
"Mulai detik ini, kamu jangan ikut campur urusanku dengan naura. Biarkan aku melakukan apapun yang ingin aku lakukan."
"Maksudmu?"
"Jangan atur waktuku, aku harus kesanalah, aku harus menemani dia lah ... biarkan aku kesana saat aku mau. Jangan paksa aku lagi oke?"
Lee mulai kesal. Dia yang hari itu ingin menghabiskan waktu bersama Siti, harus pergi menemani Naura. Pergi belanja dan melakukan perawatan tubuh, dan itu atas permintaan Siti.
"Tapi sayang ...."
"Stop! aku ingin istirahat."
"Mau tidur secepat itu? yakin ...." ledek Siti.
"Ya!"
"Sayang ...."
Siti merangkak menaiki ranjang. Menggelitik pinggang Lee. Namun, Lee masih tetap diam. Siti tertawa. Dia tak mau kalah. Kembali menggoda suaminya yang pura-pura tertidur.
Siti meniup dan mengigit telinga Lee. Namun tetap saja. Lee terdiam.
"Lee ...." rengek Siti.
"Besok malam saja. Karena aku dan Naura ...." Lee tidak meneruskan ucapannya.
Siti tertegun. Dadanya terasa sesak. Air matanya hampir saja terjatuh. Namun dia sadar, bagaimanapun juga Naura dan Lee suami istri. Lalu apa yang salah jika mereka tidur bersama.
Dengan pelan, Siti membaringkan tubuhnya di kasur. Membelakangi tubuh Lee. Di gigitnya ibu jari Siti. Meeski tanpa suara, tapi Lee tau istrinya menangis. Bisa dia rasakan dari irama nafas Siti.
Malam yang seharusnya indah untuk Lee dan Siti. Berubah menjadi dingin dan menyedihkan. Harus bagaimana lagi? Lee yang saat itu memang ingin bermesraan bersama Siti, malah pergi menemani Naura, melakukan perawatan tubuh.
Melakukan spa dan mandi susu bersama. Sebagai lelaki normal, dia tidak bisa menahan hasrat melihat tubuh mulus Naura. Terlebih kini mereka sah sebagai suami istri. Dan akhirnya semua terjadi di luar kendali.
Malam semakin larut. Mata Siti masih enggang terpejam. Hatinya di selimuti gelisah yang luar biasa.
Dia segera mengambil air wudhu. Memakai mukena dan langsung melakukan salat dua rakaat. Selesai salam, Siti langsung sesenggukan menangis dan mengadu pada sang khalik. Tangisan yang dia bendung sedari tadi, tumpah ruah di atas sajadah. Tangisannya pecah, membuat Lee terbangun.
__ADS_1
"Sayang ...."
Siti menghentikan tangisannya sejenak. Lee datang menghampiri dan memeluk istrinya yang masih terduduk di atas sajadah.
"Aku harus apa sekarang?" tanya Lee, yang meletakkan dagunya di atas pundak Siti.
"Aku harus bagaimana sekarang? aku sudah lelah melihatmu menangis. Hatiku ikut sakit."
"Aku tidak tau, Lee." ucap Siti di sela isak tangisnya.
"Haruskah aku ceraikan dia? apakah itu tidak apa-apa."
"Jangan. Itu tidak adil untuk Naura."
"Lalu apa yang harus kita lakukan? bagaimanapun juga, sebagai suami aku punya kewajiban atas dirinya. Menafkahi dia lahir dan batin. Tapi ...."
"Tidak apa-apa. Itu memang tugasmu sebagai suami. Aku saja yang terlalu berlebihan."
Siti melepas pelukan suaminya. Beranjak dan melipat mukenanya. Dia pergi meninggalkan kamar, menuruni tangga dan masuk ke area dapur. Rupanya dia makan untuk sahur. Siti akan berpuasa lagi.
"Non. Puasa apa lagi? bukankah puasa itu ada aturannya?"
"Sejak kapan ibadah ada aturannya." Siti ketus.
"Setahu saya, puasa itu harus ikhlas karena Allah. Bukan sebagai hukuman untuk diri sendiri, atau hanya karena ingin membuat orang lain khawatir."
Tangan Siti yang sedang mengiris daun bawang langsung terhenti. Dia pergi meninggalkan dapur dan mengurungkan niatnya untuk sahur.
Pelayan itu merasa sangat bersalah. Karena ucapannya membuat Siti marah. Hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.
"Jangan di ambil hati. Dia sedang marah padaku." ucap Lee yang tiba-tiba datang dari balik pintu.
"Maafkan saya Tuan."
"Pergilah tidur lagi. Anggap semua tidak pernah terjadi."
"Baik, Tuan."
__ADS_1
Pelayan itu pergi. Lee hanya bisa menghela nafasnya dalam. Melihat sikap Siti yang mulai terlihat tidak menyenangkan. Apakah sesakit itu sampai dia marah kesemua orang? bukankah semua ini adalah keinginannya?
Pikiran Lee terus bertanya. Kepalanya terasa pening. Dia benar-benar tidak tau harus bersikap seperti apa.
Kadang, dia ingin sekali menceraikan Naura. Hanya saja dia selalu ragu. Bagaimana pun juga ini akan tidak adil untuknya, terlebih Lee juga mencintai wanita itu.
Lee memejamkan matanya erat. Lalu menyusul istrinya yang sedang dalam keadaan marah itu.
Siti ada di halaman belakang. Duduk di sebuah ayunan. Saat Lee datang, dia nampak menyeka wajahnya.
"Sayang ...."
Lee duduk. Dan memeluk erat istrinya. Mencium pipinya berkali-kali dengan gemas.
"Bobo lagi yuk ... disini dingin. Waktu subuh masih lama."
Siti hanya diam.
"Sayang ...." rengek Lee, dia menempelkan wajahnya di pipi Siti. Tangannya mengelus pipi Siti yang satunya.
"Aku minta maaf, kalau ...."
"Apa kamu pernah bercerita pada Naura, bahwa kamu tidur denganku?"
Lee terdiam. Melepas pelukannya.
"Aku tau, sadar dan sangat sadar. Kamu dan dia suami istri. Aku juga tau apa yang biasa di lakukan sepasang suami istri yang baru saja menikah. Tapi, Lee ... jangan kamu ceritakan itu padaku. Karena rasanya sangat sakit."
Siti beranjak pergi. Tangan Lee yang berusaha menahan langkahnya pun, di hempas kuat oleh Siti. Wanita itu sedikit berlari untuk segera pergi meninggalkan suaminya.
Lee terdiam. Dia sangat menyesal dan tidak menyangka, Siti akan semarah dan sesedih itu.
to be continued
Lee 😍
__ADS_1