
Sakit rasanya kepala ini memikirkan segalanya. Kenapa semua yang terjadi padaku begitu mengenaskan.
Laki-laki yang mencintaiku, semuanya pernah menyakiti begitu dalam. Aku tidak meminta mereka menjadi sempurna. Aku hanya ingin kejujuran dan ketulusan. Mereka tulus, hanya saja cara mereka mencintaiku salah.
Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?
Kondisi Erlangga membaik. Dia sudah mau tertawa dan ceria seperti sedia kala. Hanya saja dia masih menolak untuk bertemu dengan Lee.
Hujan turun begitu deras sore itu. Langit sudah pasti mendung. Orang-orang yang memang tidak banyak yang lewat semakin sepi.
Semakin lama semakin berkurang, hanya menyisakan tetesan-tetesan air dari genting dan dedaunan. Sesekali terdengar petir yang seperti ada jauh di sana.
Mataku masih asik memandang keluar. Melihat pepohonan dan jalanan yang basah. Terkadang aku mengusap lenganku kasar karena dingin.
Aku melirik ke arah nakas di belakang tempatku berdiri. Ponselku berbunyi. Enggan rasanya untuk berjalan. Aku tidak ingin merusak suasana saat itu. Tenang.
Ponsel kembali berbunyi. Dengan enggan aku terpaksa melangkah. Terlihat sebuah nama di layar.
"Mami?" segera ku angkat tergesa. "Halo, Mami."
"Mami restui kamu jika ingin rujuk bersama Lee. Mami juga sudah bilang sama Aksa. Hanya saja, Mami butuh waktu sendirian, Entah sampai kapan. Jaga Aksa baik-baik."
Tuuuut ....
__ADS_1
Ponsel mati begitu saja tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutku.
Tok tok tok
"Bun, boleh masuk?"
"Ya, sayang." segera ku simpan ponsel, dan menunggu Aksa masuk ke kamar. Dia masuk dengan wajah yang merona.
"Bun, aku pinjem ponsel Om Zidan, minta papi untuk temenin aku makan. Kan udah janji mau beliin Burger." ucapnya bersemangat. Aku hanya mengangguk dengan seulas senyuman.
Tak lama kemudian Lee datang saat aku dan Zidan sudah siap. Menunggu di depan rumah. Begitu keluar dari mobil, Lee di sambut hangat Aksa yang berlari dan menghambur dalam pelukan Lee. Aksa yang di angkat melayang ke atas oleh Lee, tertawa lepas dengan begitu riang. Pun dengan Lee. Tawanya mengembang. Melepas kerinduan setelah beberapa hari di tolak keberadaannya oleh Aksa.
"Papi kangen sama kamu, jagoan." ucap Lee sambil mendekap erat Aksa dan di balas sebuah kecupan hangat.
"Tidak apa sayang. Kamu udah benar, melindungi Bunda. Dan Papi bangga sama kamu." mereka melepas kerinduan dengan berpelukan erat.
"Kalau pelukan terus, kapan kita makannya. Yuk ah!" ucapku mencairkan suasana.
Mereka berdua tertawa. Aksa segera masuk ke kursi belakang. Aku dan Lee duduk di depan.
Membelah jalanan ibu kota yang padat. Aksa asik dengan YouTube nya. Melihat mainan yang dia suka. Beberapa kali Lee melirik, mencuri pandang padahal aku bisa melihatnya dengan jelas.
"Ada apa? kenapa dari tadi melirik terus?" tanyaku. Dia tetap fokus pada jalanan.
__ADS_1
"Baju itu." aku menoleh lalu melihat baju yang aku kenakan. Aku takut ada sesuatu yang salah dengan baju yang ku pakai.
"Itu baju seserahan kita dulu. Baju itu tidak pernah kamu pakai dengan asalan 'takut rusak', kenapa sekarang dipakai?"
Pertanyaan Lee memuat aku salah tingkah. Jujur, tidak ada maksud apa-apa dengan aku memakai baju ini. Hanya saja, secara kebetulan baju ini senada dengan warna baju yang Aksa pakai. Apa yang harus aku katakan pada Lee?
"Tidak perlu dijawab."
"Aku suka sama baju ini. Warnanya senada dengan yang Aksa pakai."
"Begitu juga dengan bajuku." aku membulatkan mata. Dan akhirnya aku sadar baju kami mempunyai warna yang sama. Tidakkah orang pikir kami memang satu keluarga utuh yang bahagia? biarlah ....
Sampai di tempat makan yang di tuju. Seperti biasa, Lee menggendong Aksa. Dan aku hanya tersenyum mengekor di belakangnya.
Apapun yang orang kira dan orang katakan, mulai sekarang aku hanya ingin fokus pada kebahagiaan Aksa. Itu saja.
Dengan siapa aku hidup, yang penting Aksa bahagia. Aku yakin itu yang Erlangga inginkan. Aku lupa satu hal, aku harus ke makam Erlangga. Banyak yang ingin aku tanyakan dan aku ceritakan padanya.
Mas, semoga kamu bahagia disana. Aamiin....
Hai semua... maaf ya, aku baru sempet up lagi. Minggu ini libur panjang, jadi waktuku habis sama keluarga. Fokus sama anak dan bapaknya anak. xixixi
Semoga kalian masih setia menunggu. Ikuti terus ya kisahnya. Besok, kalau tidak ada halangan akan up setiap hari. Terima kasih Readers 🤗🤗🤗😍
__ADS_1