Dimadu Tak Semanis Madu

Dimadu Tak Semanis Madu
Kepadamu Imamku


__ADS_3

Keajaiban dari cinta mang terasa hayalan semata. Tapi, kadang itu memang nyata adanya.


Keinginan kuat untuk hidup. Semangat untuk melawan segala rasa sakit. Dan doa yang tak pernah putus dari pujaan hati adalah kunci dari bertahannya Erlangga sampai detik ini.


Kanker stadium empat itu bukan main-main. Dimana penderita hanya tinggal menunggu waktu. Tetapi, bukankah maut itu murni kekuasaan Tuhan, bukan karena tubuh yang terus di gerogoti suatu penyakit.


Hari demi hari. Pekan melangkah ke pekan hingga menjadi bulan. Sikap Siti semakin hari semakin menjadi.


Cengeng, selalu mudah tersinggung dan juga sangat manja, terkadang membuat Erlangga sangat kewalahan. Kabar baiknya, fokus Erlangga ada pada Siti saat ini. Dia lupa bahwa dirinya sedang sakit parah. Rasa sakit di kepalanya menyerang tidak sesering dulu. Kejang yang selalu menyertai kini sudah hilang.


"Sayang ... badan kamu bau, aku enggak suka. Jangan deket-deket," rengek Siti manja.


"Masa?" Erlangga mengendus tubuhnya. "Aku baru aja mandi, pake deodorant juga."


"Iyaaa. Tapi, bauuu. Pokoknya jangan bobo bareng'!" menyilangkan tangan didada dengan bibir yang mengerucut.


"Dek, kamu kenapa sih? belakangan ini sering aneh-aneh."


"Enggak suka? ya udah." Siti pergi begitu saja. Masuk ke kamar dan menutup pintu sedikit di banting.


Erlangga menggelengkan kepala seraya tersenyum geli melihat tingkah istrinya.


Malam tiba. Siti masih tidak ingin bertemu dengan suaminya. Dia mengurung diri di kamar.


"Dek, buka sebentar aja. Ini ada paket datang."


"Taroh aja di depan pintu"


"Mas, pengen peluk, sayang. Bukain ...."


"Enggak! pokoknya, Mas bobo di kamar sebelah."


Menarik nafas pendek. " Iya, Mas bobo di kamar sebelah, paketnya Mas simpan di sini."


Siti bangkit. Dia menguping di pintu. Memastikan Erlangga tidak ada di luar sana. Dirasa yakin, dia membuka pintu. Melirik kesana kemari.


Mengambil paket.


Pintu segera di tutup. Menguncinya. Dia duduk ditepi ranjang. Membuka paket yang dua hari lalu dia beli secara online.


"Ini dia. Besok aku akan menggunakannya."


Dengan wajah yang begitu sumringahnya dan penuh harap, Siti menatap alat tes kehamilan.


"Semoga sesuai harapan, ya Allah."


Siti yang tidak sabar menunggu esok hari, tidur dengan gelisah. Matanya terus saja terbuka. Membayangkan betapa bahagianya jika dia benar-benar hamil.


Hingga rasa kantuk itu hinggap dan Siti tertidur dengan testpack yang masih di tangan.


Azan subuh membangunkan Siti yang sebenarnya masih terasa ngantuk. Menguap lalu meregangkan tubuh.


Pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudu.


"Ya Allah, aku lupa." Siti menepok jidatnya sendiri saat dia lupa, pagi ini akan melakukan tes urine.


Dia bergegas keluar dari kamar mandi. Mengambil testpack yang dia beli secara online kemarin.


"Aaaa ...." Siti menjerit histeris. Membuat Erlangga yang ada di luar panik. Pun dengan pembantu Erlangga. Mereka menghampiri kamar Siti. Menggedor pintu dengan keras.


"Dek, sayang. Ada apa, cepat buka pintunya."


Erlangga yang panik terus berteriak.


Ceklek!


Pintu terbuka.


Erlangga segera menyerobot masuk, membuka pintu semakin lebar.

__ADS_1


"Ada apa? kenapa berteriak?"


Siti bergeming.


"Sayang! jawab. Kenapa?"


Tanya Siti terangkat. Memperlihatkan sesuatu yang membuat dia begitu histeris.


"Apa ini?" Erlangga tidak mengerti.


"Coba sini, bibi lihat."


Seorang memberikan testpack itu.


"Alhamdulillah ...." Si Bibi ikut histeris dengan diikuti air mata.


"Aduuuh! kalian kenapa? coba, ada yang bisa menjelaskan?"


"Neng Siti ... Neng Siti, hamil," ucap Si Bibi terbata-bata.


Terdiam lagi. Erlangga tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.


Kreeep!


Siti memeluk suaminya.


"Kita, akan menjadi orang tua, Mas. Itu artinya, kamu akan jadi seorang ayah."


"Be-benrakah? apa aku-aku akan menjadi ayah, sayang?"


Siti mengangguk.


Erlangga menangis haru. Memeluk erat tubuh mungil istrinya. Pun Si Bibi yang ikut menangis bahagia.


