
Naura terdiam. Mulutnya menganga. Wajahnya memanas, saat melihat Siti dan Lee tidur dalam ranjang rumah sakit, berdua.
Langkahnya cepat. Ingin sekali rasanya, dia menarik tubuh Siti hingga jatuh ke lantai.
"Ssttt ...." Lee meletakkan telunjuknya di bibir.
Tangan Naura yang hanya tinggal beberapa inci saja dari tubuh Siti, di tariknya dengan gemetar. Menahan amarah yang sangat membuncah.
Nafasnya tersengal-sengal. Bahunya turun naik dengan cepat.
"Pergilah ... untuk saat ini, aku ingin dia yang menemaniku."
"Begitukah? lalu aku? apa hanya karena aku istri sirihmu, aku tidak punya hak untuk ...."
"Pergilah. Aku tidak ingin berdebat saat ini. Kepalaku masih sakit. Kumohon ...."
Tanpa berkata apapun lagi, Naura pergi meninggalkan mereka berdua. Rupanya, langkah Naura yang memang sengaja di hentakkan, membangunkan Siti.
Perlahan wanita itu membuka matanya. Mengerjap beberapa kali. Mencoba memulihkan kesadarannya secara utuh.
Saat dia membuka matanya dengan sempurna, dia sadar ada dalam pelukan Lee. Senyumnya lebar terukir indah di wajah Siti. Wajah yang selama ini muram dan selalu sembab.
"Apa Dokter sudah memeriksamu?"
"Hmm."
"Apa katanya?"
"Aku baik-baik saja."
"Syukurlah. Aku ingin kita segera pulang. Dipan disini terlalu sempit untuk kita berdua."
"Bukankah itu menyenangkan? karena kita akan begitu erat saling mendekap."
"Dasar!"
"Mau kemana?" Tanya Lee, saat Siti melepas pelukannya dan bangun dari ranjang.
"Aku harus menemui Dokter, memastikan kamu baik-baik saja."
"Sudahlah. Diam saja disini."
__ADS_1
"Kamu itu sudah berapa lama koma. Masa iya, bangun begitu saja?"
"Maksudmu? kamu ingin aku koma lagi?"
"Jangan banyak bicara, suara kamu saja bahkan masih sangat lemah. Tunggu sebentar ya."
Lee menggelengkan kepala. Melihat tingkah suaminya, Siti yang sudah turun dari ranjang kembali mendekat. Mencium kening, dan mengusap pipi Lee dengan lembut.
"Hanya sebentar, ya ...." ucap Siti, berbisik.
Setelah Lee memberikan izin. Siti segera menemui suster penjaga yang ada di ruangan depan. Ruangan yang hanya tersekat tembok kaca.
"Suster. Tolong hubungi dokter. suami saya sudah sadar."
"Dokter sudah tau, Bu. Semalam kami hendak memeriksanya, tapi suami Ibu menolak, karena saat itu Ibu sedang tidur bersamanya."
"Ahh. Iya ... itu ...." Siti salah tingkah.
"Nanti pukul delapan, Dokter nya kesini Bu. untuk visit."
"Baiklah. Terimakasih, sus."
"Sama-sama."
Dia menekuk wajahnya saat bertatapan dengan suaminya.
"Kenapa?" Suara Lee lemah.
"Aku malu,ih" Rengek Siti. Memajukan bibir bawahnya.
"Apa sayang ...."
"Tadi malem, Dokter kesini ya? kenapa gak bangunin aku sih?" Siti mencubit perut suaminya.
"Auch! ... uhun uhuk. He he."
"Cubit lagi nih!"
"Jangan, sayang. Masih sakit, bekas benturan kemarin."
"Ahh." Siti nampak merasa bersalah.
__ADS_1
"Ma ma maaf ya. Bagian mana yang sakit?"
"Itu ...." Lee menggerakkan matanya. Menunjuk sesuatu yang membuat Siti kesal.
"Iihhh! apaan sih? baru bangun koma juga, masih porno aja otaknya."
"Salah, ya?"
"Makanya, ayo cepetan sembuh. Kita pulang ke rumah, Ya."
"Hmm."
Siti duduk di kursi. Menggenggam erat jemari suaminya. Perlahan air matanya menetes.
"Kamu tau? aku hampir kehilangan nafas, mendengar kecelakaan itu."
"Maaf."
"Aku merasa duniaku runtuh. Aku bahkan tidak menginginkan apapun lagi. Aku hanya ingin melihat dirimu kembali seperti semula. Lee ... aku tidak ingin kehilanganmu. Rasanya sangat menyakitkan, bahkan membayangkan nya pun aku tidak bisa."
"Sayang ...."
"Aku berdoa pada Allah. Jika memang bisa di bagi. Aku rela membagi sisa umurku untukmu. Asalkan kamu kembali."
"Sayang. Aku minta maaf membuatmu takut."
"Tidak apa-apa. Sekarang, kamu sudah sadar. Semangatlah untuk sembuh. Bukankah, kita akan memiliki anak kembar? itu yang selalu kamu katakan."
"Hmm."
"Sembuh, Ya. Ayo kita pulang. Aku akan mengurus dirimu. Melayanimu sepenuh hati."
"Terimakasih."
Lee menarik tubuh Siti agar semakin mendekat. Memeluknya dengan erat. Dia bersyukur, memiliki istri yang begitu baik dan begitu mencintai dirinya.
bersambung ....
Lee 😍
__ADS_1
Siti