
"Begini, Bu." wanita berhijab dengan kacamata nya, mulai berbicara tentang kondisi Aksa. Dia adalah psikolog yang akan membantu aku mengatasi kondisi Aksa.
"Mungkin, sebagai orang tua kita hanya melihat anak-anak merasa bahagia saat mereka dibelikan mainan baru, makanan yang dia inginkan atau bisa juga jalan-jalan. Mereka mungkin bahagia. Hanya saja kebahagiaan terutama pada anak-anak seusia Aksa itu, lebih kepada hati dan pikiran mereka. Jangan di kira loh ya, hanya pikiran orang dewasa saja yang bisa stres karena sesuatu."
"Salah satu penyebab anak-anak stres adalah. Pertama, mereka memiliki keinginan yang tidak bisa mereka dapatkan. Kedua, perceraian orang tua. Ketiga, Bullying. Dan masih banyak lagi kalau harus saja sebutkan semuanya. Atau bisa juga ketakutan yang berlebihan. Mereka akan stres dan itu bahkan bisa menyebabkan pingsan, sama seperti yang terjadi pada Aksa."
"Lalu bagaimana saya harus bersikap?"
"Saya harus tau dulu permasalahan sebelum Aksa pingsan. Atau mungkin Ibu mau bercerita pada saya tentang kehidupan ibu."
"Harus, ya?"
"Harus, karena ibu adalah orang yang selalu ada di keseharian Aksa. Sedikit banyak, hidup ibu mempengaruhi kehidupan Aksa."
Aku menatap wanita itu. Beberapa saat kami hanya diam saling menatap. Hingga aku yakin dan percaya bahwa aku memang harus menceritakan semua kisah hidupku padanya. Demi Aksa.
Setelah hampir satu jam aku bercerita, dengan emosi yang kadang meledak, dan kadang juga down. Wanita itu melepas kacamatanya. Mengusap butiran bening dari sudut matanya. Mendekatiku lalu memelukku.
"Keluarkan jika ibu masih ingin menangis. Saya siap menampung semuanya." bisiknya di telingaku. Entahlah, aku merasa mendapat wadah yang tepat untuk menumpahkan semua air mata yang aku pendam selama ini.
Aku menangis. Menangis seperti saat Lee mengirim surat perceraian kami bersamaan dengan dimasukannya jasad Bapak ke dalam liang lahat.
__ADS_1
"Jangan di tahan. Keluarkan semuanya, keluarkan. Lepaskan semua amarah dan kesedihan hati ibu. Menangis lah sekeras yang ibu mau. Kita hanya berdua. Tidak akan ada yang mendengar."
Mendengar ucapannya. Tangisanku semakin menjadi. Aku meraung sekerasnya.
Lama semakin lama, aku merasa lelah. Perlahan namun pasti, beban yang ada dalam hatiku sedikit demi sedikit lenyap. Lega rasanya.
Aku di suguhi teh manis hangat. Merapikan jilbab kemudian mencuci wajah agar terasa lebih fresh.
"Lalu, bagaiman sekarang? apa ibu akan menerima Lee?" tanyanya penuh selidik.
"Entahlah. Saya bingung, hati saya sulit untuk menerima siapapun saat ini. Kalaupun saya harus menerima Lee, semua demi Aksa."
"Jangan! jangan terima Lee kalau hanya karena Aksa. Anak ibu itu peka, hatinya sangat sensitif pada apapun yang menyangkut diri ibu. Meski tidak mengatakannya, Aksa pasti tahu perasaan ibu."
"Saya yakin. Dengan hasil obrolan saya dengan Aksa kemarin. Saya dapat menyimpulkan bahwa, hidupnya akan dia jalani saat bundanya merasa bahagia, meski kadang kebahagiaan itu menentang suara hatinya. Itulah kenapa dia menjadi stres dan sering katakutan setiap dia memiliki keinginan yang bersangkutan dengan Ibu."
Ya Allah Aksa. Ingin rasanya aku berlari dan memeluk anak itu.
"Tapi, kenapa dia sangat menginginkan Lee sebagai Papinya, sementara saya, saya tidak ingin dia kembali dalam hidup saya."
"Ibu membohongi diri ibu sendiri, Aksa tau itu. Dia bisa melihat bagaimana ibu bahagia saat ada Lee. Dia merasakan bagaimana Lee mencintai ibu dengan tulus. Bu, anak-anak itu sangat peka pada orang dewasa yang benar-benar tulus atau tidak, hati mereka masih sangat murni untuk di bohongi."
__ADS_1
Benarkah? benarkah aku menginginkan Lee kembali?
"Aksa tau, ibu bahagia saat bersama Lee. Itu yang dia katakan pada saya."
"Saya bahkan tidak pernah tau apa yang hati anak saya inginkan. Kenapa saya jadi ibu bodoh banget."
"Tidak, dengan beban yang ibu pikul, tidak depresi saja itu artinya ibu sangat kuat," hiburnya. "Masalahnya sekarang ada pada mertua ibu, Aksa pingsan karena dia tidak tahan melihat ibu di marahi. Aksa pingsan karena keinginannya terbentur dengan kondisi ibu. Di sisi lain, dia ingin Papi Lee. Namun, keinginan itu membuat ibu mendapatkan masalah. Apa ibu bisa bayangkan betapa tertekannya Aksa?"
"Ya, saya bisa mengerti bagaimana perasaannya." air mata ini terus mengalir tanpa henti.
"Saya perlu bertemu dengan mertua ibu, itu satu-satunya jalan untuk situasi sulit yang Aksa hadapi."
"Iya, nanti saya akan coba hubungi mertua saya."
"Untuk sekarang, jauhkan dulu Aksa dari Lee."
"Apa?" aku refleks.
"Kenapa? hahaha. Menjauhkan Aksa dari Lee, bukan berarti menjauhkannya juga dari ibu. Silahkan cari cara agar Lee tidak terlihat oleh Aksa," dia menatapku dengan menahan tawa.
"Hemm! dari sini saja saya sudah bisa menyimpulkan bagaimana perasaan ibu pada mantan suami ibu." Dia tersenyum nyaris tertawa. Ah! pipiku terasa panas.
__ADS_1
Bersambung ....