
Aku masih menatap jagoan kecilku yang kini berbaring di atas ranjang. Dia belum siuman. Dokter bilang dia tidak apa-apa, tapi kenapa belum juga sadar.
Ku genggam erat jemarinya. Jemari ini bergetar hebat. Keringan dingin berucap di sekujur tubuhku.
Ingin menangis tapi aku tidak bisa. Hanya menyisakan sesak di dada yang teramat menyakitkan.
Ya Allah. Jaga dia, ku mohon.
"Aku minta maaf."
"Tidak apa-apa, Jo. Mereka hanya anak-anak. Jangan terlalu ditanggapi berlebihan."
"Bagaimanapun juga, Aksa begini karena Gisel. Sungguh, aku minta maaf."
Kupejamkan mata dalam. Bangkit dari kursi. Menatap Johan.
"Aku juga minta maaf, rencanamu berantakan."
"Untuk itu, tidak perlu kamu emaskan. Tidak apa-apa, aku baik-baik saja."
"Pulanglah, ajak Gisel, kasihan dia nunggu disini, gak baik. Jangan marahi dia atas kejadian ini. Berjanjilah?"
"Ya, aku pamit."
"Hati-hati di jalan. Bilang pada Gisel, Aksa baik-baik saja."
"Hmm."
Aku masih melihat Johan saat dia berjalan. Hingga punggungnya menghilang di balik pintu.
Tubuhku kembali lemas. Kepalaku terasa sedikit sakit.
"Sayang. Tolong bangun, bunda tidak ingin sesuatu terjadi padamu. Bunda mohon."
Aku menangis sesenggukan. Mencium pipinya berkali-kali. Membisikkan ayat qursi di telinganya.
Waktu berjalan terasa sangat lambat. Kenapa pagi tak kunjung datang? kenapa Aksa tidak juga bergerak?
Lelah. Aku merasa sangat lelah hari ini. Sampai pukul 23. 40 mata ini belum juga terpejam. Bagaimana aku bisa tidur melihat keadaan Aksa seperti ini?
Telepon berdering.
"Zidan? astaghfirullah, aku lupa memberi dia kabar. Halo, Zidan."
"Teh, kenapa lama banget? ini udah malam kenapa belum pulang juga?"
"Zidan ... Zidan...."
"Teh, kenapa? ada apa? kenapa menangis? Teteh."
__ADS_1
"Aksa di rumah sakit. Dia pingsan dan belum sadar juga."
"Astaghfirullah. Kenapa baru ngasih kabar? ya udah kirim alamatnya, nanti Zidan kesana."
"Bawain Teteh gamis sama kerudung. Teteh mau solat tpi baju teteh kotor. Bawain mukena juga."
"Iya, Zidan tunggu alamatnya, ya."
"Iya, hati-hati di jalan."
Telepon terputus. Ku simpan ponselku di atas nakas.
"Secara fisik, Aksa tidak mengalami cidera. Mungkin, dia hanya kelelahan setelah lama berjalan. Hanya saja, ada kemungkinan dia merasa takut atau stres yang berlebihan."
"Stres, Dok?"
"Ya, itu juga bisa menjadi penyebab seseorang pingsan. Untuk sementara ini, kita jangan terlalu khawatir. Karena tanda-tanda vital Aksa masih bagus. Setelah sadar, lebih baik kita lakukan konsultasi pada psikolog."
Sungguh. Kali ini aku yang stres mendengar penjelasan dari Dokter. Apa yang membuat Aksa menjadi stress hingga seperti ini? ya Allah, ibu macam apa aku sampai tidak tau keadaan anak sendiri.
"Bun ...." aku segera mengangkat kepala, begitu mendengar suara malaikat kecilku memanggil.
"Sayang, kamu sadar? nak ... ini bunda, Aksa."
"Teh."
Zidan yang baru sampai segera berlari. Hingga kemudian dia kembali bersama dokter dan perawat.
Dokter memeriksa denyut nadi dan dada Aksa. Membuka matanya yang masih terpejam.
"Aksa, kalau denger suara Dokter, gerakan apa saja yang Aksa bisa. Oke, jagoan."
