Dimadu Tak Semanis Madu

Dimadu Tak Semanis Madu
Bonus #7


__ADS_3

..."Haram, haramkan aku. Bila aku jatuh cinta. Tuhan pegang hatiku agar aku tak jadi melanggar. Aku cinta pada dirinya, cinta pada pandang pertama. Hanya Tuhan yang bisa jadikan yang tak mungkin menjadi mungkin."...


...🌺🌺🌺🌺🌺...


POV Johan


Sejenak aku terkesima, melihat bidadari-bidadari yang berpijak pada tanah bumi. Pesonanya berhasil membuat jantungku nyaris terhenti sesaat. Hingga aku tersadar bahwa dia hanya manusia yang kecantikannya bak bidadari.


Wanita berhijab dengan mata indah itu adalah Ibu dari anak yang selama ini dekat denganku. Anak laki-laki, teman satu kelasnya Gisel.


Pertanda apakah ini, kenapa begitu kebetulan. Tidak ada niat dibalik kebaikan yang selama ini aku lakukan. Dan lihat? aku mendapatkan lebih dari apa yang disebut "pamrih."


Sejak pertemuan itu, hampir setiap malam bayangan wajahnya mengganggu aktifitas tidurku. Senyumannya selalu saja terbayang saat mataku terpejam.


"Aarghh! ada apa ini? kenapa dia menghantuiku," gerutuku saat mata ini benar-benar tidak mau tertutup.


Aku mencoba meminum segelas susu hangat, berharap akan segera mengantuk. Namun, apa yang terjadi? bahkan aku melihat bayangan dirinya ada di rumahku.


"Gila! ini benar-benar membuatku bisa gila. Astagah." ku gelengkan kepala kasar. Berharap dia enyah dari kepalaku. Tidak ada hasil, nihil. Dia masih saja terngiang di dalam pikiranku.


Sore itu, bagai mendapatkan jalan saat Gisel merengek meminta bertemu dengan Aksa. Tanpa berpikir panjang aku langsung bilang iya.


Segera mandi dan berdandan. Entah berapa kali aku harus berganti pakaian. Sial! kenapa tingkahku seperti remaja yang baru jatuh cinta?


"Papi, buruan. Kenapa lama?" bidadari kecilku menggedor pintu kamar dengan begitu keras. Aku tidak ingin ketahuan olehnya. Segera menyelesaikan dandan dan menghampiri dirinya.


"Mau bawain apa buat Aksa?" tanyaku saat di salam mobil menuju rumah Aksa. Ah, bukan. Maksudku rumah wanita itu. Ish, sama saja.


"Gak tau, aku bingung. Terserah ayah aja."


Gadis kecil ini semakin membuat aku bingung. Mana mungkin aku kesana dengan tangan kosong.


Saat melintas dijalan. Aku mihat ada toko bunga. Hatiku tergerak lalu pergi menuju toko itu.


"Silahkan, Pak. Mau beli bunga apa?"

__ADS_1


"Saya, tidak mengerti apa yang harus saya beli." geli rasanya mengatakan hal itu. Aku CEO yang tidak pernah memiliki jiwa labil, bisa berubah beribu-ribu derajat hanya karena senyuman seorang wanita. Sial!


"Mawar saja, Pak. Wanita rata-rata menyukai bunga mawar." pemilik toko itu membedakan saran.


"Baiklah. Tolong tata yang rapi dan bagus, ya."Sebuah bucket bunga mawar merah yang cukup besar untuk Ibunya dan parsel buah untuk anaknya, yang suatu nanti akan menjadi anakku juga. Hahaha, ngarep! tak apa dong, namanya juga cita-cita.


Sepanjang perjalanan, aku merasa gelisah. Jemari tanganku terasa dingin, jantungku berdetak tidak beraturan. Kadang terasa berhentilah berdetak. Namun, suatu waktu dia berdetak begitu cepat. Ya ampun! kenapa aku merasa seperti anak muda yang sedang jatuh cinta? tapi bukannya aku juga sedang jatuh cinta? Masa iya, baru pertama bertemu sudah jatuh cinta, sih?


Lagi pula, kenapa dia begitu cantik, Tuhan.


"Papi, kenapa senyum-senyum sendiri?" pertanyaan gadis kecilku, membuat aku terhenyak. Rasanya malu sekali, apa dia tau perasaanku?


"Enggak, kok. Siapa yang senyum-senyum."


"Papi."


"Masa?"


"He-em." dia kembali melanjutkan fokusnya pada layar ponsel. Ah, dia kenapa peka banget?


"Papi, emang tau alamat rumah Aksa?" sekali lagi pertanyaan dia membuatku terhenyak. Bagaiman bisa kami melakukan perjalanan tanpa tau dimana tempat yang akan kami tuju.


Tidak lama berselang, pesan balasan datang. Kubaca alamat yang tertera di layar. Begitu yakin aku tau alamat itu, segera menyalakan mobil dan melaju dengan tidak sabar ingin segera bertemu.


