Dimadu Tak Semanis Madu

Dimadu Tak Semanis Madu
BAB 23


__ADS_3

tok tok tok


"Sayang ... jangan tidur di situ. Ayo kita ke kamar." bujuk Lee. Hati Siti yang masih sakit, membuat dia tidak ingin tidur satu kamar dengan suaminya.


Entah berapa lama Lee menunggu di depan pintu, namun Siti enggan untuk membukakan pintu untuk Lee. Dia benar-benar ingin sendiri saat ini. Merenungkan situasi yang saat ini sedang dia alami.


Siti tau, Lee mencintai wanita lain selain dirinya. Tapi, baru kali ini dia melihat langsung Lee berpelukan dengan wanita itu.


Pikirannya langsung menjelajah kemana-mana. Berasumsi yang tidak-tidak. Hatinya sakit. Membayangkan Lee melakukan hal yang lebih jauh saat dia bersama Naura di tempat lain.


Astaghfirullah ... Siti segera bangkit, duduk menyandarkan tubuhnya di ranjang. Memeluk bantal dengan deraian air mata yang tak henti-hentinya mengalir. Tidak di perdulikannya Lee yang sedari tadi mengetuk pintu di luar sana.


Tidak patah semangat! Lee terus menunggu dan membujuk istrinya untuk membukakan pintu.


Dua jam sudah Lee menunggu. Dia duduk memeluk kakinya.


Pukul 02.00 WIB.


Betapa kagetnya Siti, membuka pintu berniat ingin mengambil wudhu untuk salat tahajud. Namun, di depan pintu Lee terbaring tanpa alas. Rupanya dia menunggu Siti sampai tertidur.


"Lee ...." Siti menggoyangkan tubuh Lee perlahan.


"Bangun, ayo kita pindah. Jangan tidur disini."


Tubuh Lee dingin. Dia mengerjapkan mata, melihat ke berbagai arah, entah apa yang sedang ia cari.


"Nyari siapa? Noura tidak ada disini." ketus Siti, sambil berusaha bangkit meninggalkan Lee.


"Kamu." jawab Lee, memegang lengan Siti yang hendak berdiri.


"Semalaman aku menunggumu membuka pintu kamar. Aku bahkan lupa kalau lantai ini dingin dan keras."


Siti terdiam.


"Kalau begitu tidurlah di kamar. Aku solat dulu."


"Apa solat lebih penting dari menemani suami tidur? bukankah tahajud itu sunah? dan melayani suami itu wajib."


"Kamu tau Lee? mencintai wanita lain selain istri itu dosa? berselingkuh itu haram. Kenapa sekarang kamu membicarakan sunah dan wajib padaku? sementara kamu sendiri tidak bertindak sesuai anjuran agama. Pantaskah berpelukan di rumah sendiri dengan wanita lain! dimana istri kamu menyaksikan semuanya?"

__ADS_1


Suara Siti yang keras dan penuh dengan tekanan, memecahkan keheningan malam itu. Lee tidak menyangka Siti bisa berani membentak dirinya seperti itu. Marah? tidak. Lee hanya terkejut dengan apa yang Siti ucapkan barusan. Dirinya merasa tertampar.


"Aku memang gadis kampung! tapi aku juga manusia. Aku punya hati dan perasaan!!!"


Siti menepiskan tangan Lee yang sedari tadi memeganginya. Sambil mengusap air matanya kasar, Siti berjalan menuju mushola kecil yang ada di rumahnya.


Suara tangisannya masih terdengar, sangat pilu. Dia berusaha mengatur nafas sebelum mengambil air wudhu.


Sementara itu, Lee. Dia masih terduduk di tempat semula. Dengan tatapan yang sulit di artikan.


Adzan subuh berkumandang. Siti selesai melaksanakan tahajjud dan subuhnya. Setelah itu dia langsung menuju dapur yang memang bersebelahan dengan mushola.


Kali ini dia hanya membuat roti bakar dan secangkir teh untuk dirinya. Siti kembali di buat terkejut saat melihat Lee masih duduk di depan kamar. Di letakkannya cangkir teh dan piring berisikan roti bakar di atas meja.


"Kenapa masih disini?"


Tak ada jawaban.


Siti menurunkan badan. Menyamakan posisi.


"Lee ...." di pegangnya bahu suami lembut.


"Kenapa masih duduk?"


"Kepalaku sakit."


Siti menakup kedua pipi Lee. Wajahnya pucat. Dan terasa panas. Siti baru ingat kalau kondisi tubuh Lee memang kurang fit.


"Kamu demam Lee. Lebih baik kita masuk ke kamar ya!"


Dengan di papah, Lee berjalan. Dia berbaring di kamar yang dulu di tempati Siti.


"Tunggu sebentar, aku ambilkan obat."


"Jangan! kemarilah ...." Lee menarik tubuh istrinya, memeluknya erat.


"Aku minta maaf."


Hening.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? saat aku begitu mencintaimu, hatiku yang lain tidak bisa melepas dia ...."


Hati Siti kembali tersayat. Air matanya kembalia menetes.


"Kenapa ini sangat sulit? Kenapa aku tidak bisa memilih satu di antara kalian." suara Lee seperti tercekat.


Hening. Hanya suara nafas masing-masing yang terdengar.


"Haruskah aku pergi meninggalkan kamu? dengan begitu kamu akan lebih mudah mengambil keputusan."


"Demi apapun aku tidak ingin kamu pergi."


"Kalau begitu tinggalkan wanita itu, jadikan aku wanitamu seutuhnya. Hubungan kita telah di restui semua orang, lalu ...."


"Noura ... dia tidak bisa aku tinggalkan begitu saja?"


Siti melepaskan diri dari pelukan suaminya. Dia menatap tajam, dengan penuh amarah dan rasa penasaran.


"Apa yang menyebabkan kamu begitu sulit melepaskan dia? apa karena dia terlebih dulu menempati hati kamu? kalau begitu lepaskan aku saja."


"Tidak! apapun alasannya, aku tidak akan melepaskan kamu."


"Lalu apa yang kamu inginkan?"


"Kalian. Aku ingin menjadikan kalian berdua istriku."


"Apa?"


BERSAMBUNG ....


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


*hai semua ....


mungkin malam ini aku akan up banyak ya! karena setelahnya, aku akan fokus pada hal lain dulu.


jangan bosen menunggu ya readers. dan terimakasih untuk para readers yang masih setia sama Siti dan Lee.


jangan lupa rate, love, dan vote juga yaaaa ... lopeeee all๐Ÿ˜*

__ADS_1


__ADS_2