
Okelah. Aku akan mencoba menepati janji untuk selalu up setiap hari. Minimal satu kali. Semua demi kalian para Readers setianya Siti dan Aksa.
Jangan lupa bantu author dengan like dan vote nya ya. Biar semakin semanga, jangan lupa beri komentar terbaikmu. Jangan sungkan memberi masukan. Siapa tau akan sangat berguna jika author sedang mentok π
Selamat membaca kesayangan π€π€
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Apa kabar, sayang?" sapa Mama. Mencium pipi kanan dan kiri ku. Memeluk erat saat kami janjian di sebuah restoran, siang itu.
"Baik, Mam. Mama sendiri gimana?" tanyaku. Kami berdua duduk tepat di samping jendela yang menghadap pada pemandangan padatnya Ibu Kota. Kebetulan, restoran tempat kami bertemu berada di lantai 20 sebuah hotel.
"Mama baik. Oh, iya. Kita pesen makanan dulu saja." Tanpa menunggu jawabanku, Mama melambaikan tangan memanggil pelayan.
"Mau pesen apa?" tanyanya sambil membuka buku menu yang cukup tebal. Padahal isinya hanya dia lembar.
"Apa aja. Terserah Mama."
Mama masih sibuk melihat menu."Baiklah, kita pesan ini saja. Dua spaghetti aja. Sama minumnya ocean blue."
"Baik, Nyonya. Pesanan akan segera kami hidangkan." kemudian pelayan itu pergi.
"Mama ingin bicara sesuatu sama kamu." Mama mendekatkan tubuhnya, merapat ke meja. Wajahnya terlihat sangat serius.
"Apa kamu benar-benar tidak ingin rujuk bersama Lee?" Mama sedikit ragu mengatakannya itu. Aku hanya diam tanpa berkata. Bingung, apa yang harus aku katakan.
"Apa dalam hatimu benar-benar sudah tidak ada ruang untuknya?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Mam ...."
"Sayang." Mama menggenggam jemariku. "Apa kamu benar-benar tidak akan menerima Lee kembali?" tangannya terasa dingin.
"Mam, apa yang harus aku terima dari Lee? bahkan dia tidak menawarkan apapun padamu."
"Eum, a-apa maksudnya?" Mama terbata. Aku hanya tersenyum. Menatap Mama dan berharap Mama akan mengerti dengan apa yang aku ucapkan.
"Ayo, Mam. Kita makan saja dulu."
Mama masih tampak mencerna apa yang aku katakan. Bahkan, dia mengaduk dengan mimik seperti anak sekolah yang sedang ujian
Melahap makanan dengan mata yang kosong. Aku tidak tega melihat Mama mikir begitu keras. "Mam, aku ...."
"Jangan-jangan ...." dia menyelidik ke dalam mataku. Memotong apa yang hendak aku ucapkan. Sepertinya Mama mulai faham. Aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Astaga!" Mama meletakkan sendok garpu. Menyandarkan tubuhnya pada kursi. Mama sepertinya kesal. Setelah mengambil nafas dalam, tangannya merogoh ke dalam tas. Mengeluarkan ponsel kemudian berdiri ke dekat jendela.
" ...."
"Bagaimana bisa? Ahhh sudahlah. Nanti kita lanjutkan di rumah." Mama menutup pembicaraannya. Dengan wajah yang masih di tekuk.
"Mama pulang duluan. Nanti kita bertemu lagi, ya." tanpa kehangatan saat bertemu, Mama pergi begitu saja. Meninggalkan aku sendiri. Aku terkekeh dengan apa yang terjadi barusan. Jika aku tidak salah, Lee akan kena marah Mama nanti di rumah.
Setelah menghabiskan spaghetti. Aku pergi ke kasir. Lalu berjalan menuju lift. Saat lift terbuka, tidak ku sangka akan bertemu seseorang.
"Tante." Gadis kecil itu menatap terkejut. Lalu kemudian berhambur dalam pelukanku.
__ADS_1
"Gisel, sayang. Apa kabar kamu, nak?" aku membalas pelukannya. Membelai rambutnya yang selalu harum tercium.
"Aku kangen," bisiknya. Aku mengurai pelikan untuk bisa menatap wajah cantiknya. Manik itu selalu saja membuatku jatuh cinta. Ku elus kedua pipinya. Ku kecup keningnya penuh kasih.
"Hai, apa kabarmu?" sapa Johan. Aku berdiri.
"Baik. Kamu?" dia hanya mengangkat kedua bahunya.
"Tante, sama siapa? Aksa mana?" gadis itu celingukan. Mencari Aksa.
"Tante sendirian sayang. Aksa di rumah sama Om Zidan."
"Oh." Gisel memajukan bibirnya.
"Mau kemana, Jo?"
"Ada meeting. Hanya saja tidak ada yang menjaga Gisel. Jadi, aku bawa serta."
"Bagaimana kalau aku saja yang menjaganya selama kamu meeting." Entah darimana ide itu muncul. Spontan saja aku mengeluarkan ide.
"Benarkah? apa itu tidak merepotkan?"
"Hmm, bagaimana bisa aku merasa di repotkan oleh anak secantik dia." aku berjongkok. "Apa kamu mau Tante temani?" tanyaku pada Gisel. Sudah bisa ditebak, dia akan sangat bahagia.
"Baiklah, kalau begitu kita tunggu dimana yaaa ...."
"Di kamar saja. Aku sudah memesan kamar untuk kami berdua. Kalian tunggu saja di sana. Setelah selesai, aku menyusul." aku sedikit ragu.
__ADS_1
"Iya. Ayo Tante kita ke kamarku saja." Gisel menarik tanganku. Tanpa sempat berbicara, aku dan Gisel berjalan dengan ritme yang agak cepat. Di ikuti pelayan yang membawa barang-barang Gisel dan Johan.
TO BE CONTINUE ....