Dimadu Tak Semanis Madu

Dimadu Tak Semanis Madu
BAB 37


__ADS_3

"Hallo, Mam."


"Iya Lee. Kenapa? kamu jadi pulang?"


"Aku di bandara sekarang. Bagaimana keadaan istriku."


Naura melirik sinis saat Lee mengatakan itu.


"Dia sedang pergi bersama Erlangga. Eyang meminta Erlangga membujuk Siti agar dia mau makan dan bicara. Sekarang mereka sedang pergi makan ke luar."


"Erlangga?"


"Iya. Oh, iya Lee. Nanti bawa wanita itu ke rumah yang sudah Mama sewa. Jangan bawa dia ke rumah kita. Mama tidak ingin Siti kenapa-kenapa lagi."


"Hmm."


Dengan wajah yang kesal, Lee menutup pembicaraannya di telepon dengan Bu. Han.


Hatinya dipenuhi amarah. Wajahnya merah padam. Tangannya mengepal kuat.


Kenapa Eyang meminta Erlangga untuk membujuk Siti? itu yang Erlangga inginkan selama ini. Lee membatin.


"Argh! sial!" Lee membating ponselnya hingga rusak. Naura tersenyum penuh kemenangan. Itulah yang dia inginkan. Siti dekat dengan Erlangga, dan Lee akan sangat marah karenanya.

__ADS_1


****


"Maaf. Aku tidak bisa melindungimu tadi."


"Te nanaon Aa. Bukan salah Aa juga. Ini mah kecelakaan namanya." // gak apa-apa Aa ....//


"Aku merasa bersalah. Rambut yang selama ini kamu lindungi harus ...."


"Udah A. Gak apa-apa kok." ucap Siti, tanganya dengan lembut mengusap punggung tangan Erlangga yang sedang menyetir.


Erlangga terpana. Sejenak di tidak mengalihkan pandangan dari tangan yang baru Siti sentuh. Dia segera tersadar. Dengan gugup dia berusaha fokus kembali pada jalanan. Bagaimanapun juga dia tidak ingin Siti tau tentang perasaannya. Selain takut Siti akan menjauh.


Hampir satu jam perjalanan. Akhirnya mereka sampai. Erlangga membukakan pintu untuk Siti. Tangannya melindungi kepala Siti saat wanita itu hendak turun.


Betapa terkejutnya mereka berdua saat melihat Lee sudah berdiri di depan pintu. Dengan muka masam, kedua tangan yang masuk ke dalam saku celana.


Siti yang memang sudah sangat merindukanmu suaminya, melepas paper bag belanjaannya. Berlari menghampiri Lee. Berhambur dalam pelukan Lee. Dengan erat dia mendekap suaminya.


Tidak terasa air matanya mengalir deras. Melepas rindu yang membuncah. Begitupun dengan Lee. Amarah yang tadi hampir membuat dadanya meledak, kini sirna sudah.


"Aku sangat merindukanmu sayang ...."


"Aku juga Lee. Jangan pergi lagi, hatiku tidak bisa lama-lama jauh darimu."

__ADS_1


"Tidak akan. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu untuk apapun." ucap Lee penuh tekanan, matanya menatap tajam ke arah Erlangga. Seakan dia ingin menekankan sesuatu pada laki-laki berbibir seksi itu.


Erlangga hanya bisa terdiam. Berusaha mengatur nafasnya yang terasa sesak dan berat. Bagaimana tidak, dia harus menyaksikan adegan yang tidak pernah dia ingin lihat.


Entah sengaja atau memang karena rasa rindu. Lee mendaratkan sebuah ciuman di bibir merah milik Siti. Bahkan dia terkesan begitu nafsu.


Sadar akan kehadiran Erlangga. Siti segera melepas ciuman mereka. Merapikan bibir dan hijabnya. Lalu berbalik arah, melihat Erlangga dan tersenyum padanya.


"A, terimakasih ya untuk hari ini. Ayo kita masuk dulu."


"Tidak perlu. Aku juga ada urusan lain. Ini ...."


Erlangga mendekat dan memberikan belanjaannya pada Siti.


"Terimakasih A."


"Sama-sama. Aku pulang ya ...."


"Hati-hati di jalan A. Jangan ngebut."


Erlangga mengangguk dan tersenyum. Dia berjalan meninggalkan Siti dan Lee dengan rasa kecewa dalam hatinya.


to be continued

__ADS_1


__ADS_2