Dimadu Tak Semanis Madu

Dimadu Tak Semanis Madu
Aku Tetap Bersamamu


__ADS_3

Sudah sepekan lamanya Erlangga di rawat. Keadaannya tidak begitu baik. Siti terpaksa tidak menunggu 24 jam lamanya karena dia ada Aksa yang harus di jaga.


Siti hanya akan ke rumah sakit saat siang hari dan itupun hanya beberapa jam saja. Bagaimanapun juga, Aksa lebih membutuhkan kehadiran Siti.


"Erlangga akan segera pulang, mungkin besok." Lee menelpon.


"Alhamdulillah. Makasih, ya, Lee. Kamu selalu ada buat dia."


"Hmm."


Siti menutup pembicaraan mereka. Wajahnya berbinar, hatinya sangat bahagia. Segera dia berlari menghampiri anaknya. "Besok, Ayah pulang, Nak." mencium Aksa. "Kamu pasti kangen, ya. Sabar sayang, besok kita akan bobo bareng lagi sama ayah."


Sepanjang malam, Siti tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dia tidak sabar menunggu hari esok. Hari dimana suaminya akan segera berkumandang dengannya.


Masa nifas belum berakhir. Siti hanya bisa berdzikir saat terbangun di sepertiga malam. Menunggu sampai azan subuh berkumandang. Tidak seperti biasanya, kali ini Siti benar-benar merasa ngantuk dan akhirnya dia tertidur.


...****************...


"Sayang ...."


Suara lembut itu berbisik di telinga Siti. Sentuhannya yang penuh cinta dan kasih membuat dia enggan untuk terbangun. Hanya menggerakkan kepala sedikit.


"Sayang, bangun. Aku sudah pulang."


Siti terperanjat. Kepalanya menengok kesana kemari. Mencari sosok yang terasa sangat nyata baginya.


"Jam berapa ini?" tanyanya.


Dia segera bangkit begitu melihat jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Melihat Aksa yang ada di box bayi, sudah berganti pakaian. Si Bibi memandikan dan mengganti bajunya, pikir Siti.


Siti segera keluar kamar. Mencari seseorang yang bisa di ajak bicara, sepi.


"Kemana orang-orang? rumah ini sepi."


Siti kembali ke kamar. Melihat Aksa lalu menggendongnya.


Dia kembali membaringkan anaknya dengan dia disampingnya. Memeluk anaknya dan kemudian tertidur kembali.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat Siti yang belum memejamkan mata dengan sempurna, terpaksa harus bangun.


"Lee?"


"Erlangga ada di bawah, yuk. Bawa Aksa sekalian."

__ADS_1


"Dia masih tidur."


"Tak apa. Erlangga merindukan anaknya. Bawa saja pelan-pelan."


"Baiklah," ucap Siti, dia kembali masuk ke kamar, mengambil Aksa yang sedang tertidur pulas.


Perlahan, hingga mereka sampai di ruang tamu yang cukup luas. Ada Erlangga yang masih lengkap dengan selang oksigen.


Siti tau kondisi suaminya. Dia menguatkan hatinya. Menahan rasa sedih yang begitu dalam.


"Sayang, itu ayah. Ayo kita samperin, ya."


Siti berbicara pada Aksa yang masih tertidur. Berjalan dengan kaki yang bergetar.


Erlangga melirik. Matanya sedikit terbuka. Dia tersenyum namun tidak banyak bergerak, karena memang tidak bisa.


"Sayang ...." bisik Siti di telinga Erlangga. "Apa kabar? aku seneng kamu udah pulang. Anak kita sangat rindu pada ayahnya."


Tetes air mata terlihat dari sudut mata Erlangga.


Siti menidurkan Aksa di atas dada ayahnya. Bayi itu masih tetap terpejam. Erlangga menatap sayu.


"Sini, biar Mami yang gendong Aksa," pinta Mami Erlangga. Lalu menjauh.


Siti mengambil tangan Erlangga. Mengecupnya dan membelai nya lembut.


Siti berbisik. "Mas, aku ikhlas kalau kamu ingin pergi. Pergilah dengan tenang, sayang. Aku dan anak kita insya Allah ikhlas." tangan Siti bergetar hebat. Dengan air mata yang mulai menetes tak terkendali.


Erlangga mengedipkan mata. Tersenyum dan pergi untuk selama-lamanya.


...****************...


Dua tahun sudah Erlangga pergi. Sejak awal Erlangga pergi, Siti terlihat begitu tegar. Dia sudah cukup kenyang dengan yang namanya di tinggalkan. Toh, pada akhirnya semua orang memang akan pergi. Lagi pula, ada Aksa dan Zidan yang kini menjadi tanggung jawabnya.


