Dimadu Tak Semanis Madu

Dimadu Tak Semanis Madu
BAB 39


__ADS_3

Nampaknya Siti belum bisa menerima maaf Lee. Dia bahkan tidak mau di ajak bicara sama sekali. Mengabaikan Lee begitu saja. Meski dia masih melayani semua kebutuhan suaminya.


"Sayang ...." Lee mencoba berbicara pada Siti, saat wanita itu memakaikan dasi pada lehernya. Namun Siti masih diam seribu bahasa.


Biasanya memasang dasi adalah hal yang paling romantis, sesuatu di pagi hari yang membuat Lee bersemangat menjalani hari. Dimana Lee akan bermanja-manja pada istrinya. Menggodanya dengan kecupan-kecupan manja.


Tapi kali ini sangat berbeda. Dan Lee, tidak suka itu. Dia pergi begitu saja. Mengendarai mobilnya dengan cepat.


Meski ada sedikit kekhawatiran dalam hati Siti. Namun, tetap saja. Dia belum bisa memaafkan suaminya.


Hari semakin siang. Siti hanya bisa berbaring di atas kasurnya. Setelah selesainya Dhuha dan mengaji, tidak banyak yang bisa dia lakukan.


Ponselnya bergetar. Dengan malas, dia bangun, meraih ponselnya yang dia simpang di atas nakas samping ranjangnya.


Ada sebuah pesan masuk. Dari nomer yang tidak di kenal.


[ini belum seberapa. Jika kamu tidak segera meninggalkan dia. Aku yang akan membuat dia meninggalkanmu untuk selamanya]


Siti terdiam. Masih menatap layar ponselnya. Dia tersentak saat Eyang menerobos masuk begitu saja ke dalam kamarnya.


"Lee ... suamimu ... dia dia ...."


"Ada apa Eyang? tenang dulu. Bicara pelan-pelan."


Bukannya menjelaskan apa yang terjadi. Bu. Amira malah menangis sejadinya. Siti bingung. Dia menghampiri Eyangnya. Berusahalah menenangkan wanita tua itu.

__ADS_1


Ponsel Siti berdering. Ada sebuah panggilan.


"Mama?"


Siti segera menjawab panggilan itu.


"*** ...."


"Siti. Lee, Siti." sela Bu. Han.


"Mama sama Eyang kenapa sih?"


"Lee. Dia kecelakaan. Dan sekarang ada di rumah sakit. Dia kritis."


Ponsel Siti terjatuh. Mulutnya menganga. Matanya terbuka lebar. Perlahan matanya mulai berair.


"Non ...."


"Hh! Lee ... dimana dia?"


Siti berjalan sempoyongan. Mengarak apapun yang ada di depannya. Pelayan tidak mampu menahan langkah Siti. Dia menyingkirkan tangan para pelayan yang berusaha memapahnya karena khawatir.


Dengan sigap supir membukakan pintu mobil. Tanpa bertanya dia menyetir, menginjak pedal gas. Dia tau harus kemana setelah mendapatkan telepon dari Bu. Han.


Sesampainya di rumah sakit. Siti melihat Bu. Han sedang menangis. Di temani Erlangga. Saat melihat Siti datang, Bu. Han langusnf berlari, memeluk Siti dengan erat. Tangisannya pecah.

__ADS_1


"Lee ... dia, dia sekarat Siti."


"Tenang Mam. Dia akan baik-baik saja."


"Kepalanya ...."


"Sabar Mama. Dia laki-laki yang kuat. Dia pasti akan sehat lagi. Tolong ... jangan menangis seperti ini."


Kedua wanita cantik itu saling berpelukkan. Mereka duduk di sebuah kursi yang ada di sana.


Erlangga memberikan minuman cokelat hangat untuk keduanya. Tapi, Bu. Han menolak. Pun Siti.


"Minumlah. Kamu harus menjaga kondisimu. Bagaimana Lee bisa sehat kembali jika kamu tidak bisa mengurusnya nanti. Ayo."


Bujukan Erlangga tidak pernah gagal. Dia selalu bisa membuat Siti luluh. Ah! andai saja waktu itu dia tidak menuruti kemauan ibunya, untuk tidak menjadikan Siti istrinya. Mungkinkah, saat ini Siti sudah berada dalam pelukannya.


Siti tiba-tiba teringat akan pesan yang dia terima sebelum mendapat kabar tentang kecelakaan Lee.


Siti semakin takut. Hingga dia mencengkeram lengan Erlangga begitu kuat. Sontak Erlangga kaget. Di tatapnya wajah Siti. Terlihat jelas ada ketakutan disana.


Erlangga mengusap punggung tangan Siti dengan lembut. Memberikan senyuman, sebagi isyarat bahwa dia akan memastikan semuanya baik-baik saja.


Bersambung ....


Erlangga 😍😍 saat dia menemani Siti di rumah sakit.

__ADS_1



__ADS_2