Subuh penuh berkah.


"Ya Allah. Jikapun aku harus menghadap-Mu, izinkan hamba melihat anak hamba lahir ke dunia. Izinkan hamba azan untuk anak hamba nanti. Hanya itu pintaku ya Rabb. Aamiin."


"Aamiin." Siti mengikuti


"Insya Allah, kamu sembuh, sayang. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Kun fayakun. Jika Allah sudah berkehendak, tidak ada kekuatan apapun yang bisa mencegahnya. Percayalah.


"Iya, Dek. Kemarilah." Erlangga memberi isyarat agar Siti masuk ke dalam pelukannya.


Siti yang lengkap dengan mukenanya, merangkak. Menyandarkan tubuhnya di dada Erlangga yang begitu kurus.


Tempat ternyaman bagi dirinya.


...****************...


"Kamu, mau apa sayang? barang kali ada sesuatu yang kamu inginkan?" tanya Erlanngga sepulang dari dokter.


"Enggak ada. Aku tidak ingin apa-apa."


"Biasanya wanita lain kalau hamil, suka ngidam. Kamu, masa enggak, Dek?"


"Mungkin karena umur kehamilan aku sudah melewati masa itu, kamu enggak nyadar, Mas. Kemarin-kemarin aku begitu sensitif?"


"Sadar banget! cengeng, sensitif dan pemarah. Enggak mau deket-deket aku. Kalau sekarang, masih enggak mau deket-deket?"


"Hmm." Siti merajuk.


"Hahaha. Sini ... aku peluk."


Siti tersenyum. "Aku tuh nyaman banget ada di dalam pelukan kamu, Mas."


"Kalau begitu, peluklah selama dan sesering yang kamu inginkan."


"Jangan lepas, ya."

__ADS_1


"Enggak, Mas enggak akan lepasin."


"Ngantuk, Mas."


"Bobo aja. Mas enggak akan kemana-mana. Bobo lah, sayang."


"Hmm."


"Pak, nyetirnya pelan-pelan saja, ya. Takut istri saya tergoncang."


"Iya, Tuan."


Erlangga yang tidak pernah mau memakai jasa supir. Kini, semenjak dia sakit, selalu di antar supir. Mobil-mobil sport miliknya dia jual beberapa, hanya ada satu. Dia mengganti mobilnya dengan yang lebih besar dan nyaman.


Mobil melaju perlahan.


"Argh!"


Supir melihat dari spion. Memberhentikan mobil di pinggir jalan saat melihat Tuannya kambuh.


"Sssttttt. Tetaplah melaju. Jangan sampai istri saya bangun." bisik Erlangga.


"Tapi, Tuan."


"Ssst. Jalan."


Erlangga masih menahan rasa sakitnya yang tiba-tiba kambuh. Keringat mulai bercucuran. Tangannya meremas jok mobil begitu kuat.


Tidak ada pergerakan sama sekali. Erlangga berusaha menahan agar Siti tidak bangun dan cemas melihat dirinya kesakitan.


Siti masih terlelap di dalam dekapan Erlangga yang tengah pingsan.


Supir hanya bisa melirik sesekali dengan rasa sedih yang begitu dalam. Melajukan mobilnya begitu pelan. Dia mengerti apa yang Erlangga maksud.


Melambatkan kendaraan agar saat Erlangga siuman, Siti masih dalam keadaan tertidur.


Wanita yang kini semakin terlihat gemuk, membuka matanya perlahan. Masih diantara rasa sadar dan tidak. Menengok ke atas agar bisa melihat wajah suaminya.


"Mas."


"Tuan, tertidur. Nyonya."


"Oh."


"Apa kita bangunkan saja?"


"Jangan. Bapak turun saja duluan, biar saya disini menemaninya."


"Baik, Nyonya."


Supir turun. Dalam hatinya dia was-was. Tidak ingin Siti menyadari bahwa suaminya pingsan.


Siti menarik tubuhnya dari pelukan Erlangga. Menatap lekat wajah suaminya. Rasa cinta itu tumbuh semakin besar setiap Siti menatap Erlangga.


"Hati ini memang rapuh. Mudah berpaling. Dulu aku yang hampir gila karena ditinggal Lee. Kini, bahkan aku tidak pernah mencintai kaki-laki lain selain dirinya." bisik Siti saat masih menatap suaminya dari dekat.


"Benarkah?" tanya Erlanngga dengan mata yang masih tertutup.


Siti kaget.


"Aku tersanjung dengan gombalanmu itu."


Erlangga membuka mata. Siti yang masih kaget segera menarik kepalanya ke belakang. Namun, tangan Erlangga menahannya dengan cepat.


Mendekati wajah Siti semakin dekat. Hingga hidung mereka saling bersentuhan. Mengecilkan kening, turun ke pipi dan akhirnya mendarat di bibir merah yang selalu terlihat basah milik Siti.


Siti membalas ciuman Erlangga yang semakin lama semakin memanas.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2