
"Apa dia tidur?" tanyaku pada Lee. Dia yang sedang duduk di luar kamar. Membuka kaki dengan sikut yang dia simpan di lutut. Menatap lurus ke depan, menatap taman rumah sakit.
"Hem. Zidan ada di dalam." aku duduk di sampingnya. Dia menghela nafas panjang. Ada segurat kesedihan di dalamnya. Bagaimanapun juga dia sudah sangat dekat dengan Aksa. Pasti sakit rasanya tiba-tiba Aksa menolak kehadirannya.
Mungkin dengan mengusap pundaknya bisa sedikit meringankan beban hati Lee saat ini. Dia merespon dengan melirik ke arahku sekilas.
"Maaf. Lee, aku minta maaf atas nama Aksa. Dia sudah membuat kamu sedih."
"Untuk apa? dia tidak harus minta maaf. Dia hanya anak kecil yang mempunyai keinginan, dan itu tidak salah."
"Penolakannya pasti membuat kamu sedih, bukan?"
"Aku sedih kenapa harus Aksa. Kenapa dia harus ada di posisi tertekan seperti sekarang. Siti, kamu tau berapa usianya saat ini, apa harus anak sekecil itu memiliki masalah yang bahkan orang dewasa pun pasti akan sangat stres di buatnya."
"Aku tau, aku tersiksa dengan keadaan ini. Hanya saja, kita tidak punya pilihan. Yang harus kita pikirkan saat ini adalah solusinya."
"Andai. Andai saat itu aku tidak menalakmu, apa ceritanya akan berbeda? mungkin ... mungkin hidup kita akan bahagia bukan? mungkin, anak kita sudah besar."
"Lee ...."
"Aku tidak pernah sedikitpun tidak menyesal tentang kejadian itu. Setiap kali aku ingat, aku selalu menangis. Kenapa harus ada kata menyesal di dunia ini? yang lebih parahnya lagi, tidak ada cara untuk kita kembali pada masa-masa itu."
"Lupakan semua Lee, agar hidupmu bisa bahagia."
"Itulah kenapa aku ingin menjadamu dan Aksa. Erlangga memberikan pesan terakhirnya untukku menjaga kalian. Setiap hari aku mengendap memperhatikan kalian. Kau tidak bermaksud menguntit, aku hanya ingin memastikan kalian aman. Kamu tau, apa yang paling Erlangga khawatirkan?"
Aku terdiam menyimak apa yang akan dia ucapkan selanjutnya. Aku tidak bisa menangis lagi. Mataku terasa berat dan terasa bengkak, hingga pandanganku pun sedikit terbatas.
"Dia bilang, dia takut kalian tidak aman, dia takut kamu kembali tertekan sama seperti aku meninggalkan kamu dulu. Mungkin karena saat itu Erlangga yang tau bagaimana keadaanmu stelah kita bercerai."
Sakit itu kembali hadir dalam hatiku. Bagaimana terpuruknya diri ini ditinggalkan dua laki-laki yang paling aku cintai secara bersamaan.
"Dan sekarang, giliran aku yang akan menjagamu saat Erlangga pergi. Hanya saja, aku banyak mendapatkan rintangan. Selain penolakan darimu. Kini, Tante sendiri tidak ingin kita dekat apa lagi bersatu kembali."
"Saat Bapak pergi. Aku sangat berharap kamu datang, menemani dan memeluk diriku di setiap aku terisak menangisi kepergian Bapak. Aku sadar, kita sudah resmi bercerai saat itu. Hanya saja, aku masih selalu berharap kamu akan datang dan muncul dari balik pintu."
Lee menoleh. Matanya nanar.
"Semua sudah berlalu, Lee. Tidak ada gunanya kita terus terjebak di masa lalu. Kita hidup maju ke depan, bukan mundur ke belakang. Jalani saja. Kita hanya harus menerima dengan ikhlas. Karena Allah selalu tau apa yang terbaik untuk umatnya."
__ADS_1
"Oooh ... jadi begini kalian di belakang saya!"
Aku dan Lee menoleh ke sumber suara bersamaan.
"Mami?" aku dan Lee langsung berdiri.
"Perempuan tidak tau diri. Saya sudah bilang sama kamu, jauhi dia. Kenapa kamu malah berduaan bahkan di saat anak kamu terbaring sakit."
"Dia sakit karena ulah Tante, bukan karena kesalahan Siti ataupun saya."
"Lee ...."
"Berani kamu sama saya? tau apa kamu tentang cucu saya? kamu itu bukan siapa-siapa, Lee."
"Saya memang bukan siapa-siapa. Tapi saya lebih tau tentang Aksa daripada Tante yang mengaku sebagai neneknya."
"Lee, udah ...." aku berusaha menenangkan Lee. Dia menarik tanganku agar berdiri di belakangnya.
