Dimadu Tak Semanis Madu

Dimadu Tak Semanis Madu
BAB 34


__ADS_3

"Sudah selesai. Kamu ganteng banget Lee."


Meski dengan senyumannya yang indah, Lee bisa melihat mata Siti, nanar. Meski ini permintaan Siti sendiri, Lee tau pasti hati Siti pasti sakit. Sampai detik ini, Lee masih bertanya-tanya apa dasar dari keinginan Siti untuk menikahkan suaminya sendiri.


Kini, Lee yang tidak bisa menahan air matanya. Di pelukannya Siti dengan erat. Andai saja bisa, ingin Lee lari dan meminta Siti untuk membatalkan keinginan gila dia ini. Hanya saja, dia tau akan ada akibat buruk jika keinginan Siti tidak dia turuti. Lee melihat Siti selalu ketakutan.


"Haruskah seperti ini? bisakah kita hentikan semua ini sayang ... aku merasa tidak sanggup melakukan ini semua. Mintalah hal lain sebagai pengganti nya."


Siti tersenyum dalam pelukan suaminya.


"Semua akan baik-baik saja Lee, bismillah ya ... aku ingin kamu dan aku hidup aman. itu saja."


"Aman? apa selama ini kamu merasa terancam?"


Lee mengurai pelukannya, memberi jarak agar dia bisa menatap wajah cantik Siti.


"Aku tau! selama ini ada yang kamu sembunyikan bukan? katakan! selama ini aku merasa curiga, dulu kamu sampai menangis menolak untuk di madu, tapi sekarang?"


"Gak ada Lee. Semuanya baik-baik saja. Sekarang ayo kita turun. Waktunya sudah tiba."


"Tidak! jelaskan dulu semuanya."


Lee menarik tangan Siti, menghentikan langkah Siti seketika.

__ADS_1


"Aku mohon sayang ... Ayo kita sekarang turun, semua orang sudah menunggu."


Lama mereka saling menatap. Siti yang berusaha nampak tegar, sementara Lee, dia nampak sangat putus asa.


Dengan tidak semangat, Lee berjalan. Menggenggam erat jemari tangan istrinya.


Mereka melangkah perlahan, menuruni anak tangga. Melihat keluarga telah berkumpul. Beserta seorang ustadz dan penghulu yang akan menikahkan mereka. Ada Ryan — kakak tiri, sebagi wali pernikahan Naura nanti.


Semakin dekat, hati Siti semakin tidak karuan. Air mata yang sedari dia tahan, menetes tak terbendung lagi. Untuk sesaat, Lee menghentikan langkahnya, menatap Siti dengan rasa yang sama.


"Kita hentikan semua ini saja."


"Jangan. Aku tidak apa-apa."


Mereka melanjutkan langkahnya. Lee duduk di samping Naura. Siti duduk tepat di samping Bu. Amira dan Erlangga.


"Saya terima nikahnya Naura Hanan Sashmita bin Sashmita dengan mas kawin lima puluh gram emas, di bayar tunai!"


"Alhamdulilah."


Hanya penghulu yang mengucapkan kata hamdalah, yang lain diam dengan perasaan mereka masing-masing.


"Ini keputusan kamu yang sangat fatal." bisik Bu. Han di telinga Siti, setelah semua acara selesai.

__ADS_1


"Mam ...."


"Entahlah. Mama tidak mengerti dan tidak ingin memaklumi semua ini, kali ini mama kecewa sama kamu!"


"Tapi, Mam ...."


Bu. Han segera meninggalkan Siti dan segala sesuatunya disana. Setelah beberapa tamu yang memang hanya keluarga saja—makan, Lee menghampiri Siti.


"Ayo, sayang."


"Loh?" Siti heran, saat Lee menarik tangannya dan mengajaknya ke kamar.


"Sayang. Kamu baru saja menikah, masuk dan tidurlah malam nanti bersama istrimu yang baru."


"Aku hanya menuruti permintaan kamu untuk menikah, sudah 'kan?"


Lee terus berjalan menaiki anak tangga, tanpa menghiraukan panggilan Siti. Dengan langkah cepat, Siti mengikuti suaminya dari belakang.


Sementara itu. Naura hanya diam duduk di kursi tamu, lengkap dengan kebaya akad nikahnya. Dia merasa sangat bodoh! merasa di permalukan. Karena suami yang baru saja dia nikahi itu, pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.


"Stupid!" dumel Naura pada dirinya sendiri. Tanpa menyadari kedatangan seseorang yang kini berdiri tegap di sampingnya.


"Harusnya kamu bisa nolak. Dengan kamu masuk dalam keluarga saya, itu artinya kamu bersiap untuk mati secara perlahan. Kenapa kamu harus masuk dalam rumah tangga anak saya?"

__ADS_1


"Mas ...." Maura kaget, dan segera berdiri dari tempat duduknya.


BERSAMBUNG ....


__ADS_2