Dimadu Tak Semanis Madu

Dimadu Tak Semanis Madu
BAB 44


__ADS_3

Bantu aku membencimu. Kuterlalu mencintai mu, dirimu begitu berarti untukku.


Ikhlas itu bukan perkara mudah. Tidak segampang mengucapkannya. Merelakan dalam diam, itu bukan termasuk ikhlas. Apalagi hati masih merasa sakit. Bukankah itu hanya sekedar kepasrahan, atau sekedar rasa putus asa?


Menangis dalam benaman bantal adalah salah satu cara untuk Siti menumpahkan rasa sedihnya. Sedih saat malam datang, suami tercinta berada di kamar wanita lain. Meski status mereka sama-sama sebagai istri.


Tidak ada yang Siti lakukan selain segera mengambil air wudu dan melaksanakan salat. Tidak pernah beranjak dari atas sajadah. Menangis dan memohon pada Sang Maha, agar hatinya kuat menghadapi kenyataan.


Membayangkan apa yang Lee dan Naura lakukan bersama, selalu berhasil membuat dada Siti hampir meledak.


Tak sepantasnya memang. Akan tetapi, bagaimanapun juga, Siti hanyalah manusia biasa.


Tuk tuk tuk


Ketukan pintu membuyarkan khayalan Siti yang tidak karuan. Segera dia menuju pintu dan membukanya.


"Lee?"


Siti merasa heran sekaligus terkejut mendapati suaminya ada di balik pintu. Bukankah?


"Apa aku boleh masuk?"


"Iya, tapi ...."


"Bolehkah?" tanya Lee, seraya mengangkat kedua alisnya.


Siti segera melangkahkan kaki, memberi ruang untuk Lee bisa masuk ke dalam kamar mereka. Siti menutup pintu. Wajahnya masih menunjukkan rasa herannya.


"Sayang, kenapa ke sini?"


"Haram?"

__ADS_1


"Bukan itu maksudku, aku ...."


"Aku lelah, ingin tidur. Nanti kita bicara lagi."


Tanpa menjelaskan apapun lagi, Lee tidur dengan posisi memunggungi Siti.


Mungkin Siti masih merasa aneh, dan bertanya-tanya. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, dia merasa bahagia.


Pukul 05. 00 WIB


Siti yang tidur pulas terperanjat. Keterkejutannya semakin menjadi saat dia melihat jam. Segera berlari mengambil wudu dan salat subuh.


Dia baru menyadari suaminya tidak ada di atas ranjang begitu selesai salat.


Masih dalam keadaan memakai mukena, Siti keluar bermaksud mencari suaminya, Lee.


Menuruni anak tangga. Matanya menjelajahi setiap ruangan yang dia lewati. Tidak ada orang yang bisa dia tanyai. Sepi.


Langkah Siti terhenti saat mendengar seseorang sedang berbicara. Tidak ada Makassar untuk menguping. Namun, kaki Siti terasa berat untuk melangkah.


"Kamu harusnya tau sejak awal, pernikahan kita hanya sebatas penghulu, tidak lebih."


"Lalu, bagaimana nasib anak kita nanti?"


"Lahirkan. Biar aku dan Siti yang menjadi orang tuanya. Setelah itu, kita akan bercerai. Akan kuberikan semua harta yang aku miliki."


"Lee!"


"Pelankan suaramu. Kehamilan ini tidak ada yang boleh tau selain kita."


"Lee. Aku bukan sampah. Tidak bisa seenaknya kamu buang begitu saja setelah kamu menikmati semuanya. Aku ini ibu dari calon anakmu. Setidaknya hargai itu."

__ADS_1


"Dia anakku, dan Siti ibunya."


"********! Kalau kamu tidak menikahi aku secara sah, aku akan membunuh bayi ini. Aku akan menggugurkan kandunganku."


"Jangan!"


Suara Siti yang lantang dan tiba-tiba itu, membuat keduanya menoleh secara bersamaan.


"Jangan lakukan itu, Naura. Bayi itu tidak bersalah. Kumohon."


"Kamu menginginkan bayi ini hidup? Hah?"


Siti mengangguk kepala. Dengan raut wajah yang cemas.


"Pergi dari hidup Lee. Biarkan aku dan anak kami hidup bahagia. Keberadaan dirimu hanya akan membuat anakku bingung."


"Diam! tutup mulutmu," bentak Lee. Matanya memerah, tangannya terangkat ke atas bersiap memukul wajah Naura. Namun, Siti menahannya.


"Jangan, sayang. Bagaimana pun juga dia sedang hamil, ada anakmu di dalam rahimnya."


Lee masih tidak menurunkan tangannya. Matanya menatap tajam Naura dengan penuh kebencian dan amarah.


"Sayang ...." lirih Siti.


Perlahan tangan Lee turun. Siti yang tau suaminya masih penuh emosi, segera memeluknya. Begitulah Siti menenangkan suaminya jika sedang marah.


Kepalan tangan Naura begitu kuat saat melihat adegan tersebut.


"Dengarkan baik-baik. Dia ...." Lee menunjuk perut Naura. "Tidak lebih penting dari Siti, camkan itu."


Dengan darah yang masih mendidih, Lee menarik tangan Siti dan pergi meninggalkan Naura.

__ADS_1


Siapa yang tidak akan merasa sakit hati dengan sikap Lee barusan. Semua wanita terutama ibu hamil pasti akan sangat terluka. Pun, Naura.


Tangisannya pecah, memenuhi kamar tamu yang dia gunakan semenjak Lee pulang dari rumah sakit.


__ADS_2