
Sepanjang perjalan, Siti tak pernah menghilangkan senyum bahagianya. Betapa tidak? Dia sudah kama tidak bertemu Bapak dan Adiknya setelah resmi menjadi istri Lee.
Ini kali pertama dia kembali ke rumah reotnya. Rumah yang selalu memberikan kebahagian dalam segala keterbatasan di dalamnya.
Entah sejak kapan Siti pun begitu berani untuk bermanja-manja pada suaminya. Padahal dia tau, dalam hati Lee ada wanita lain. Apa yang di pikirkan Siti sebenarnya.
Perjalanan yang cukup jauh, membuatku Siti merasa ngantuk, dia menggenggam jemari suaminya. Disimpannya kepala di bahu Lee. Dan diapun tertidur.
Sesekali Lee melirik Siti, mencium kepala Siti. dan mengeratkan genggaman jemari mereka.
Dengan lembut, Lee membelai wajah istrinya.
"Siti, bangun. Kita sudah sampai"
"ehmm"
"Bangun, kita sudah sampai di depan rumah Bapak, itu Zidan nunggu di luar"
Siti berusaha membuka mata yang terasa begitu lekat satu sama lain. Perlahan dia mengangkat wajahnya. Menatap Lee dengan mata yang mengerjap-ngerjap.
Siti hanya tersenyum manja saat Lee mengecup bibirnya.
"Bangun" Ucap Lee sambil menghuyungkan kepala Siti pelan.
Siti tersenyum, dia menengok ke arah luar, dan merasa sedikit heran. Ada Zidan di luar, namun entah berada dimana mereka saat ini.
Siti segera membuka pintu mobil. Dia berjalan mendekati Zidan, dengan badan yang sesekali memutar meneliti sekitar yang terasa begitu asing, tapi tidak.
"Assalamualaikum..." Siti mencium tangan Bapak.
"waalaikumsalam... " Jawab Bapak dan Zidan serempak.
"Teh..." ucap Zidan sambil menyalami Kakaknya.
"Assalamualaikum Pak" sapa Lee dari belakang tubuh Siti. Lee menyalami Bapak dan juga Zidan.
"Betah Pak di rumah yang baru? Zidan?"
"Alhamdulillah, Bapak betah Jang"-- sebutan untuk anak laki-laki (ujang)
"Oh, syukurlah kalau begitu Pak"
"Iya A, sekarang rumah Zidan ada tv sama kulkasnya" Oceh Zidan bahagia.
Siti hanya bisa menyimak apa yang mereka bicarakan. Lee melirik sekilas istrinya dengan di iringi sebuah senyuman manisnya. Lee tau, Siti saat ini sedang merasa bingung. Lee mengeluarkan tangan dari sakunya, merangkul bahu Siti dan mengikut langkah Bapak yang sudah mendahului mereka masuk ke dalam rumah.
Rumah sederhana, modern namun memiliki konsep perkampungan. Tembok berbahan beton, namun ada beberapa bagian yang masih menggunakan kayu dan anyaman bambu-- bilik.
Siti semakin bingung saat berada di dalam rumah itu. Matanya tidak berhenti menelusuri setiap sudut ruangan.
"Ayo, makan dulu saja. Kalian pasti cape"
Dengan perasaan yang masih bingung, Siti mengikuti Bapak nya menuju ruang makan.
"Ini rumah kita yang baru Siti, Lee yang membangun rumah ini. Katanya kasian sama Zidan tidur kedinginan di rumah yang dulu mah"
"Oh... "
"Balong oge, nu di sisi imah udah jadi milik kita"
// Kolam juga, yang di pinggir rumah...//
__ADS_1
"Oh... "
"Bapak juga di belikan sawah, kambing juga banyak sekarang mah. Itu si Zidan, hayamna loba pisan".
//Itu si zidan, ayamnya banyak banget//.
"Oh... "
"Ari Teteh, kunaon ah oh ah oh wae ti tatadi" Tanya Zidan.
// Teteh Kenapa ah oh ah oh saja dari tadi//
"Eh itu, Teteh masih itu Zidan..."
"Reuwas nya?"
// Kaget ya?//
"Iya, masih gak nyangka ajah. Tapi Teteh seneng, Zidan sama Bapak teh hidup bahagia disini"
"Ini semua teh berkat Ujang Lee. Dia sama keluarganya baik pisan"
"Kenapa Bapak gak ngasih tau Siti"
"Aku yang meminta Bapak" Sela Lee.
Siti melirik. "Kenapa?"
"Sureprise!"
Siti terenyuh, air matanya berlinang, dia menangis terharu.
Lee membalas dengan senyuman dan anggukkan anggukan kecil.
"Ya sudah, sekarang mah sok makan sampaikan kenyang. Tapi alakadarnya saja"
"Ini enak kok Pak" Puji Lee.