"Aku melamar kamu, bukan karena hal lain. Aku hanya ingin menjaga kamu dan Aksa, sesuai amanat yang Erlangga berikan padaku."


"Dia hanya memintamu untuk menjaga, bukan menikahiku. Jadi, jangan jadikan Erlangga alasan untuk semua ini. Sungguh, aku belum memikirkan pernikahan lagi."


"Siti, tapi sampai detik ini, rasa itu masih ada tidak berkurang sedikitpun."


"Aku. Aku yang sudah tidak memilikinya, Lee. Kumohon, berhentilah mengharapkan diriku. Menikahlah dengan wanita lain, wanita yang jauh lebih baik dariku."


"Apa kamu begitu mencintai Erlangga?"


"Aku ingin berjodoh dengannya sampai surga."

__ADS_1


Lee terdiam.


"Aku dan Aksa harus pergi. Kami ingin berkunjung ke makam Erlangga. Jadi, pulanglah."


Siti pergi menemui Aksa yang ada di kamarnya. Mengganti baju, dan bergegas menuju mobil ditemani Zidan. Tanpa memperdulikan Lee yang masih duduk di ruang tamu.


Dari kejauhan, Siti terlihat tersenyum. Baginya berada di makam Erlangga begitu nyaman dan damai.


Hai, sayang. Apa kabar hari ini? aku membawa anak kita, dia merindukan ayahnya. Aku datang bukan untuk berdoa, karena dia tidak pernah putus ku lafalkan dalam hati. Setiap dekit, setiap jam, sepanjang hari.


Sayang, hari ini, Lee kembali melamarku entah untuk kesekian kalinya juga aku tolak. Taukah sayang, aku tidak bisa mencintai orang lain selain dirimu. Cinta itu terkubur bersama jasadmu.


Aku merindukanmu, sungguh. Hati ini terasa sakit, merindukan orang yang tidak bisa lagi kita jumpai. Hanya saja, aku berusaha untuk tetap tegar demi anak kita. Cepat atau lambat akupun akan menyusul mu.


Sayang, tidurlah dengan nyenyak, tenanglah di alam sana. Akan ku jadikan anak kita anak yang solih, anak yang bisa menerangimu di sana.


Erlangga suamiku. Mami kembali pergi, dia memberikan seluruh warisannya padaku dan Aksa. Dia sungguh-sungguh minta maaf padaku. Ah! andai saja kamu masih bisa menyaksikan semuanya. Indah tentu hidup kita.


Sayang, aku rindu. Sangat rindu


Sementara itu di tempat lain


"Siti, apa begitu besar cintamu untuk Erlangga? apa rasa itu akan tetap ada saat kamu tau, bahwa Erlangga yang menyebabkan kamu hampir gila, dan mendorong dirimu untuk memintaku menikah dengan Naura?"


Lee menghela nafas.


"Aku, tidak akan menceritakan apa yang Erlangga ceritakan padaku. Aku tidak ingin menyakiti hatimu terlalu dalam saat mengetahui semuanya. Meski, aku yang harus menahan rasa sakit ini."


Lee tidak pernah pergi jauh dari Siti. Dia yang selalu mengikuti kemanapun Siti dan Aksa pergi. Melihat dalam diam dari kejauhan.


-end-


terima kasih Readers yang sudah setia menunggu Siti.


Itulah jodoh, bertemu bukan hanya karena adanya cinta. Bukan juga karena dengan siapa kita bertemu pertama. Jodoh, itu unik. Dia bahkan bisa bertaut pada raga yang sudah pergi.


Mencintai dan dicintai hanyalah sebuah rotasi tanpa harus ada ikatan didalamnya.


Tidak ada yang salah kalau sudah berurusan dengan yang namanya cinta. Yang salah itu adalah melampiaskan nafsu atas nama cinta.


Jatuh cintalah pada pemilik ragamu yang sesungguhnya. Maka dia akan memberikanmu seluruh cinta di muka bumi ini. Allah SWT. Aamiin.


ok, Readers. Kuy, kita pindah pada BAHASA HALUS SUAMI. kisah tentang kebijaksanaan seorang suami yang banyak di harapkan oleh para istri di dunia ini. Kesederhanaan yang membuat semua orang iri di buatnya.


...Love U all...

__ADS_1


...🌺BILANOUR🌺...


...(Si Penulis Koin Kerokan)...


__ADS_2