
"Teh, sebenar apa yang hati teteh inginkan?" tanya Zidan. Saat kami sedang makan malam tanpa Aksa. Dia mungkin lelah karena seharian diajak main Lee, kemudian berkunjung ke makam ayahnya. Aksa tertidur.
"Kenapa, Zidan?"
"Maksud aku, tentang hati Teteh. Apa Teteh mau memenuhi keinginan Aksa untuk menjadikan Kak Lee Papinya?" aku menatap sejenak mata Zidan. Kemudian menyuapkan kembali makan malam ku tanpa menjawab pertanyaannya.
Zidan hanya diam dengan diamnya aku atas pertanyaannya.
"Teteh tidak tau," ucapku. "Perasaan ini begitu sulit untuk Teteh kendalikan. Satu sisi Teteh ingin membahagiakan Zidan. Sisi lain, Teteh takut berumah tangga lagi."
"Aku hanya ingin tau, perasaan Teteh sama kak Lee." aku kembali menatap Zidan.
Aku menggelengkan kepala "Teteh tidak tau."
"Kalau ragu lebih baik jangan. Hanya saja Zidan ingin memberi sedikit saran untuk Teteh."
"Apa?" kami berdua kompak menyimpan sendok. Dan berhenti melanjutkan makan malam.
"Yang Zidan tau, di antara laki-laki di dunia ini untuk sekarang, hanya Kak Lee yang tulus mencintai Teteh. Dia juga tulis menyayangi Aksa. Bagaimanapun juga Aksa dan Kak Lee masih keluarga, ada ikatan batin di antara mereka berdua. Dan lagi ...." Zidan terdiam.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Kak Lee tidak sekalipun meninggalkan Teteh."
Aku mengernyit. "Maksudnya?"
"Sejak kalian resmi bercerai, dan sejak Teteh menikah dengan Kak Erlangga, Kak Lee selalu saja memperhatikan Teteh dari jauh."
"Bahkan saat Erlangga hidup?"
"Hemm. Dia bilang sama Zidan, ingin memastikan Teteh dan Erlangga baik-baik saja. Dia hanya ingin selalu ada setiap kalian butuh, atau saat kak Erlangga kenapa-kenapa."
"Dia mungkin tidak pandai bicara dan tidak seberani Kak Johan saat mendekati Teteh. Tapi, aku yakin bahwa Kak Lee begitu tulis dan cintanya dalam untuk Teteh. Teh, semua manusia memiliki salah dan dosa, mereka berhak meminta ampun, dan mereka juga berhak tidak mendapatkan hukuman yang lebih berat dari dosanya sendiri. Kenapa Teteh begitu sulit melupakan kak Erlangga yang jelas-jelas menyebabkan Teteh depresi karena teror itu."
"Cukup! jangan mengungkit kesalahan suamiku." aku bangkit dari tempat duduk.
"Jangan hukum Kak Lee terlalu berat hanya karena perasaan Teteh untuk mendiang kak Erlangga."
"Tolong, kita sudahi saja obrolan kita."
__ADS_1
"Jangan terlalu egois dan mengabaikan perasaan orang-orang di sekitar Teteh. Mereka semua masih hidup."
Aku hanya bisa menatap heran dengan sikap Zidan malam ini. Kenapa dia begitu kesal? rasanya kepala ini terasa begitu sakit.
Selama ini, apa mereka mengira aku egois karena terlalu mencintai mendiang suamiku? aku tau, dia salah. Dosa dia pada pernikahan pertamaku memang sangat besar.
Sedih? sangat sedih. Aku kecewa dan bahkan marah pada Erlangga. Aku bahkan tidak ikut saat Lee dan Aksa ke makam.
Kenapa harus seperti ini? laki-laki yang aku cintai dengan segenap jiwa, adalah orang yang menyebabkan hancurnya rumah tanggaku. Bukankah dia melakukan itu karena terlalu dalam rasanya untukku? tapi apa harus seperti itu juga cara dia mendapatkan diriku?
Bahkan, aku tidak tau lagi seperti apa perasaanku saat ini. Baik Erlangga maupun Lee mereka berdua penyebab luka dalam hatiku. Kekecewaannya terbesar dalam hidupku disebabkan oleh mereka.
Tangisan ini mereka berdualah penyebabnya.
Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? haruskah aku menerima Lee kembali? tapi bagaimana jika ada masalah dalam rumah tangga kami kelak, apa dia akan menceraikan aku begitu mudahnya seperti waktu itu?
Entahlah ....
TO BE CONTINUE
__ADS_1