
"Oeekk ... Oeekk ...."
Sedari pagi Siti muntah-muntah. Badannya terasa gak enak. Kepalanya terasa berat. Keringat dingin terus bercucuran.
Dia merasa lemas. Lututnya gemetar. Tangannya dingin. Berkali-kali dia minum teh manis hangat, berharap rasa mualnya sedikit berkurang. Namun, tetap sama.
"Kenapa Lee lama banget sih! Gak tau apa istrinya sakit." gerutu Siti, sambil sesekali melirik jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 17. 30 WIB
"Apa aku telpon mama saja ya? apa beliau sibuk? coba saja, gak ada salahnya."
Beberapa detik kemudian.
"Assalamualaikum Mam."
"Waalaikumssalam, kenapa sayang?"
"Mam, Lee nelepon gak?"
"Nggak tuh! memangnya Lee kemana?"
"Lee ..."
Ah! apa harus aku bilang pada mama, kalo Lee sedang menemui Naura? jangan!
"Tadi Lee bilang ada urusan, cuma gak tau kenapa susah di hubungi. Oeekkk ...."
"Sayang? kamu kenapa?" Bu Han panik.
"Siti gak enak badan Mam, rasanya perut Siti di aduk-aduk. Mual."
"Ya sudah, Mama segera kesana ya ...."
"Gak apa-apa Mam?"
"Nggak lah! tunggu Mama ya ..."
"Iya Mam."
Siti menutup ponselnya. Dia terus memijat kepalanya yang sedari tadi terasa cenat cenut.
Hampir satu jam lamanya, akhirnya Bu Han datang. Membawa beberapa makanan dan minuman.
"Kamu masuk angin kali. Sudah minum obat belum?"
"Belum Mam, Siti gak bisa minum obat."
"Sejak kapan kamu begini? itu wajahnya sampe pucat."
"Hampir seminggu Mam."
Ya, sudah seminggu ini aku merasakan hal ini, Lee yang jatuh ke kolam renang, aku yang sakit. Keluh Siti dalam hati.
__ADS_1
"Seminggu? udah ke dokter?"
"Belum Mam. Awalnya cuma pusing biasa, cuma sekarang malah makin parah. Lee juga!"
Bu Han sedikit terperanjat, dengan nada suara yang tinggi.
"Jadi suami nyebelin banget! Siti tuh enek Mam, kalau mencium bau parfum dia. Di bilangan jangan pake wewangian, ngeyel! Muntah-muntah jadinya kan?"
Bu. Han sedari tadi melihat gerak gerik Siti. Melihat kondisi fisiknya yang sedikit berbeda. Otaknya terus bekerja, mencocokkan segala sesuatu yang terjadi selama seminggu ini.
"Sayang ...." Bu. Han membelai kepala Siti lembut.
"Ya, Mam."
"Kamu biasanya menstruasi tanggal berapa?"
"Biasanya sih tanggal lima Mam."
"Sekarang sudah mau akhir bulan, tanggal lima kemarin mens nggak?"
"Kenapa Mam? Aku udah mau dua bulan ini gak mens, tapi biasanya juga begitu sedari gadis. Mens ku nggak beraturan."
"Oh ... Mm Mama keluar sebentar ya, nggak lama kok, paling 10 menit saja."
"Ada apa Mam?"
"Nggak ada apa-apa, sebentar ya ...."
Dengan langkah yang cepat, Bu. Han segera pergi keluar, meminta supir untuk mengantarnya ke mini market terdekat. Tak butuh waktu lama, Bu. Han sudah kembali.
"Kenapa Mam?"
"Sudah! ikut saja."
Bu. Han tau persis, menantunya bukan wanita pintar. Dengan telaten, Bu. Han meminta Siti untuk buang air kecil. Awalnya Siti malu-malu, hanya saja Bu. Han meyakinkan dia, bahwa antara anak dan ibu, tidak ada yang harus merasa malu.
Di dalam mangkuk kecil, Siti menampung air kencingnya. Dengan tidak merasa jijik sedikitpun, Bu. Han mencelupkan alat tespek. Hasilnya sungguh luar biasa, apa yang sedari tadi Bu. Han harapkan, kini jadi nyata.
"Dua!"
"Kenapa Mama?"
"Siti, Dua!"
"Apa yang dua Mam?"
"Kamu hamil sayang ... Mama akan jadi Nenek!" tanpa malu Bu. Han berjingkrak kegirangan.
"Ya Allah ... Alhamdulillah ...." Siti bersujud mengucap syukur.
"Mama telepon eyang sebentar."
__ADS_1
Bu. Han segera mengambil ponselnya, dia berjalan ke luar ruangan.
Siti menangis bahagia. Kini, ada nyawa yang sedang tumbuh di dalam rahimnya. Buah cinta dirinya bersama Lee.
"Lee. Cepat pulang ... kita akan menjadi orang tua." bisiknya di sela-sela Isak tangis kebahagiaan.
"Tidaaakkkkkkkkk!!!"
Suara teriakan itu membuat Siti kaget bukan kepalang.
"Mama ...."
Siti segara beranjak dari tempat tidur, dia segera berlari cepat menuruni anak tangga.
"Mama!" Siti berteriak begitu melihat Bu. Han tergeletak di bawah tak sadarkan diri. Sudah ada Pak. Udin—supir pribadi Mama. Dan juga ....
"Erlangga?"
"Siti ...."
"Mama kenapa? tadi dia baik-baik saja, kenapa sekarang?"
"Ayo kita angkat dulu Tante ke kasur."
Pak. Udin dan Erlangga mengangkat tubuh Bu. Han. Membaringkan tubuhnya di atas kasur.
"Ada apa A? Mama kenapa?"
"Siti ...."
Erlangga nampak ragu untuk bicara.
"Kenapa? katakan A."
"Sebelumnya, kamu harus tenang dulu."
"Ada apa sih?" wajah Siti mulai ketakutan.
"Lee tertembak."
"Tertembak? ini ... ini maksudnya gimana? aku gak ngerti."
"Lee ... di tembak Naura di kepala, dan nyawanya tidak bisa di selamatkan."
Siti terdiam. Matanya tak berkedip. Jantungnya perlahan melemah. Tubuhnya tiba-tiba dingin. Dan ....
Erlangga memeluk tubuh Siti yang tak sadarkan diri. Di tengkuknya tubuh kecil tak berdaya itu, air matanya tak bisa dia bendung lagi. Apa lagi saat dia menatap benda putih yang kini ada di tangannya, benda putih dengan dua garis merah. Tanda cinta Lee dan Siti.
Kini. Janin yang ada di rahim Siti. Harus kehilangan seorang Ayah yang bahkan belum mengetahui keberadaan dirinya di rahim sang Bunda.
Tangisan Erlangga pecah! Tak kuasa dia membendung sesak yang sedari tadi tertahan di dalam dadanya.
__ADS_1
"Argh ....!!!"
BERSAMBUNG ....