang ...."
Lee menghela nafas begitu dalam. Berusaha menahan agar air matanya tidak ikut jatuh saat melihat Siti yang menangis pilu.
"Aku merindukan mereka semua, ya Allah."
"Mau aku telepon?"
"Jangan. Itu akan membuat aku semakin sulit untuk melupakan mereka. Meski, sampai kapanpun mereka akan selalu ada disini" Siti menekan dadanya perlahan.
"Termasuk aku?"
Pertanyaan Lee membuat Siti terdiam. Bingung harus berkata apa.
"Aku yang sudah kamu buang begitu saja, apakah masih pantas merindukan dirimu?"
Lee menunduk.
"Keperluanmu kemari apa hanya untuk ini? jika sudah selesai, kembalilah ke ibu kota."
__ADS_1
"Aku ...."
"Pulanglah dan ...."
"Akan segera menikah."
DEG!
Bagai tersambar petir di siang hari. Apa yang Lee ucapkan benar-benar membuat dia serasa ingin pingsan.
"Secepat itu?"
"Ya."
"Kenapa? kenapa begitu cepat." lirih Siti.
"Itu sudah menjadi keputusanku. Setelah menikah, aku akan pindah ke Korea. Tempat keluarga mama tinggal."
"A-aku ...." Siti tidak bisa berucap. Dia menjatuhkan amplop dan kotak perhiasan bersamaan dengan robohnya tubuh Siti ke tanah.
Dia duduk lemas. Namun, suara tangisannya terdengar keras. Tangisan seorang wanita yang selalu di rundung duka.
Wanita yang begitu mencintai suaminya dengan segenap jiwa raga. Rela mengorbankan nyawa untuk yang tercinta. Istri yang selalu merindukan suaminya meski status mereka sudah menjadi mantan.
Cinta yang masih sama besarnya dalam hati Siti untuk Lee. Kini hancur berkeping-keping. Dia yang tidak berdaya pada perasaannya, berusaha menahan keinginan untuk memeluk mantan suaminya. Seakan terhempas begitu saja.
Lee berdiri mematung. Bingung harus berbuat apa? hanya bisa menatap nanar pada wanita yang dulu pernah begitu dia cintai.
Siti tidak bisa berhenti menangis. Nafasnya mulai tersengal-sengal karena kelelahan yang tiada tara.
Perlahan tubuhnya semakin jatuh dan jatuh. Erlangga yang sedari tadi mengawasi, berlari cepat sebelum wajah Siti menyentuh tanah.
Tanpa memperdulikan Lee. Dia mengangkat tubuh Siti dan segera berlari kecil menuju mobil. Langkahnya terhenti saat dia merasakan ada tetesan di kakinya yang saat itu tidak memakai sepatu.
Sementara di depan, Zidan hanya diam dengan mulut menganga saat melihat tetesan darah berjatuhan.
Erlangga mengeratkan gigi hingga menimbulkan bunyi. Segera berlari menuju mobil. Di ikuti Lee dan Zidan.
Mereka segera pergi ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Infus terpasang. Oksigen terpasang.
"Mana suaminya?"
"Saya!" ucap Erlangga tegas.
"Apakah istri Bapak sedang hamil?"
"Iya, dia sedang hamil kurang lebih dua bulan," jawabnya sambil menatap tajam Lee.
"Istri Bapak harus segera kami rujuk, dia perdarahan, sepertinya mengalami kegugupan."
Lee dan Erlangga terdiam. Seperti tidak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar.
"Tidak mungkin, suster tolong selamat'anak saya," pinta Lee.
"Maksudnya? dia suaminya dan anda ayah dari anak yang dia kandung?"
"Cukup! segera bawa istri saya ke rumah sakit."
"Baiklah. Kami akan segera membuat surat rujukannya."
Bersambung ....
*Hai Readers, sebelum lanjut bantu author dengan like dan rate ya. Jangan lupa koment
Jika berkenan berikan vote juga, ya. Biar author semakin semangat buat nulis. Terima kasih.
__ADS_1
Love u all😘*