Dimadu Tak Semanis Madu

Dimadu Tak Semanis Madu
Bonus #3


__ADS_3

..."Hanyalah dirimu, yang bermain di dalam khayalku, tak sanggup aku melupakan. Aku tak sanggup...


...Mungkin sampai nanti, rambutku pun kusam dan memutih, Namun cintaku padamu takkan berubah."...


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Saat hati ini rindu. Saat raga ini butuh, dan saat jiwa ini terjatuh karena rindu yang tiada terperi pada sosok yang tidak lagi bisa ku gapai, hanya lantunan doa yang bisa ku panjatkan.


Setiap selesai magrib. Aku tidak pernah sekalipun meninggalkan Al Qur'an, ku baca surah Yasin sebagai salamku pada imam yang sudah ada jauh di sana.


Ku titipkan rindu pada sang illahi, ku panjatkan doa meminta agar dia selalu ada di tempat yang paling indah. Di surga.


"Bunda ... boleh masuk?" suara kecil itu menunggu di balik pintu kamar yang tertutup. Menunggu tak berani masuk sebelum aku memberi izin.


"Iya, Nak. Masuklah." Dia muncul dengan piyama tidur motif bulan bintang berwarna navy. Wajahnya tersenyum, itulah kekuatan hatiku selama ini.


Malaikat kecilku menyodorkan tangan, meminta untuk Salim dan kucium. Ku ucapkan doa agar dia menjadi anak yang salih, meniupkan tepat di ubun-ubunnya.


"Sini, duduk." aku memberi dia isyarat agar duduk di pangkuanku. Dengan sumringah dia menghampiri dan duduk di pangkuanku.


"Malam ini, boleh tidak bobo sama Bunda?" pintanya ragu. Aku tahu, dia mungkin takut aku tidak mengizinkan. Aku selalu meminta dia tidur di kamar sendiri, Erlangga bilang anak laki-laki harus berani, kelak jika anak dia sudah sekolah akan menyuruhnya tidur terpisah. Dan aku melakukan apapun yang dulu pernah dia inginkan.


"Kenapa? kan anak laki-laki itu harus berani. Biar bisa jagain bunda kalau udah gede nanti."

__ADS_1


"Enggak takut kok ...." dia tidak ingin aku menganggapnya penakut. "Aku kangen sama bunda." tiba-tiba wajahnya sendu saat dia menengok ke arahku.


"Boleh, malam ini saja, ok."


"Okeh." dia mengacungkan kedua jempol tangannya.


"Bobonya setelah salat isya, ya. Tadi, udah magrib belum?"


"Udah, sama om."


"Pinter banget sih anak bunda ... makin sayang deh kalau gini." aku menggodanya. Mencubit pipi dan menggelitik perutnya. Aksa yang memang tidak tahan geli, langsung tertawa dan berusaha kabur. Apalah daya, dia hanya anak kecil yang tidak bisa mengalahkan tenagaku.


"Ampun. Bunda ... Ayah, tolooong." teriaknya di sela-sela tawanya yang membahana. Untuk sesaat aku tertegun. Ya ... andai ada Erlangga, mungkin suasananya akan berbeda saat ini. Ya Allah ... kuatkan hamba. Segera ku tepis rasa itu, aku kembali menggoda Aksa. Kami tertawa dan berlarian kesana kemari. Mencoba untuk bahagia.


"Sayang, kalau anak kita laki-laki jangan lupa ajarkan dia salat dan ngaji, biar bisa mendoakan kita kalau kita sudah menghadap illahi." Erlangga mengelus perutku yang sudah semakin besar. Mengelus dan mencium perutku adalah hal yang paling dia sukai. Bahkan, dia bisa sampai tertidur memeluknya.


"Kalau perempuan memangnya kenapa? semua anak 'kan harus di ajarkan itu."


"Iya, tapi dia ini jagoan. Kalau tidak dididik dengan ilmu agama, takutnya gak bisa mengontrol sikapnya."


"Iya, sayang. Kita akan ajarkan dia tentang ilmu Allah. Kamu harus ajarkan dia salat, ajarkan dia menjadi imam yang baik."


"Hmm." Erlangga yang sedang memeluk perutku bangun, mendekat dan menatapku tajam. "Sayang, berbahagialah meski suatu saat tidak ada aku yang menjagamu. Hidup harus terus berjalan. Melupakan aku mungkin akan sulit. Tapi tidak mengikhlaskan kepergian ku jauh lebih sakit. Jangan mendustakan kehendak Tuhan, dengan begitu kamu akan merasa lebih ringan melangkah."

__ADS_1


"Jangan bilang seperti itu, aku tidak akan pernah sanggup bila berpisah sama kamu, jangan bicarakan hal ini lagi, aku tidak suka."


"Takdir Allah itu indah jika kita bisa legowo. Kita tidak pernah tau apa rencana-Nya. Tapi sebaik-baiknya rencana adalah kehendak Tuhan, bukan kita. Bismillah dan yakin. Cobalah untuk berbahagia ...."


"Tapi, sayang ...." aku melihat dia tersenyum begitu manis. Wajahnya terlihat sangat tampan, sama seperti saat pertama aku bertemu dengannya dulu, dimana dia membangun jalan di desaku. Hanya saja, kenapa pandangan ini semakin kabur?


Tubuhku terasa terguncang. Samar-samar aku mendengar seseorang memanggil. Perlahan kesadaranku pulih, aku segera membuka mata saat mendengar suara Aksa.


"Bun ...."


"Ada apa sayang?" aku berbalik. Dan melihat dia sedang terduduk.


"Mau minum. Tapi, tidak ada air di kamar ini. mau keluar takut."


"Astaghfirullah ...." kuusap wajahku. Ternyata aku hanya mimpi bertemu dengannya. Ya Allah ... terima kasih. Kerinduanku sedikit terobati meski bertemu dengannya hanya dalam mimpi.


"Sebentar, ya. Bunda ambil airnya dulu." Aksa mengangguk. Ku turunkan kaki dari ranjang. Memakai sandal dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Entahlah, hatiku terasa bahagia. Tanpa sadar senyuman terus menghiasi wajah ini. Pelukannya terasa begitu nyata, tatapan matanya membuat jantungku berdegup kencang.


Tangan ini mengelus perut yang tadi dia cium. Kenapa? kenapa semua masih sangat terasa. Aku akan bersujud sukur andai setiap malam aku bermimpi seperti ini. Bertemu dengannya dan mengobrol seperti saat dai benar-benar masih bisa ku sentuh.


Bersambung ....


__ADS_1


__ADS_2