Aksa merespon. Dia mengernyitkan dahinya.
"Bagaimana Dokter?"
"Dia sudah sadar. Namun, belum sepenuhnya. Biarkan saja dulu untuk sementara ini. Nanti kalau dia bangun, jangan menimbulkan gerakan terlalu cepat, biarkan dia sadar sepenuhnya. Beri sedikit minum. Kalau sudah benar-benar sadar, dudukan. Ya, Bu."
"Iya, Dokter. Terima kasih."
"Sama-sama, saya permisi dulu kalau begitu."
"Iya, Dok.
Ada sedikit kelegaan dalam hatiku mengetahui dia tidak apa-apa. Hanya perlu menunggu waktu sedikit lagi.
"Zidan, mana ...." Lee? dia ada di sini? sejak kapan?
Mata kami saling bertemu pandang. Untuk sesaat aku merasakan sesuatu yang entah. Aku tidak bisa menjelaskan apa-apa. Perasaanku saat ini tidak karuan. Hanya saja, aku merasa tenang ada dia disini.
__ADS_1
"Mana baju Teteh?"
"Ini. Teteh mandi aja dulu, aku udah bawa semuanya."
"Iyaz terima kasih Zidan." Aku mengambil tas yang Zidan bawa, berlalu menuju kamar mandi saat sebelumnya aku kembali melirik Lee, memastikan bahwa dia benar-benar ada di sini. Bukan hanya halusinasiku seperti kemarin-kemarin.
Sedikit terasa segar saat badan terguyur air hangat. Membersihkan diri dan mengganti pakaian.
Selesai salat isya.
"Ini, makanlah dulu. Jangan sampai kamu sakit."
"Aku tidak lapar."
"Jangan makan karena kamu lapar. Makanlah karena kamu butuh tenaga untuk menjada Aksa."
"Iya, Teh. Makanlah. Teteh harus kuat demi Aksa. Masa iya, dia bangun Teteh yang sakit. Kan gak lucu."
Aku mengambil makanan yang di berikan Lee. Sedikit demi sedikit ku kunyah, meski rasanya terasa hambar.
"Teh, Zidan pulang, ya. Besok harus ke sekolah mengerjakan sesuatu."
Aku terperanjat dengan makanan yang belum sepenuhnya masuk ke dalam mulut. Aku tidak ingin di sini sendirian.
"Aku yang akan menemani di sini. Biarkan Zidan pulang. Kasian dia kalau tetap di sini." Lee seolah mengerti apa yang ada dalam pikiranku.
"Zidan pamit, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Zidan pergi. Kini, hanya tinggal aku dan Lee di sini. Entahlah, aku tidak bisa bergerak sama sekali. Duduk di kursi, sementara Lee hanya berdiri sedari tadi.
Lama kami saling diam. Hingga Lee duduk berhadapan denganku.
"Habiskan, kamu harus kuat."
"Bagaimana aku bisa makan, saat anakku terbaring tidak berdaya. Aku ...." air mata ini mulai berjatuhan tanpa henti. Aku menangis sejadinya. Mengeluarkan semua Kesesi yang tertahan dalam hatiku.
Sesak yang selama ini tertahan. Perih yang selama ini terpenjara dalam diri, mengalir sudah bersama tumpahnya air mataku.
Lee menggeser kan meja yang memberi kami batas. Dia berlutut dan memegang kedua pundak ku.
"Hey, jangan seperti ini. Mana Siti yang aku kenal, sosok wanita kuat yang Solehah."
Aku tetap menangis, tidak bisa menghentikan air mata ini untuk tidak keluar. Lee menyeka air mataku dengan jarinya. Mengusap kepalaku lembut.
Perlakuannya membuat aku semakin tidak bisa berhenti menangis. Ya Allah ... apakah aku boleh melakukan dosa sekali saja? aku ingin memeluk ciptaan-Mu yang ada di hadapanku sekarang. Apakah dosa besar jika aku memeluknya meski sesaat? Ya Allah ... kuatkan hati hamba.
Bersambung ....
__ADS_1