Dimadu Tak Semanis Madu

Dimadu Tak Semanis Madu
Duka Sang Kembang Desa


__ADS_3

"Apa? apa kamu tidak waras, Lee? bahkan mama bisa memaafkan kesalahan Papa kamu yang fatal itu. Kenapa kamu menceraikan Siti hanya karena kesalahan kecil?"


"Dia yang menyebabkan Naura masuk ke dalam rumah ini. Dia penyebab utama aku tidur dengan wanita bedebah itu."


"Itu di luar kendali dia, Lee. Andai Siti tau semuanya, dia tidak akan pernah memaksa dirimu menikahi Naura."


"Bahkan aku tidak mengerti kenapa? kenapa dia begitu memaksa aku untuk menikahinya."


"Mama tidak ingin menantu yang lain. Jemput dia sekarang juga."


"Maaf, Ma."


"Why?"


"Surat perceraian kami sudah aku kirimkan ke kampung."


"Leee!" teriak Bu Han histeris.


Sementara itu, Lee pergi begitu saja meninggalkan Bu Han yang masih merasa sulit untuk sekedar menarik nafas.


...****************...


Bendera kuning berkibar. Tangisan sedih begitu memilukan hati siapapun yang mendengarnya.


Kembang desa yang kini telah layu, harus menerima kenyataan pahit yang paling pahit dalam hidupnya.


Menangis meratapi jenazah Bapaknya yang sedang di kebumikan, dengan tangan yang meremas kuat berkas perceraiannya dengan Lee.


Zidan yang tak kalah bersedih, terlihat bersandar di bahu Tetehnya. Dengan air mata yang sama derasnya.


Mereka hanya tinggal berdua, kini. Tidak da lagi ibu dan bapak yang bisa menjadi pelindung diri. Tidak ada lagi suami yang seharusnya menguatkan Siti saat ini.


Beruntung masih ada Erlangga yang setia menemaninya sejak sebulan lalu dia pergi dari rumah. Laki-laki itu terlihat sibuk membantu warga menguburkan jenazah Pak Muhiddin.

__ADS_1


Pemakan selesai. Para pelayat pergi satu per satu. Kini, hanya ada Siti, Zidan dan juga Erlangga.


Siti menangis histeris di atas pusara bapaknya, bapak yang selalu menjadi kekuatan dirinya selama ini.


"Teh, kita pulang. Udah sore," ajak Zidan


"Nanti malam, kita harus mengadakan tahlilan Bapak. Yuk, pulang."


Setelah beberapa jam, akhirnya Siti beranjak dan pergi.


"Pak, Siti pulang. Bapak yang tenang di sana. Siti janji akan menjaga Zidan. Tidak akan pernah pergi kemana-mana lagi. Siti akan selalu di sini. Di rumah kita. Pak .... Siti minta maaf belum bisa membahagiakan Bapak, belum bisa membalas semua jasa bapak untuk Siti.


"Udah, teh." Zidan ikut terisak.


"Siti pamit, Pak. Selamat jalan, istirahat dengan tenang."


Siti menaburkan bunga dan sebotol air terakhir untuk Bapaknya. Melangkah dengan begitu berat, seakan dia ingin tinggal di sana bersama Pak Muhiddin.


Azan Isya tiba. Siti dan Zidan salat berjamaah. Terlihat air mata masih menetes dari mata keduanya. Begitu salam, Zidan yang tak kuasa menahan rasa sedih, segera berbalik dan menghambur ke dalam pelukan Siti.


"Sabar, doakan bapak kalian tenang dan di lapangkan kuburnya."


"Jangan nangis, nanti bapak kalian berat perginya."


"Insyaallah Pak Muhiddin teh, udah tenang. Kalian yang sabar."


Siti menangis memeluk erat adik yang kini menjadi keluarga satu-satunya di dunia ini.


Siti menghentikan tangisnya saat bapak-bapak yang akan melaksanakan tahlilan datang satu per satu. Ustad datang dan tahlilan pun di mulai.


Hampir satu jam tahlilan berlangsung. Mereka pulang, pun ibu-ibu yang membantu mereka.


Erlangga hanya bisa duduk di luar. Mengingat, Siti yang kini seorang janda dan sedang menjalani masa idah. Setidaknya itulah yang di katakan ibu-ibu tadi. Erlangga datang menghampiri kades di sana. Musyawarah yang menghasilkan mufakat bahwa, Erlangga akan ditemani pemuda lainnya untuk menemani Siti. Mereka menunggu di luar dengan suguhan kopi dan makanan.

__ADS_1


Dari awal sampai akhir, Erlangga yang menanggung dan mengatur segalanya. Siti yang sedang berduka tidak bisa melakukan apa-apa.


Zidan yang tertidur di pangkuan Siti, mulai terlelap. Dengan elusan lembut di kepalanya.


"Kamu juga harus tidur. Jangan sampai jatuh sakit," bujuk Erlangga.


Siti menggeleng pelan.


"Kamu harus kuat, setidaknya demi Zidan. Makan, ya."


"Aku merindukan Lee. Aku sangat berharap dia ada disini. Tapi ...." Siti kembali terisak.


"Kenapa harus seperti ini? sebesar apa? tidak, kesalahanku memang besar, aku yang menyebabkannya dia berzina dengan Naura."


"Itu bukan kesalahan kamu. Itu semua murni karena dia egois. Lee yang mencari kambing hitam atas rasa kecewanya untuk menutupi kemarahannya."


"Makan, ya. Kalau kamu sakit, sama siapa Zidan harus bersandar?"


Siti terdiam. Erlangga menganggap it sebagai persetujuan dari Siti.


Erlangga kembali dengan nasi hangat dan sop ayam.


"Makanlah, apa mau aku suapi?"


"Tidak usah, itu akan menimbulkan fitnah."


"Kalau begitu, makanlah."


"Ya."


Siti mengambil piring. Menyupakan sedikit demi sedikit nasi ke dalam mulutnya. Terkadang, air matanya jatuh menetes. Betapa dia merindukan suami yang kini menjadi mantan suami baginya.


Andaikan saja, mereka masih bersatu. Mungkin, saat ini, Siti sedang mengadukan kesedihannya, mencurahkan air matanya di dalam dekapannya.

__ADS_1


Air mata itu semakin deras mengucur. Rasa sedih di tinggal Bapak, dan sedihnya kehilangan suami tidak bisa di bendung lagi. Tangisannya membuat Zidan terbangun. Melihat Siti menangis, Zidan segera memeluk Tetehnya.


"Sabar, Teh. Ini ujian buat kita. Jangan nangis lagi." Zidan berusaha menenangkan.


__ADS_2