Siti tersenyum dalam diam. Dia memperhatikan satu-satu tiga lelaki yang ada di dalam hidupnya. Betapa bahagia melihat senyuman dan tawa di wajah mereka bertiga.
Bapak dan Zidan tertawa lepas saat Lee mengeluarkan candaan-candaannya. Siti bertanya, sejak kapan suaminya yang pendiam itu pandai melawak.
Meski ada sedikit luka yang menyeruak dari hatinya, Siti tutup rapat luka itu. Saat ini dia harus bahagia bersama tiga lelakinya.
*****
Angin berhembus, menyapa lembut di kulit Siti yang sepertinya diapun merindukan gadis desa yang jelita dan baik hati itu.
Helaian-helaian rambut yang bertirai manja di wajahnya, terseok-seok tertiup angin.
Kimono tidurnya yang agak tipis, membuat Siti bergidik sesekali, menahan dingin yang mencubit tubuhnya.
Wajahnya tersorot cahaya rembulan yang menyelinap di balik dedaunan. Menyorot bola mata indahnya.
Tak sekejap pun mata Lee berkedip. Menatap Indahnya ciptaan Tuhan yang dia miliki saat ini.
Diliriknya jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganya.
30
"Sudah malam, lebih baik kita tidur" Ajaknya
__ADS_1
"Hmm?" Siti mendongakkan kepala, menatap Lee yang sudah berdiri.
"Sudah malam"
"Oh... " Siti meletakkan cangkir teh yang sedari tadi dia genggam untuk menghangatkan telapak tanganya.
Mereka berjalan bergandengan menuju kamar.
Siti yang memang sudah merasa lelah, segera merebahkan tubuhnya, menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Kakinya terasa kaku kedinginan.
"Kenapa?" Tanya Lee setelah dia berbaring di samping Siti. Mata mereka bertemu. Ibu jari Lee mengusap-usap pipi Siti.
"Dingin banget"
"Kelamaan di luar tadi kita"
"Iya, gak kerasa keasikan menghirup udara disini. Rasanya aneh, tapi aku bahagia banget bisa disini sekarang. Bertemu Bapak dan Zidan. Belum lagi mereka terlihat begitu bahagia dan sangat sehat, sepertinya mereka juga terlihat sangat bersih dan rapi. Tidak pake baju lusuh dan sobek lagi, tidak cape bekerja juga, dan..." Celotehan Siti terhenti saat Ibu jari Lee tidak lagi mengusap pipi Siti. Ibu jari Lee yang panjang, putih dan terasa dingin itu kini membelai bibir Siti dengan penuh gairah.
"Badan kamu akan terasa hangat jika kulit kita bersentuhan satu sama lain"
Siti menatap suaminya, dia melihat tatapan suaminya yang fokus pada bibir Siti, mata Lee terlihat begitu haus akan kasih sayang, ada gairah yang dia berusaha tahan disana.
Sedari tadi Siti berbicara, sepertinya tidak benar-benar Lee dengar, Lee hanya fokus pada bara yang kini membakar dadanya.
Lee yang sadar Siti sedang menatapnya, menghentikan gerakan Ibu jarinya yang menari-nari di atas bibir Siti. Matanya menatap penuh kesadaran kini.
Siti tersenyum. " Kalau begitu, hangatkanlah. karena aku sangat kedinginan"
Merasa mendapatkan izin dari istrinya. Lee mendekatkan wajahnya. Dikecupnya kening Siti, turun ke pipi, kemudian mencium hidung dan mata Siti.
Sejenak terdiam, di tatap nya lagi mata sang istri, seakan memastikan izin untuk melakukan hal yang lebih jauh.
Siti tau, suaminya ragu. Maka dari itu dia berinisiatif mencium bibir Lee lebih dulu.
Bibir mereka kini terpaut. Lidah mereka saling melilit satu sama lain. Tangan mereka kini menjelajah liar mengikuti naluri kemanapun mereka inginkan.
Decakan hasrat dari ciuman mereka, desahan panas dari bibir Siti. Menghiasi malam indah yang di temani indahnya bulan purnama, angin bertiup menimbulkan bisikan-bisikan dari dedaunan yang saling bergesekan. Suara jangkrik bersahutan, burung malam yang sesekali bersiul, mengiringi dua insan yang saling menggeliat dalam gairah asmara yang begitu membara. Saling merangkul dan mencengkram.
Hai Readers 👋
Terimakasih telah membaca di karyaku ini ya... 🙏🙏
semoga suka dan mohon berikan dukungan agar author tetap semangat untuk selalu up
Jangan lupa
✓ Krisan
✓Like n Komentnya
✓Masukan ke dalam daftar favorit kamu
✓Vote juga ya👌🤗
Terimakasih.
Salam sayang dari author untuk Readers semua😍🤗😘
__ADS_1