
..."Ku ingin engkau pun mengerti betapa ku mencintaimu dan takut kehilangan dirimu kasih. Dan seandainya kaupun tahu getar-getar yang ku rasakan betapa aku mencintai dirimu."...
......🌺🌺🌺🌺🌺......
POV. Lee
Sakit rasanya hati ini, melihat wanita yang aku cintai begitu mencintai orang lain. Bukan, dia mencintai mendiang suaminya.
Aku masih ingat bagaimana dia mencintaiku dulu. Hanya saja kali ini aku bertanya, apa cinta dia untukku sama besar dengan cintanya untuk Erlangga.
Benarkah aku ingin tau jawabannya? kurasa tidak. Lebih baik aku tidak mengetahui apapun, dari pada mengetahui bahwa rasa cintanya untukku hanya sebagian kecil dari rasa yang dia simpan untuk laki-laki yang bahkan sudah tidak ada di dunia ini.
Penyesalan memang sebuah hukuman yang tidak akan pernah ada ampunnya. Andai saat itu aku tidak menalaknya, andai saat itu aku bisa berpikiran jernih, andai saat itu aku tidak mengambil keputusan terburu-buru. Andai ... Shit! kenapa harus ada kata 'andai' di dunia ini?
Tanganku menggenggam erat pada kemudi mobil yang aku parkiran tidak jauh dari makam Erlanngga. Dimana anak dan istrinya sedang mengunjunginya saat ini. Mengutuk atas kebodohan diri ini.
Aku melihat dia menangis. Ya, itu adalah tangisan rindu untuk jasad yang ada di bawah gundukan tanah. Dia menangis dan hatiku yang terasa perih.
Dada ini selalu terasa sesak setiap kali melihat Siti menangis untuk Erlangga. Rasanya hampir pecah. Sakit.
Seperti orang gila. Setiap hari aku mengikuti kemanapun mereka pergi. Pecundang!
__ADS_1
Aku hanya bisa menjaga dalam jarak yang jauh, aku hanya ingin memastikannya mereka aman dan baik-baik saja. Tidak ada kekuatan untukku mendekat. Lebih tepatnya, aku tidak memiliki hati untukku belah saat menerima penolakan dari Siti.
"Maaf, Lee. Sampai kapanpun aku tidak bisa menerima kebaikan darimu, aku takut akan terjadi fitnah. Bagaimanapun juga, kita ini sama-sama sendiri."
"Kalau begitu jadikan kedekatan kita sebagai ikatan yang halal, agar tidak jadi bahan fitnah orang-orang."
"Aku tidak bisa."
"Ini sudah lama. Erlangga sudah pergi, apakah tidak ada sedikitpun ruang untukku tinggal?"
"Erlangga pergi dari dunia. Tidak dari hatiku."
Aku yang berhasil lulus dengan peringkat terbaik di luar negeri, seorang pengusaha sukses yang memiliki IQ jongkok saat berhadapan dengan Siti. Otakku tidak mempunyai solusi dan cara untukku mendapatkan Siti kembali. Nelangsa!
Saat ini, aku kembali memarkirkan mobil di depan rumah seseorang. Rumah yang masih satu area dengan rumah Erlangga, yang kini menjadi rumah Siti dan Aksa. Memantau dirinya dari kejauhan. Lucu memang, bahkan aku tidak bisa melihat apapun selain tembok pagar rumahnya.
Aku yang sedang santai menatap tembok rumahnya, seketika bangkit saat melihat mobil Siti keluar. Segera aku menyalakan mobil dan mengendap mengikutinya dari belakang.
Mobil itu menyelusuri jalan menuju sebuah mal. Siti, Zidan dan Aksa turun dari mobil setelah mobil mereka terparkir. Aku mengikutinya.
Melihat dia dan Aksa tertawa bahagia, aku merasa senang. Mata itu terlihat berbinar, tidak ada lagi kesedihan di dalamnya. Wajah kemerahannya semakin memerah saat dia tertawa lepas bersama Aksa dan adiknya.
__ADS_1
Tanpa sadar mulut ini ikut tersenyum.
Mereka tampak membeli beberapa peralatan sekolah untuk Aksa. Kemudian mereka memasuki sebuah toko mainan. Dan keluar dengan dua kantong besar. Mungkin itu mainan untuk Aksa.
Setelah lama berkeliling. Mereka berhenti disebuah stand gelato. Aksa dan Siti asik memilih rasa yang akan mereka beli.
Aku merasa kikuk saat Zidan menatapku. Lama kami saling menatap dalam diam. Hingga aku memilih untuk melarang Zidan memberitahu keberadaanku pada Siti. Aku meletakkan telunjuk di bibir, sebagai isyarat agar Zidan tetap diam.
Ah, aku lupa, dia bahkan bukan anak kecil lagi yang akan bicara sesuai apa yang dia lihat. Zidan hanya tersenyum padaku dan memilih mengajak Aksa bercanda.
Bagiku, dia bahagia, dia aman dan baik-baik saja sudah lebih dari cukup. Meski aku tidak tahu sampai kapan aku akan mengendap seperti ini.
Tidak apa. Lagi pula apa lagi yang akan aku lakukan? fokus hidupku memang ada pada dirinya.
Lalu kemana lagi aku menuju?
Bersambung ....
Andai saja Siti tau, betapa besar cinta Lee untuknya. Akan tetapi hati tidak bisa di paksakan. Sebesar apapun Lee mencintai, dia tidak akan bisa memaksa Siti untuk berpaling dari Erlangga yang telah pergi membawa semua rasa yang ada dalam hati Siti.
__ADS_1