Dimadu Tak Semanis Madu

Dimadu Tak Semanis Madu
Pengirim Teror


__ADS_3

Setelah Erlangga pulang ke ibu kota dan berobat ke Singapur. Lee masih setia menjaga Siti.


Dia yang mengalami depresi harus melakukan beberapa terapi. Siti yang dulu setelah mengalami keguguran, tidak bisa memejamkan matanya selama tiga hari tiga malam. Gejala awal dari seseorang yang terkena gangguan jiwa.


Sudah hampir tiga bulan lamanya Siti menjalani terapi psikologis. Sekarang dia sudah mulai membaik.


Mulai mau berbicara, makan dan menjalani rutinitasnya meski secara perlahan-lahan.


"Dimana Erlangga? bukankah dia selalu di sampingku, menemani di segala rasa sakit yang aku derita."


"Apa aku boleh bertanya satu hal?"


"Apa?"


"Erlangga. Adakah sedikit saja rasa yang kamu miliki untuknya?"


"Kenapa bertanya seperti itu? apa kamu benar-benar menginginkan jawabannya?"


"Ya."


"Aku pernah sangat terpesona olehnya. Dia yang dulu membangun jalan di kampung kami. Baik dan sangat ramah."


"Sekarang?"


"Apa kamu benar-benar tidak tau perasaanku? Lee."


"Aku berharap rasa yang dulu untuknya masih ada dalam hatimu. Cintai dia yang lebih layak. Dia yang lebih segalanya dariku. Bukan pecundang sepertiku."


"Sudahlah. Aku ingin istirahat."


Siti beranjak.


"Dia sekarat."


"Apa?"


"Mungkin, hidupnya tidak akan lama lagi. Dia sekarat. Dia bahkan mengabaikan penderitaannya demi dirimu. Berobat di luar negeri tidak menghasilkan apapun."


"Apa yang sedang kamu bicarakan."


Lee berdiri. Memegang kedua bahu Siti. Menatapnya penuh keseriusan.


"Erlangga. Dia menderita kanker otak stadium empat. Dia begitu mencintaimu melebihi apapun di dunia ini. Siti ... keinginannya hanya satu. Bisa hidup bersamamu."


"Tidak mungkin. Dia pasti ...."


"Erlangga sekarat, Siti."


"Tidak ... itu tidak mungkin terjadi. Aku mohon, katakan kalau ini hanya sebuah lelucon."


"Aku serius!"


"Erlangga ...."


Siti berlutut, menangis sekuat yang dia bisa.


Satu per satu orang yang benar-benar menyayangi dirinya pergi.


Kehidupan hanyalah sebuah perjalanan. Perjalanan untuk menemukan rumah tempat kita tinggal. Rumah yang akan kita tempati selamanya.


Fase dimana kita sedang mencari bekal sebagai syarat untuk membuka kunci rumah kita sendiri.


Semua pasti kembali. Kita akan pulang dalam keadaan yang tidak kita ketahui. Kita hanya perlu bersiap saat penjemput datang. Tas bekal kita haruslah terisi penuh dengan sesuatu yang akan menyelamatkan kita saat dalam keadaan sulit.


Nyawa itu ibarat pohon melinjo. Bukan hanya daun yang sudah tua yang akan jatuh ketanah. Tetapi, daun muda pun sering lepas dari tangkainya.


Erlangga tidak baik-baik saja. Wajahnya, tubuhnya dan semua yang ada pada dirinya berubah drastis.


Dia yang selalu terlihat tegar dan cool, kini terlihat lemah tak berdaya.


Siti menangis sesenggukan saat berada di sampingnya. Ingin hati memeluk, hanya saja dia tau, itu bukan kebenaran. Siti hanya bisa mengusap Erlangga. Menatapnya lekat.


"Menikahlah denganku, Erlangga," pinta Siti.


"Aku bahkan tidak bisa melakukan apa-apa setelah menjadi suamimu nanti."


"Aku ingin mengurus dirimu dengan halal. Menemani dirimu dalam keadaan apapun."


"Apa kamu merasa kasihan? aku tidak ingin menikah hanya karena belas kasih darimu."

__ADS_1


Siti menggelengkan kepala. "Tidak. Aku ingin menikahi pria yang dulu membangun jalan di kampung. Pria yang begitu baik dan membuatku terpesona. Aku mencintaimu, Erlanngga. Ayo, kita menikah. Kita akan hidup bahagia."


"Apa kamu yakin?"


"Sangat. Aku sangat yakin."


"Aku bersyukur pada akhirnya aku bisa memilikimu. Tapi, apa kau akan memaafkan aku yang telah mengirimkan pesan ancaman padamu, dulu." Bisik Erlangga dalam hati.


Memanfaatkan keadaan yang mendukungnya, bahkan dia tidak benar-benar menjadi penyebab kecelakaan Lee waktu itu. Semuanya by moment.


Biarlah itu hanya akan menjadi rahasia dia dan Tuhan. Biar Tuhan yang akan menghukum dan Erlangga akan menerima hukuman itu dengan ikhlas.


...****************...


"Arrrgh!" Erlangga menjerit kesakitan. Dia memegang kuat kepalanya yang serasa akan pecah. Kemudian akan di susul kejang-kejangnya, hingga dia tak sadarkan diri.


Itulah keseharian yang terjadi pada Erlangga. Menjerit dalam pangkuan istrinya, Siti. Tidak setiap hari terjadi. Namun, setiap kali itu terjadi, terasa sangat mencekam bagi Siti.


Dia merasa sangat takut melihat suaminya seperti itu.


