
"Kamu gak kerja? apa tidak merepresentasikan setiap hari kesini? mengantarkan jemput Aksa sekolah."
Lee tersenyum dengan gerakan kepala menjawab semuanya dengan kata 'tidak'.
Ya, setiap pagi laki-laki itu datang ke rumah. Dia kadang sarapan bersama kami. Kemudia pergi mengantar Aksa sekolah, sementara aku hanya duduk di rumah. Matahari naik sedikit, aku memasak menyiapkan makan siang saat mereka pulang.
"Lee, ini jas kamu ketinggalan." ucapku suatu hari lewat telepon.
"Biarkan saja, tolong cuciin sekalian besok aku pakai ke kantor."
"Lee, sepatu kamu ada di rumahku, apa kamu enggak sadar tadi pulang sepatu enggak di pake."
"Aahh, itu. Iya, nanti besok aku ambil. Tolong semir, ya. Kebetulan siangnya aku mau meeting." Ujarnya di hari berikutnya.
Selalu saja ada barang dia yang tertinggal. Bahkan, dia sama sekali tidak mengambil barang-barangnya. Sampai sudah menumpuk di rumahku. Setiap aku mengingatkan dia selalu berkata. "Tidak apa-apa, di rumahku masih banyak."
Pagi ini, aku mendapatkan telpon dari Mami. Dia akan datang setelah hampir tiga Minggu tidak mengunjungi Aksa dan aku. Dia bilang agak sibuk. Jadi tidak bisa berkunjung seperti biasanya yang hanya dua Minggu di ausie.
"Hmmm." Mami menghirup aroma masakan yang aku siapkan untuknya. "Ini yang selalu membuat mami rindu pulang. Masak kamu, sayang."
Aku tersenyum mendengarnya. Melihat Mami yang selalu lahap dengan masakanku, mengingatkan aku pada Erlangga. Dia juga selalu lahap setiap makan makanan yang aku masak.
"Masakan kamu kenapa enak banget? coba kamu buka restoran di ausie. Pasti laku."
"He he he. enggak lah Mi, aku betah tinggal disini. Aku merasakan kehadiran Erlangga di rumah ini."
__ADS_1
"Mmm. Maki tau itu."
Selepas makan, Mami pergi kebelakang. Entah apa yang dia lakukan hingga suaranya terdengar nyaring memanggil namaku.
"Ada apa Mami?" aku sedikit khawatir, takut sesuatu terjadi padanya.
"Ini, baju laki-laki milik siapa? tidak mungkin baju supir ada disini." Mami menunjukkan baju milik Lee yang masih ada di tempat laundry. Sebuah keranjang dimana Bibi meletakkan baju yang telah di setrika.
"Itu, baju Lee, Mami."
"Apa? baju Lee? kenapa ada di rumah ini? apa jangan-jangan ... kalian tinggal satu rumah?" suaranya meninggi.
Aku menggelengkan kepala cepat. " Bukan, tidak seperti itu Mi. Aku bisa jelaskan semuanya. Ayo kita duduk dulu."
"Mi, semua tidak seperti yang Mami kira. Ini salah faham. Sampai detik ini belum ada yang bisa menggantikan Erlangga di hati aku."
"Munafik! ucapan sama perbuatan kamu tidak sesuai. Mami kecewa."
"Mami ... tolong, jangan salah faham. Aku dan Lee tidak ada hubungan apa-apa. Kumohon, percayalah."
"Oma ...." tiba-tiba Aksa datang. Air matanya mulai menetes. Apa dia melihat kami bertengkar?
"Sayang ... masuklah ke kamar Om." kupeluk tubuh kecilnya. Aku tidak ingin dia melihat Mami memarahiku.
"Oma, jangan marah. Papi sama bunda jangan di marahi."
__ADS_1
"Papi? hah! yang benar saja. Bahkan kamu mengajarkan Aksa memanggil dia Papi? astaga! aku sungguh tidak percaya ini."
"Tidak Mami. Bukan seperti itu ... ayo kita bicarakan baik-baik. Jangan berteriak di depan Aksa. Dia ketakutan."
"Dengarkan saya baik-baik. Sampai kapanpun, saya tidak akan mengizinkan kamu kembali bersama Lee. TIDAK AKAN!"
"Mami, Aksa menyukai Lee. Dia butuh sosok Ayah."
"Aksa yang butuh ayah, atau kamu yang butuh belaian pria?"
"Mami! cukup. Hentikan!"
"Dari awal saya tau, kamu bukan wanita baik-baik. Kalau bukan karena Erlangga sekarat saat itu, saya tidak akan pernah mau mengizinkan kalian menikah. Saya berubah baik sekarang, karena demi Aksa." ucapnya dengan penuh amarah. "Kalau sampai kamu masih berhubungan dengan Lee, awas! saya akan bikin hidup kamu menyesal. Ingat itu!
Mami pergi membawa tas dan kopernya keluar dari rumah.
Tangan kecil Aksa yang sedari bergetar ketakutan, mengepal keras di gamisku.
Kupeluk erat. Agar dia tidak merasa takut. Dia tidak sepantasnya melihat ini semua. Ya Allah, bagaimana bisa Mami melakukan semua ini di hadapan anak kecil?
Aksa menangis, dia menangis memanggil Erlangga. Hatiku kembali tersayat, luka lama yang masih menganga bagai tersiram air garam.
Mas, andai kamu ada disini, aku yakin kamu akan melindungi aku dan anak kita. Aksa ketakutan, Mas.
Bersambung ....
__ADS_1