Dimadu Tak Semanis Madu

Dimadu Tak Semanis Madu
Bonus #9


__ADS_3

[Assalamualaikum, Siti.] aku terdiam melita pesan yang masuk. Tanpa nama. Ingin aku balas, tapi tidak tahu siapa pengirimnya. Lama berpikir, akhirnya ku klik profilnya.


Johan?


[Maaf, sebelumnya. Aku bahkan harus berbohong pada Mrs untuk mendapatkan nomermu] apa sebegitu niatnya dia? entahlah ....


[Waalaikumsalam, iya, Jo. Ada yang bisa aku bantu?]


[Tidak. Aku hanya ingin menanyakan kabarmu dan Aksa. Kalau harus ke rumahmu setiap hari hanya karena ingin mengetahui kabar, rasanya tidak etis. Takut timbul fitnah.]


[Oh, terima kasih. Alhamdulillah kami baik. Gimana Gisel? apa dia juga baik?"


[Apa hanya Gisel?] terpaku sejenak.


[Kalau papinya Gisel, aku yakin dia baik.]


[Wah, punya telepati, ya. Atau feeling-nya begitu kuat?] kembali aku dibuat tidak bisa melakukan apapun. Bingung dan juga ... entahlah.


[Entahlah ....]


[Jawab aja iya, enggak susah ini. Membahagiakan orang itu dapat pahala.]


Astaghfirullah. Kenapa ini orang selalu saja membuat aku tidak berdaya. Eh, maksudnya. Ah, sudahlah. Kenapa denganku?


[Maaf, kalau ingin tau kabar, aku sudah memberi tahu bukan?]


[Ngobrol sebentar memangnya dosa?] Gusti, ini orang! aku harus membalasnya apa sekarang?


[Dua hari lagi anak-anak belajar di luar, tidakkah kita membeli sesuatu untuk persiapan nanti? semisal baju untuk anak-anak, atau bahan makanan yang akan di bawa. Oh, iya. Aksa sudah ngasih tau belum, anak-anak harus bawa bekal makan semenarik mungkin dan itu akan di nilai. Yang menjadi juara akan di berikan hadiah.]


[Aksa tidak mengatakan hal itu.]


[Sudah ku duga. Anak laki-laki memang tidak akan sedetail itu menjelaskan hal yang tidak mereka sukai] kembali aku terdiam dibuatnya. Apa Johan mencari nomor ponselku hanya untuk memberitahu ini? bahkan dia sampai berbohong pada Mrs.


[Besok, setelah anak-anak pulang, kita pergi bersama, ya. Bawa mobil masing-masing saja untuk menghindari gosip ibu-ibu di sekolah.]


[Insya Allah.]


[Ok. salam buat Aksa]


[Untuk bundanya?] send. Astaghfirullah! apa yang aku kirim barusan. Ada apa denganku? cemas, malu dan ... ah, ceroboh banget aku. Bagaimana ini? dia pasti salah faham.


"Lah, kenapa aku sibuk sendiri. Di hapus untuk semua orang kan bisa." segera aku delet. Lagi pula ceklisnya belum berubah, dia belum baca.


[Kenapa di hapus, aku sudah baca]


"Apa? dia sudah bac .... astaghfirullah! dari atas sampai bawah warna ceklisnya emang gak berubah." aku mengigit bibir. Malu, malu banget.


[Untuk ibunya, cukup titipkan salam nanti di sepertiga malam ku saja.]


Deg! jantungku ... tolong, kenapa dengan jantung ini. Kenapa tanganku terasa teraliri listrik?


Ruangan ber-AC. Kenapa aku merasa gerah? Ah! lupakan. Lebih baik aku segera tidur. Agar besok tidak terlihat ada lingkaran hitam di mataku. Ishhh, emang kenapa? ya Allah ... tenangkan hatiku. Kumohon.


*


"Kenapa naik taxi?"


"Emm, itu ... Mobil aku bocor di tengah jalan."


"Oh, begitu rupanya. Ya sudah kita ...." Johan menepuk jidatnya. Dia lupa hari ini membawa mobil sport.

__ADS_1


"Jeng Siti, Pak Han." seseorang memanggil kami. Dia melambai dan berjalan menghampiri.


"Kalian ini, sudah terlihat seperti keluarga saja. Serasi sekali."


"Bu Renata bisa saja. Tapi, memang suka bener banget ucapannya." ucap Johan.


"Sok lah, resmikan saja. Bukan begitu anak-anak?"


"Benarkah? apa benar Bundanya Aksa akan jadi mami aku?" tanya Gisel penuh semangat. "Aksa, kita akan jadi sodara. Kamu mau kan jadi adik aku? kita akan main bersama selanjutnya hari." celoteh Gisel tanpa jeda.


"Aksa. Kamu kenapa? sakit? kok diem aja." aku merasa heran dengan Aksa yang tidak sesemangat Gisel. Ku pegang dahinya tapi tidak panas.


"Biarkan saja, jangan di paksa bicara." ucap Johan. "Lebih baik kita pergi sekarang, sebelum sore."


"Aku naik taxi saja."


"Baiklah, kita ketemu di sana, ya."


"Loh, mau pergi ke tempat yang sama, kok beda mobil?"


"Mobil saya cuma muat dua orang, Bu."


"Eh, iya. Nanti ganti mobil aja Pak. Mobil buat keluarga. Jangan yang kecil biar muat."


"Hahaha. Iya, Bu. Tentu saja. Kami permisi kalau begitu."


"Iya, hati-hati. Selamat bersenang-senang."


"Permisi, Bu." aku pamit, dan dijawab dengan senyuman.