Ingin segera melihat wajahnya, aku begitu rindu.


Saat sampai di rumahnya, kami di sambut oleh pembantu di rumah itu, hingga akhirnya aku dan Gisel di persilahkan masuk.


Begitu melihatnya, jantungku yang semula berduet cepat, untuk sesaat terhenti. Sesak. Aku sampai tidak bisa berkata apapun.


Ngobrol sebentar, hingga dia mengajakku ke tempat lain. Ingin ngobrol berdua katanya.


Jujur saja, aku berusaha sekuat tenaga menyembunyikan rasa gugup. Mengeluarkan lelucon yang aku rasa itu sangat garing.


Eh, tapi dia tertawa. Astaga, kenapa dia begitu terlihat semakin cantik?

__ADS_1


"Bukan itu inti permasalahannya. Yang aku tidak suka adalah, bahwa Aksa bilang ayahnya bisa tergantikan oleh dirimu. He he he. Aku sedikit sakit mendengar itu ... Jujur saja, sampai saat ini tidak ada yang bisa menggantikan posisi Erlangga di hati kami."


Aku tidak mengerti saat di berkata. Yang aku tahu, ada perih tanpa darah dalam dada. Laki-laki seperti apa yang begitu istimewa, hingga bisa membuat wanita itu begitu mencintainya. Erlangga, pesona apa yang kamu miliki, aku begitu iri.


Aku tidak ingin dia salah faham, meski sebenarnya aku memang ingin menjadi ayah sambung untuk anaknya. Tapi, tidak seperti ini caranya. Aku ingin dia benar-benar bisa membuka hatinya dengan sikap dan ketulusan yang aku beri.


"Kami atau kamu?" pertanyaan itu meluncur begitu saja. Gemas rasanya karena dia terlalu egois menurutku.


"Maaf?" dia kaget. Senyum yang tadi seulas menghias wajahnya kini hilang.


"Kamu boleh menyimpan mendiang suamimu di dalam hati. Tidak ada yang akan bisa memaksa untuk menghilangkan dia dari hati dan ingatanmu. Itu pasti. Hanya saja tidak dengan Aksa. Bagaimanapun juga dia masih anak-anak yang menginginkan sosok ayah di sisinya."


"Johan ...." dia menahan amarah.


"Terlepas siapa yang akan menjadi ayah sambung Aksa. Siapapun itu, intinya Aksa butuh sosok ayah. Mungkin kamu sibuk dengan perasaan diri sendiri tanpa mau melihat lebih dalam pada hati Aksa."


"Dia anak saya, Jo." bibirnya mulai bergetar. Tapi aku tidak perduli. Aku terus berbicara, semoga dia bisa mengerti dan faham.


"Gisel dan Aksa punya cerita hidup yang sama. Keinginan mereka sama, memiliki orang tua yang utuh. Hanya saja, sampai saat ini saya masih belum menemukan wanita yang tepat untuk dia. Saya berusaha mencari, tapi kamu bahkan menutup pintu hati untuk semua orang. Itu perbedaan kita."


Dia terdiam. Aku tau, dia membenarkan apa yang aku katakan tadi. Karena itulah kenyataannya. Dia terlalu sibuk dengan hatinya, tanpa memikirkan apa yang jadi keinginan anaknya.


"Saya tidak pernah mengatakan apapun pada Aksa. Tidak pernah sekalipun membujuk dia untuk bisa menerima kehadiran saya. Tapi, dia sendiri memiliki keinginan untuk itu."


Dia mengernyitkan dahi. Kenapa dia seperti heran dengan apa yang aku ucapkan. Apa dia merasa aku terlalu buru-buru? Oh, tidak aku tidak bermaksud.


"Oh, jangan salah faham. Maksud saya, Aksa bukan menginginkan saya, dia hanya menginginkan ayah. Itu saja."


"Maaf, tapi saya harus masuk."


Aku hanya bisa menghela nafas saat dia pergi begitu saja. Entah salah atau tidak, tapi dia harus sadar. Anak yang sedari kecil tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, dia pasti akan mempunyai keinginan itu, merasakan kasih sayang sosok ayah.


Aku tau, dia pasti menjadi ibu yang baik. Namun, dia lupa bahwa dia tidak bisa menjadi sosok ayah untuk anak laki-laki nya.


Aku masuk ke dalam. Mengajak Gisel pulang setelah berpamitan pada Aksa dan Zidan. Datang ke rumah ini begitu bahagia dan tidak karuan, sekarang pulang dengan rasa bersalah dan sedih yang berbarengan.

__ADS_1


Saat mobilku melaju, aku berpapasan dengan mobil yang terparkir di depan rumah yang tidak jauh dari rumah Aksa. Aku melihat ada seorang laki-laki di dalamnya. Tidak aneh jika itu terjadi, siapa tau dia pemilihan rumah itu. Yang membuat aku sedikit bertanya adalah tatapannya padaku. Sinis dan terlihat penuh amarah. Why?


Bersambung ....


__ADS_2