
Halo semua ... kembali lagi bersama Neng Siti. Aku kasih bonus yaaa untuk para Readers yang selalu setia mengikuti setiap ceritaku. Semoga kalian suka ....
Kasih jempol kalian. Dan berikan komen terbaik kalian, apakah cerita ini harus lanjut atau tidak?
Terima kasih π
Love U all.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Teh, menurut Teteh, aku kuliah dimana, ya?"
"Terserah kamu. Dimana pun kamu menuntut ilmu, yang penting adalah tanggung jawab dan keseriusan kamu. Teteh mah cuma bisa doain yang terbaik."
"Ikut omah aja ke ausie, mau?" tanya Mami saat kami sedang sarapan, kala itu. Selepas Erlangga pergi untuk selamanya, banyak keajaiban yang terjadi. Mami yang dulu begitu tidak menyukaiku, kini dia menganggap bahwa aku ada. Aku adalah menantunya, aku dia.
Aku tahu, itu karena Aksa. Aksa anakku yang sekaligus satu-satunya keturunan yang Mami punya saat ini. Apapun alasannya, aku bahagia.
Dua kali dalam sebulan, Mami berkunjung. Disela kesibukannya dia selalu menyempatkan diri untuk menjenguk Aksa.
"Jauh, omah. Lagipula, nanti siapa yang jagain Aksa sama Teh Siti?" jawab Zidan. Seraya menyiapkan sandwich ke dalam mulutnya.
"Iya, sih. Tapi 'kan di sana kualitasnya jauh lebih bagus daripada di sini."
__ADS_1
"Siti sih, gimana anaknya aja Mi, kalau Zidan mau, ya gak apa-apa. Yang penting harus bertanggung jawab pada pilihannya."
"Tuh, Teteh kamu udah ngasih lampu ijo, nanti omah yang akan urus semuanya. Kamu tinggal sama omah di sana. Biar omah yang akan biayai semua keperluan kamu."
"Nanti Zidan pikir-pikir dulu, omah."
"Baiklah. Tidak perlu buru-buru. Masih ada waktu satu tahun untuk memikirkan ini."
"Sayang, serealnya dihabiskan dong," ucapku saat melihat Aksa yang hanya mengaduk sarapannya.
"Om, jangan pergi." mulutnya maju dua senti. Wajahnya terlihat sedih. Matanya mulai terlihat nanar. Aku segera mendekat, mengusap punggungnya perlahan.
"Enggak, sayang. Om tidak akan pergi kemanapun. Jangan sedih, ya."
"Sini, om gendong. Jangan nangis , ya."
Aku hanya bisa menatap saat mereka berdua pergi. Aksa yang memang sangat dekat dengan Zidan, tak akan mampu berpose jauh darinya. Entah kenapa, tapi ada rasa sesak di dalam sini. Di hatiku.
"Hem! ini sih, alamat gak bakalan bisa ajak Zidan ke ausie." Keluh Mami.
"Masih lama kan Mi, siapa tau nanti Aksa akan mengizinkan."
"Ya, semoga saja. Oh iya, nanti sore mami harus segera pergi. Ada meeting yang tidak bisa mami tinggalkan. Minggu depan mami ke sini lagi, atau sesekali kalian yang berkunjung."
__ADS_1
"He he he. Iya, Mami. Kapan-kapan Siti kesana."
"Baiklah. Mami udah selesai sarapan, mau siap-siap dulu."
"Iya, Mami."
Aku membantu Bibi membereskan meja, membawa piring kotor ke dapur. Aku segera menyusul Aksa. Khawatir dia masih menangis.
Zidan, aku dan Aksa hidup bertiga. Memakai kekayaan yang Erlangga tinggalkan. Aksa sudah sangat dekat dengan adikku, mereka tidak mungkin di pisahkan untuk hal apapun. Kami tidak pernah pergi tanpa mengajak satu sama lain kecuali Zidan pergi untuk acara sekolah.
Setelah Bapak dan Erlangga pergi, aku tidak memiliki siapapun di dunia ini. Zidan adikku yang hidup dewasa sebelum waktunya. Dia menjaga dan menguatkan diriku saat terpuruk.
Kata ikhlas hanya mampu aku ucapkan dalam mulut, tapi tidak pernah benar-benar dalam hati. Kata ikhlas melepas kepergian suami, nyatanya tak mampu aku lakukan.
Aku yang memang begitu rapuh, acap kali lemah saat mengingat kehadiran Aksa yang harus aku besarkan tanpa adanya sosok ayah yang harus menjaganya serta.
Hatiku, terbawa sudah. Cintaku terkubur bersama jasadnya. Rasa ini telah lama pergi ikut bersamanya.
Zidan kecil berusaha tegar. Bersikap bijak meski dia sendiri tidak tau apa itu bijak. Dia hanya tau satu hal. Bahwa Tetehnya harus baik-baik saja. Harus hidup demi Aksa yang harus dibesarkan.
Ah! Zidan. Terima kasih kamu selalu menemani di setiap detik terpahit dalam hidup Teteh.
__ADS_1