"Apa kamu lelah merawatku setiap hari?"


"Tidak sama sekali. Aku bahagia bersamamu saat ini."


"Andai saja kita menikah sejak dulu."


"Kenapa tidak kamu lakukan, Mas?"


"Aku ragu, aku hanya takut akan menyakiti dirimu saat menikah tanpa restu ibuku."


"Aku mengerti."


Hening.


Malam itu terasa sangat dingin. Tak ada suara terdengar. Sunyi dan sepi.


"Dek."


"Hem."


"Apa aku bisa meminta hakku sekarang?"


"Lakukan, Mas. Dari ujung rambut hingga ujung kuku, semua milikmu. Akan aku lakukan kewajibanku jika kamu memintanya."


Mata mereka saling menatap. Semakin lama semakin mendekat.


Erlangga mengecup kening Siti. Lalu kembali menjauh.


"Kenapa Mas?"


"Aku ...." Erlangga terdiam.


Siti tersenyum. Dia tau suaminya ragu. Takut Siti merasa terpaksa. Siti menaikkan tubuhnya. Berusaha meraih bibir Erlanngga.


Erlangga sedikit terkejut saat istrinya tiba-tiba mencium bibirnya. Dia tidak membalas, hingga Siti berusaha membangkitkan gairah Erlangga dengan *******.


Mereka saling menautkan bibir mereka dengan penuh gairah. Mendekap begitu erat. Cinta yang sekian lama terpendam dalam palung hati kini, bersambut dan telah berlabuh pada hati yang dituju.


Desahan kenikmatan mengiringi sunyinya malam itu. Menikmati indahnya cinta dalam ikatan atas Ridho-Nya.


...****************...


"Dek, kenapa? wajahmu sangat pucat."


"Entahlah, rasanya perutku tidak karuan. Kepalaku pusing."


"Kita ke dokter, ya."


"Tidak perlu, aku baik-baik saja. Mas jangan kemana-mana, aku tidak ingin Mas lelah."


"Tapi, Dek."


"Jangan ngeyel! entar aku sentil, nih."


"Ampun, Bu Guru."


"Makanya jangan bandel. Entar di setrap, mau?"


"Enggaaak." rengek Erlangga manja.

__ADS_1


Siti mencubit hidung suaminya. Erlangga membalas dengan ciuman bertubi-tubi di wajah Siti.


"Mas, hentikan."


"Mmcuah ... mmcuah!"


"Mas! udah, geli ih!" Siti menggeliat saat tangan Erlangga merayap di pinggang dan perutnya.


Mereka saling kejar-kejaran bak anak kecil. Siti tertawa lepas, bahkan dia naik ke sofa dan turun lagi demi menghindari tangan jahil suaminya.


Cinta memang selalu menghadirkan kekuatan yang tidak terduga. Obat mujarab dari semua rasa sakit.


"Udaaah ...." Siti memekik saat dia merasa sangat lelah. Membaringkan tubuhnya di atas kasur.


"Nantangin ini sih!"


"Apaan sih ...."


Erlangga tidur tepat di atas tubuh Siti yang terlentang.


"Mas ... berat!"


"Beratan tubuh kamu malam itu, Dek."


"Iiikh ...." Siti mencubit pipi Erlangga yang sudah semakin cekung.


"Aku mah kurus, coba lihat badan kamu. Baru nikah sama aku enam bulan aja udah seperti ikan buntal."


Raut wajah Siti berubah. Dia tampak sedih saat mendengar ucapan suaminya.


"Kenapa? ada apa? apa aku salah berucap," tanya Erlangga cemas.


"Apa aku benar-benar terlihat seperti ikan buntal di matamu, Mas?"


Pertanyaan Siti membuat kening Erlangga mengkerut.


Siti mendorong tubuh suaminya ke samping. Dia bangkit dan duduk ditepian ranjang.


"Dek, ada apa? Mas minta maaf."


"Apa aku sudah tidak terlihat menarik lagi? apa aku sekarang benar-benar jelek dan gendut?"


"Dek, Mas hanya becanda. Mas minta maaf kalau kamu tersinggung."


"Apa kamu akan mencari wanita lain yang lebih cantik, langsing dan seksi dariku? apa aku akan di campakkan?"


"Astaghfirullah, Dek. Dengar! Mas hanya becanda. Lihat sini ...."


"Enggak!"


"Sayang, sini liat dulu." Erlangga membalikkan tubuh Siti yang membelakangi dirinya.


"Lihat aku. Lihat mataku."


Siti menunduk.


"Sayang ...." Erlangga menarik dagu istrinya penuh kasih sayang.


"Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak perduli bagaimana dirimu, gendut, jelek, buruk rupa pun aku tidak perduli. Aku akan tetap mencintaimu dulu, sekarang dan juga nanti. Percayalah."


Hiks hiks


"Beneran?" tanya Siti dengan menekuk wajahnya.


"Iya sayang. Beneran, aku tidak akan meninggalkan kamu hanya karena kamu gendut."


Hiks Hiks


"Udah, dong. Jangan nangis lagi, ya."


"Cun" ucap Siti sambil mengerucutkan bibirnya.


Erlangga terkekeh melihat tingkah istrinya yang belakangan ini semakin manja dan sensitif.


Tawa itu terhenti seketika saat kedua mata Siti membulat sempurna. Segera dia menarik tengkuk Siti. Mendaratkan ciuman panas di bibir wanita cantik yang membuat hidup Erlangga semakin berwarna.


Ciuman itu berlanjut di atas ranjang. Dan berakhir dengan pakaian mereka yang berserakan di lantai.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2