"Hah! berusaha jadi pelindung kamu?" tanya Mami sinis saat aku berlindung di belakang tubuh Lee. Lee melihat ke arahku, memintaku masuk ke dalam.
"Jaga Aksa, jangan biarkan di mendengar semua ini. Aku takut dia akan semakin tertekan." Aku mengangguk. Segera masuk dan menutup pintu. Aku melihat Zidan sedang mengaji di samping Aksa.
"Semoga ayat Alquran ini bisa menyamarkan suara mereka di luar." ucapnya. Aku mengangguk. Aku mendekap tubuh Aksa.
Masih terdengar suara Lee dan Mami berdebat. Lee berusaha meredam amarah Mami. Namun, Mami yang memang tempramental tidak bisa menyadari dirinya sedang da di rumah sakit.
"Hentikan! berhak apa kamu sama Siti sampai mengatur harus dengan siapa dia menikah? dia itu bukan siapa-siapa lagi bagimu. Sadarlah! kebaikan hati Siti yang masih mau hidup denganmu."
Mama Han? itu suaranya. Apa dia juga datang bersama Eyang?
Aku semakin mendekap erat tubuh Aksa.
"Kenapa kamu tidak ingin Lee dan Siti kembali bersama? mereka masih saling mencintai! lagi pula, kalau bukan karena ulah Erlangga, Siti kini masih jadi menantu kesayanganku." ucap Mama. Aku sedikit bingung dengan apa yang Mama ucapkan.
"Mama, cukup. Siti ada di sini." pinta Lee.
"Biarkan, Nak. Sampai kapan kamu menyembunyikannya? Siti juga harus tau agar dia bisa membuka hatinya untukmu, dia sudah mencintai laki-laki yang salah."
"Apa maksudmu? kenapa kamu membawa nama anak saya atas perceraian Lee dan Siti?" tanya Mami.
__ADS_1
"Karena Erlangga yang telah mengirim teror untuk Siti."
Deg!
Jantungku seakan berhenti. Rasanya aku tidak bisa bernafas. Duni seakan berhenti berputar.
"Ya! obsesi anakmu untuk mendapatkan Siti, membuat dia bertindak sangat jauh. Erlangga memanfaatkan keadaan dan meneror Siti sampai Siti hampir gila di buatnya. Itulah kenyataan yang sebenarnya."
"Mama. Cukup aku bilang. Hentikan semuanya. Kalian tidak sadar ada dimana sekarang? ini rumah sakit. sadar dong sana umur kalian."
Hening.
"Mama, Siti ada disini. Tolong, jangan membuat hatinya kembali sakit."
"Apapun ceritanya, aku tidak ingin kamu menjadi ayah dari cucuku. Ingat itu."
"Permisi. Yang mana neneknya Aksa? saya Riyanti. Psikolog yang menangani Aksa saat ini."
Mereka terdiam. Hingga aku mendengar ada kaki yang melangkah pergi. Mungkin itu Mami dan Bu Riyanti.
"Aku sering melihat Kak Lee di sekitar rumah kita, setiap pagi bahkan malam." ucap Zidan.
"Dia mungkin pernah melakukan kesalahan. Tapi cinta dia buat Teteh itu tulus. Hanya keadaan yang membuat dia tertekan dan mengorbankan Teteh." aku memeluk tubuh Aksa semakin erat.
"Oma masih punya tempat spesial di hati kita. Meski Teteh dan Kak Erlangga sudah bukan suami istri, dalam agama Oma tetap mertua Teteh. Tapi dia bukan ibu kandung kita, kan? tanpa restunya pun Teteh bisa menikah dengan Kak Lee."
"Masalahnya bukan itu. Aksa tidak ingin teteh dekat dengan Lee karena dia takut Mami menyakiti teteh, itulah yang membuat Aksa tertekan." aku kembali menangis. "Aksa ingin Lee menjadi ayahnya, tapi dia juga tidak ingin teteh disakiti. Apa yang harus teteh lakukan, Zidan? teteh harus gimana?
"Pergi. Kita pulang kampung. Jauhkan diri teteh dari orang-orang yang menyakiti teteh. Maka, Zidan tidak akan tertekan. Lagi pula udara kampung kita lebih bersih dari ibu kota."
"Rumah itu, tidak bisa teteh tinggalkan. Banyak kenangan teteh bersama Erlanngga."
"Erlangga yang sudah membuat teteh menghancurkan rumah tangga teteh dengan Kak Lee?"
Aku menatap Zidan lekat. Dan terngiang kembali dengan apa yang Mama ucapkan. Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa Erlangga yang melakukan teror padaku? apa dia selidik itu?
Teror itu yang membuat aku memaksa Lee menikah dengan Naura. Dari sana semua masalah berawal.
Mas, apa benar apa yang Mama ucapkan tadi? kenapa Mas? kenapa?
__ADS_1
Bersambung ....