Dimadu Tak Semanis Madu

Dimadu Tak Semanis Madu
BAB 24


__ADS_3

Siti menengadahkan tangannya tanpa berkata apa-apa. Dia bingung ingin meminta apa pada sang pencipta. Mulutnya seakan terkunci, kelu.


Bahkan air matanya pun tidak menetes meski hatinya terasa sangat perih. Permintaan Lee untuk menikahi Naura terus terngiang di kepalanya.


"Apakah kamu mengizinkan aku, jika aku meminta untuk menikahi Naura?"


Itulah yang Lee katakan subuh tadi.


Perlahan tangan Siti turun. Wajahnya nampak kalut. Tatapannya tidak bisa di tebak.


"Ya Allah ... aku tidak ingin di poligami" Lirihnya.


"Sayang ...."


Suara Lee mengangetkan Siti. Lee yang terlihat sedang menggulung lengan kemeja kerjanya tengah berdiri di belakang Siti.


"Eh, Lee. Sudah pulang."


Masih dengan mukena, Siti menghampiri suaminya, mencium punggung tanganya. Sebuah kecupan mampir di kening dan bibir Siti dari Lee.


"Kamu jam segini belum mau bersiap solat ashar?"


"Hmm?" Siti seolah bertanya.


"Ini jam berapa? kenapa pake mukena? nunggu solat ashar?"


"Memangnya jam berapa sekarang?"


"Jam 14.46"


"Apa?" mata Siti membulat sempurna. Dia segera membuka mukenanya, lupa akan baju yang dia kenakan bukanlah gamis. Melainkan celana super pendek dan kaos oversize yang malah terlihat seperti Siti tidak memakai celana.

__ADS_1


Lee tidak mengedipkan mata melihat pemandangan indah di depannya, setelah penat bekerja. Seperti oase di gurun Sahara.


Bagaimana Lee tidak terpana. Ini kejadian langka. Karena biasanya Siti memakai gamis meski di rumah, sedangkan saat hendak tidur, dia memakai lingerie. Tapi dengan Siti berpakaian seperti sekarang ini, membuat dia terlihat sangat sexy dan menggoda.


"Kamu kenapa Siti?"


"Aku lupa belum masak."


Lee mengernyitkan dahi. Tidak biasanya Siti lupa menyiapkan makan untuk Lee saat pulang kerja.


Siti menguncir rambutnya yang indah. Membuat Lee semakin terpana melihat tengkuk Siti yang putih dan sedikit di tumbuhi rambut halus.


"Biarkan saja."


Siti terperanjat. Dengan Lee yang tiba-tiba berbisik di belakang telinganya. Tangan Lee kini telah melingkar di perut Siti.


Sesekali Siti menggeliat, menahan geli saat Lee meniup tengkuk dan belakang telinganya penuh gairah.


Namun Lee kini semakin nakal. Di tidak hanya meniup, tapi mengecup bagian-bagian leher Siti.


"Tidak Lee! Jangan!"


Siti segera melepaskan diri dari dekapan Lee. Dapat terlihat jelas guratan kecewa di wajah Lee.


"Maaf Lee. aku tidak ingin melakukan ini, jika dalam bayanganmu ada Naura."


Lee mematung. Tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.


"Maksudmu?"


"Aku takut, aku takut ... saat kamu bersamaku tapi Naura yang kamu pikirkan."

__ADS_1


"Sepicik itukah kamu Siti?"


"Ya! aku tau kenapa kamu tidak bisa melepaskan dia? dan aku tau kenapa kamu begitu sulit kehilangan diriku."


Lee mendengkus kesal. Di simpannya kedua tangan di pinggang nya.


"Apa? jelaskan kenapa?"


"Jika aku pergi, kamu hiduplah dengan Naura. Jika semakin kalian sering bersama, makan aku perlahan akan hilang dari hati dan pikiran kamu, Lee."


"Cinta yang kamu miliki saat ini untukku, itu hanya karena kamu terbiasa setiap hari melewati waktu bersamaku. Bukan karena cinta yang memang tumbuh dari hati, aku ...."


"Dasar wanita kampung! jika tidak tau apa-apa, lebih baik diam!" Lee berteriak.


"Jika masalah hati sesimpel itu, dari dulu aku sudah meninggal kamu dan menikah dengan Noura."


"Tapi aku tidak ingin di madu!" Suara Siti tidak kalah kerasnya.


"Jika kamu ingin menikahi Naura, ceraikan aku!!!" Siti kembali berteriak, di ikuti Isak tangis yang sedari tadi dia bendung.


Tubuh Siti ambruk. Dia menangis sejadinya di atas lantai. Tubuhnya seolah bersujud.


Sementara Lee masih tetap berdiri. Mematung melihat Siti yang kini tengah menangis keras.


"Aku minta cerai. Aku tidak ingin berbagi suami dengan wanita lain." ucapannya, di sela-sela Isak tangis.


Lee memijat keningnya yang mungkin akan meledak.


"Argh!"


Lee pergi meninggalkan Siti yang masih terkulai lemas karena tangisan.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2