
Sepekan sudah berlalu. Luka di telapak kaki sudah kering. Aku bisa berjalan normal kembali. Hanya saja, Lee masih tidak mau mengangkat telepon dariku. Pesan yang ku kirimkan selalu tak mendapat balasan. Bahkan aku berbohong padanya, memberi pesan memakai alasan atas nama Aksa, tetap saja tidak di balas.
Aku mengerti mungkin dia kecewa. Aku memang terlalu bodoh mau menjaga Gisel di kamar hotel. Andai saja bukan karena kebodohan ini, kesempatan Johan melakukan kejahatan padaku tidak akan terjadi.
Semua menjadi berantakan karena aku yang terlalu naif. Itulah yang Zidan katakan. Benarkah aku terlalu plin-plan mengambil keputusan. Lee ataukah Johan?
Selama ini aku hanya ingin berbuat baik pada siapapun yang memang baik padaku. Hanya saja aku lupa akan status yang aku sandang saat ini. Janda.
"Teteh harus segera menikah. Biar ada yang melindungi kita terutama Aksa. Kak Lee baik, tapi tetap saja ada pembatas untuk bisa melindungi Teteh dan Aksa. Kita orang Islam Teh, tidak bisa hidup begitu saja tanpa adanya ikatan." itulah yang Zidan ucapkan padaku saat kami minum teh bersama, malam kemarin.
"Bagaimana aku bisa menerima Lee. Dia sendiri tidak pernah mengatakan apapun padaku." aku segera turun menuju Aksa yang sedang bermain bersama Zidan di bawah. Dia sedang asik bermain pasir ajaib.
"Lee?" aku merasa terkejut saat melihat Lee yang menemani Aksa, bukan Zidan. Ada kebahagiaan terselip di hatiku. Degup jantungku tidak beraturan saat dia menoleh dan memberikan senyuman, lesung pipi nya selalu membuat aku jatuh cinta.
Apakah dia sudah tidak marah lagi padaku?
__ADS_1
Langkah kaki ini terasa ringan. Aku melihat dia tapi tidak mendengar apa-apa. Merasa benda-benda di sekitar menghilang entah kemana. Hanya ada dia yang bisa aku lihat.
"Teh. Teteh." Zidan mengguncangkan tubuhku. Membuatku sadar terlalu fokus pada Lee.
"Ya, kenapa?" tanyaku. Mata ini masih saja fokus pada Lee. Dia menundukkan kepala melihat mainan yang sedang Aksa pegang dengan senyuman setengah meledek padaku. Ah! menyebalkan. Apa dia tau aku begitu terpana? aahhh ... apa dia melihat wajahku memerah?
"Kenapa Zidan?" aku menoleh. Namun Zidan sudah tidak ada di dekatku. Aku mencari ke setiap penjuru. Zidan tetap tidak ada.
Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Bukankah tadi ada Zidan? kemana dia?
"Zidan ingin meminta izin pulang agak malam. Ada acara pengajian yang harus dia ikuti sama temennya." ucap Lee. "Namun sepertinya, kamu terlalu terpana melihatku," ejeknya lagi.
"Maaf." aku mengernyitkan dahi mendengar permintaan maafnya. "Aku tidak mengangkat telpon atau membalas pesan darimu. Maaf."
Aku tersenyum. Lega rasanya, paling tidak dia menyesal membuatku cemas selama sepekan.
__ADS_1
"Aku akan mengajakmu makan malam, ajak Aksa juga. Pakailah baju yang aku beli." Lee melirik kotak emas dengan pita merah maroon yang ada di sofa.
"Nanti supir yang akan menjemput."
"Kenapa supir?" tanyaku spontan. Lee kenali tersenyum penuh kemenangan.
"Apa kami berharap aku yang akan menjemputmu?" tanyanya mengejek.
"Ah, bukan itu. Hanya saja ... ahhh, sudahlah. Naik taxi juga bisa. Aku juga ada supir."
"Naik mobil jemputan. Tepat setelah salat isya. Jangan terlambat."
Lee memalingkan tubuhnya. Mendekati Aksa dan berpamitan pulang setelah mengecup ubun-ubun anakku.
Entah kenapa, saat dia keluar dari pintu, aku merasa kehilangan. Aku tidak ingin dia pergi dari sini.
__ADS_1
Lee ....
TO BE CONTINUE