Dimadu Tak Semanis Madu

Dimadu Tak Semanis Madu
Bonus #16


__ADS_3

Tidak lama setelah Mami pergi, bel rumah berbunyi. Bibi bergegas menuju pintu depan. Sedikit lama. Kemudian terdengar suara semakin mendekat dengan terburu-buru. Mungkin, Bibi menjelaskan apa yang terjadi padaku dan Aksa, barusan.


"Sayang ...." hatiku hampir terhempas mendengarkan sapaan itu. Namun, Lee melewatiku. Dia segera memeluk Aksa yang sedari tadi tampak sangat ketakutan. Ada sedikit nyeri di sini.


"Jangan dekat ... jangan dekat ...." Aksa menolak pelukan dari Lee. Sontak aku dan Lee terkejut. Aku pikir Aksa akan senang saat Lee datang.


"Jangan dekat, nanti Oma marahin bunda. Jangan dekat!" teriaknya.


Aksa? kenapa dengan anakku? di perlahan mundur menjauhi kami. Wajahnya bercucu dengan keringat. Matanya merah dengan tubuh yang gemetar.


"Aksa ... sayang ... sini, Nak. Ini Bunda."


"Jauh ... jauh!" dia berteriak histeris.


"Sayang ... ini papi. Tenang sayang, semua akan baik-baik aja. Papi ada di sini sekarang. Tidak akan ada yang marahin bunda lagi. Papi janji."


"Enggak! papi pulang. Nanti Oma marahin bunda ... papi pergi!" dia semakin histeris. Wajahnya semakin tegang dan pucat. Aku mendekat namun dia semakin meminta aku untuk mundur. Aksa ... Ya Allah, kenapa anak hamba?


Kerudung ku sudah basah bersimbah air mata yang begitu deras mengalir.


Tubuh anakku semakin bergetar hebat. Dia kejang hingga terjatuh. Beruntung Lee cekatan menangkap tubuh anakku sebelum sampai ke lantai. Tanpa basa-basi, Lee berlari membawa Aksa ke mobil. Aku mengikutiku dari belakang.


"Duduk di belakang, peluk dia dengan erat." bentak Lee padaku yang saat itu terpaku, gugup hingga tidak bisa melakukan apapun selain bengong.

__ADS_1


Ada rasa khawatir saat Lee menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak perduli dengan lampu merah yang dia terobos begitu saja.


Hampir 30 menit kami dalam perjalanan. Hingga sampai ke sebuah rumah sakit. Dokter segera memeriksa keadaan Aksa. Memberi oksigen untuk membantu dia bernafas.


"Tidak perlu khawatir, anak ibu baik-baik saja. Mungkin sebentar lagi akan siuman."


"Bunda ...." suara anakku parau. Segera ku dekatkan wajahku.


"Suruh papi pulang. Nanti Oma marah lagi. Suruh papi pulang." dia menangis. Aku menatap Lee. Ada guratan kesedihan dan amarah di wajahnya.


"Aku tunggu di luar. Hanya memastikan dia tidak bisa melihatku bukan?" suaranya tercekat.


Lee .... aku minta maaf.


Dengan langkah gontai, Lee pergi meninggalkan kami. Setelah beberapa menit, Aksa di bawa ke ruang perawatan. Sore hari, dokter datang memeriksa Aksa.


"Tidak, Dok." kuceritakan semuanya yang terjadi sebelum Aksa pingsan.


"Kalau begitu, kita harus berkonsultasi dengan psikolog anak, Bu. Ada kemungkinan Aksa mengalami tekanan. Saya takut, kalau ini tidak di tangani sejak dini, akan berlanjut sampai dewasa."


"Baik, Dok. lakukan apapun untuk anak saya."


"Baiklah, besok kita akan berkonsultasi dengan psikolognya. Usahakan untuk seken, jauhkan dia dari hal yang membuat dia stres."

__ADS_1


"Iya, Dok."


Aku duduk di samping Aksa setelah dokter pergi. Ku tatap anakku yang sangat aku cinta yang kini kembali terbaring di ranjang rumah sakit.


Ya Allah. Kenapa anakku? dia selalu seperti ini saat merasa takut. Apa dia akan baik-baik saja?


Lee? apa dia masih ada di luar?


Drttttt


Ponselku bergetar.


[Jangan cemas, aku masih di sini menunggu. Kalau butuh apa-apa, beritahu saja.]


Lega rasanya dia masih ada di sini. Apakah aku terlalu egois menginginkan dia di sini? sementara, dia sendiri merasa tersiksa karena Aksa menolak bertemu dengannya.


[Kami tidak apa-apa?]


[Aku baik. Jangan terlalu cemas, dia anak yang kuat. Pastikan kondisimu stabil agar bisa menjaga jagoan kita.]


Jagoan kita? ahh, Lee. Apa yang harus aku lakukan sekarang? akankah Aksa menjadi 'jagoan kita'.


Atau hanya akan menjadi jagoan ku saja?

__ADS_1


Astaghfirullah ....


Bersambung....


__ADS_2