Sampai di tempat tujuan.


"Kita kemana dulu?" tanya Johan.


"Baiklah. Kita let's go." Johan memegang tangan Aksa dan Gisel. Sementara aku mengikuti mereka dari belakang.


Sesekali Johan mengeluarkan candaan yang membuat kedua anak itu tertawa. Bahkan, Johan menggendong Aksa dan Gisel secara bersamaan. Segera ku hampiri mereka.


"Sayang, turun. Papinya berat gendong kalian berdua."


"Enggak!" tolak Aksa.


"Gak apa-apa, gendong bundanya juga aku kuat," godanya. Membuat wajahku memanas. Mungkin sudah terlihat seperti tomat.


"Jooo ... malu, ada anak-anak."


"Makanya, mau aku halalin. Biar becandanya bisa berduaan."


"Ishhh." reflek aku mencubit pinggangnya.


"Aduuuh, duhh." dia merasa geli. Aku lupa dia sedang menggendong anak-anak. Dan hampir terjatuh. Segera aku membantunya agar Aksa dan Gisel tidak terjatuh.


Kami saling berhadap-hadapan. Tanganku memegang lengannya. Seperdetik kami saling memandang. Hingga aku tersadar dan langsung mengalihkan pandangan.


Johan dan anak-anak kembali berjalan bersama. Dan aku mengikuti dari belakang.


Jantungku. Kenapa berdetak seperti ini? sesak rasanya. Aku memukul-mukul dada perlahan.


Perasan apa ini? kenapa aku begitu gelisah. Aku merasa cemas dan tidak tenang.


Deg! aduuuh. Kenapa sesak begini?

__ADS_1


Aku mencoba mengatur nafas. Menghirup dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan.


Kenapa aku merasa ada seseorang yang sedari tadi mengawasi? Aku celingukan mencari kesetiap penjuru. Tak ada siapapun.


"Bunda Aksa!" panggil Johan. Dia mengangkat kedua bahunya, bertanya. Aku menggelengkan kepala. Dan segera menghampiriku mereka.


Tunggu! langkahku terhenti saat melihat sosok yang terasa tidak asing. Siapa dia? dia yang berjalan tergesa, menjauh dariku.


Lee? apa itu dia? ah! mana mungkin. Kenapa juga dia harus ada disini?


Ada apa denganku? kenapa aku selalu merasa dia terus mengikutiku? benarkah itu? atau karena aku yang tidak sadar menginginkan itu benar-benar terjadi?


Astaghfirullah .... kenapa aku ini?


"Ada apa?" tanya Johan yang tiba-tiba ada di dekatku.


"Bukan apa-apa, aku hanya merasa sesak sedikit?"


"Kamu baik-baik saja? apa sebaiknya kita pulang?" dia begitu khawatir.


"Tidak perlu, sebaiknya kita pergi sekarang. Nanti keburu malam."


"Baiklah. Kalau kamu cape, bilang saja, ya."


"He-em. aku baik-baik aja kok."


Kami pergi berbelanja, membeli beberapa pakaian untuk Aksa dan Gisel. Gisel sedikit memaksa untuk membeli baju yang sama dengan Aksa. Aku kasian sama Aksa, hanya saja aku tidak tega pada Gisel. Dia begitu bersemangat membeli barang yang sama dengan Aksa. Dia antusias karena beranggapan akan segera menjadi sodara Aksa.


"Ini, mba. Saya mau bayar."


"Jangan. Biar aku saja yang bayar."


"Tapi, Jo ...."


"Kalau pergi sama aku, itu artinya kamu dan Aksa tanggung jawabku sepenuhnya." aku ingin menolak. "Jangan ngeyel!" mulutku yang hendak berbicara, ku tutup kembali.


"Oya, sekarang kita ke supermarket, kita beli bahan makanan untuk bekal kita nanti."


"Horeee ...." Gisel begitu semangat. Sementara Aksa, dia hanya tersenyum simpul.


Aku sibuk memilih bahan makanan, seken Aksa dan Gisel bermain troli yang di dorong Johan.


Begitu semuanya selesai, kami berpamitan. Aku pulang dengan semua belanjaan menggunakan taxi.


"Bun ...."


"Iya, kenapa, Nak?"


"Gisel mau jadi kakak aku, ya?" aku hanya bisa diam mendengar pernyataan darinya. Apa yang harus aku katakan?


"Kenapa sayang? tidak suka, ya?"


"Aksa, mau sama Papi." aku tersenyum simpul. Benar apa yang Zidan dan Johan katakan. Aksa membutuhkan seorang Ayah, dia selalu mengatakan menginginkan Papi.


"Baiklah, Nak. Kali ini, bunda mengalah. Kamu akan mendapatkan papi sesegera mungkin."


"Benarkah? apa aku akan memiliki papi? aku akan bermain setiap hari dengannya? Bun, Bun, aku boleh bobo sama papi? Reymond bilang dia kalau mau bobo, dia akan main kuda-kudaan sama ayahnya. Yang jadi kuda ayahnya, nanti Reymond naik di punggung ayahnya. Aku juga mau seperti itu."


Aksa terus berceloteh. Ah, bahkan dia menginginkan apa yang teman-temannya lakukan bersama ayahnya. Nak, maafin Bunda, ya. Bunda telat mengetahui apa yang hati kamu inginkan.


Dia bahkan sangat antusias saat mencerna keinginannya, apa yang akan dia lakukan saat memiliki seorang ayah.

__ADS_1


Mas, semoga keputusan ini tidak salah. Tidak ada maksud hati untuk untukku mengkhianati cinta kita. Aku minta maaf, sayang.


Bersambung ....


__ADS_2