Dimadu Tak Semanis Madu

Dimadu Tak Semanis Madu
35


__ADS_3


Siti menatap lekat suaminya yang sedang tertidur lelap. Dengan tetesan air mata yang tak sedikit.


Kini, kamu sudah bukan milikku seorang. Ada wanita lain yang harus mendapatkan kasih sayangmu, cintamu, waktumu dan juga ragamu. Hati ini sakit. Namun, aku ikhlas. Aku lebih merasa sakit jika dirimu yang harus disakiti. Bisik Siti dalam hati.


****


"Kamu tidak apa-apa sayang?"


Siti menggelengkan kepala, "Aku baik-baik aja kok."


"Kalau begitu aku pergi ya ...."


"Hmm."


Lee mendekap erat Siti. Mencium keningnya mesra. Dengan berat hati Lee melepaskan pelukannya. Pamit untuk berangkat honeymoon bersama Naura ke Eropa.


Sekuat hati Siti melihat Lee menggandeng tangan Naura. Mereka berjalan keluar rumah. Menaiki mobil. Sementara itu supir dan beberapa pelayan memasukan barang-barang mereka ke dalam bagasi.


Lee melepas kacamata hitamnya, dan menatap Siti dengan tatapan yang tidak bisa di jelaskan. Hanya saja sangat jelas terlihat ada rasa bersalah terpancar disana.


Di tatapnya jam tangan yang tertaut di pergelangan tangan Lee, sebelum dia benar-benar memasuki mobil.


Rasanya sesak, saat mobil mulai berjalan menjauhi rumah. Suasana terasa sangat sepi. Hampa.

__ADS_1


Dengan menyeret tubuhnya sendiri, Siti berjalan menaiki anak tangga dan memasuki kamarnya.


Tak kuasa dia menahan air mata yang sedari tadi dia bendung. Di atas bantal dia tumpahkan segala gundah hatinya.


Drettttt drettttt


Ponsel Siti bergetar.


[ Jangan lupa makan. Jaga kesehatan. Aku akan segera pulang menemuimu, istriku.]


Air mata Siti kembali mengalir deras. Pikirkannya melayang kesana kemari. Dia tidak sanggup membayangkan apa yang mereka berdua lakukan.


Siti merasa ini salah. Baru saja dimulai, tapi rasanya sungguh sangat menyakitkan. Meski dia tau ini semua keinginannya, hanya saja ....


"Ya Allah ... apa aku bisa bertahan?"


****


Ini sudah hari ketiga semenjak kepergian suaminya. Seluruh keluarga di buat pusing karenanya. Siti tidak mau makan, dia selalu berpuasa tanpa sahur terlebih dahulu. Dan buka puasa hanya dengan air putih dan nasi secukupnya dan mungkin bisa di katakan sangat kurang.


Matanya selalu saja bengkak dan sembap. Bahkan dia menolak untuk berbicara dengan siapapun di rumah itu.


"Ini tidak bisa di biarkan. Telpon Lee dan suruh dia pulang sekarang juga!" perintah Bu. Amira.


Bu. Han segera mengambil ponsel dan menelpon Lee.

__ADS_1


"Lee ...."


"Iya Mam. Bagaimana kabar semuanya? Bagaimana istriku? apa dia baik-baik saja? dia mematikan ponselnya sejak aku pergi, alasannya ingin menjaga privasi aku dan Naura."


"Lebih baik kamu pulang sekarang juga, itupun kalau kamu ingin istrimu baik-baik saja."


"Mam. Ada apa?"


"Lebih baik kamu pulang secepatnya Lee ... Mama tidak ingin sesuatu terjadi pada menantu mama."


Lee hanya bisa terdiam. Tanpa basa basi, dia langsung membereskan semua barangnya. Tidak perduli dengan Naura yang sedari tad bertanya. Meski dengan suara yang sangat lantang.


Lee menghentikan gerakan tangannya yang sibuk merapihkan barang miliknya.


"Kemasi barang sekarang juga. Atau aku pulang tanpamu."


Naura hanya bisa menganga. Tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. Namun tidak ada penjelasan apapun dari Lee. Tidak ada pilihan lain selain dia menuruti suaminya itu.


Setelah selesai mengemasi barang. Mereka langsung menuju bandara. Sepanjang perjalanan Lee tidak banyak bicara. Dia kelihatan sangat tidak tenang.


Naura hanya bisa menatap heran dan kesal. Ingin bertanya namun percuma, tidak akan ada jawaban dari Lee.


"Kita tidak punya tiket Bep."


"Kita pake pesawat pribadi Erlangga."

__ADS_1


"What?" Naura seperti begitu kaget. Dia tidak menyangka Erlangga sekaya itu. Bahkan dia memiliki pesawat pribadi. Naura tersenyum sinis.


to be continued


__ADS_2