
"Bahkan, aku rela pergi demi bayi dalam kandungan Naura."
Lee mendongak. Menatap tajam. Giginya beregemulutuk, terdengar jelas.
"Kamu itu kenapa? Ha!" bentak Lee. "Aku rela melepaskan segalanya untukmu tapi, kamu malah ingin meninggalkan aku demi sesuatu yang belum jelas asal-usulnya."
Siti terdiam. Dia syok karena untuk pertama kalinya di bentak Lee.
"Aku mencintai kamu melebihi apapun, kenapa kamu selalu memberikan pilihan sulit untukku? pernikahan aku dan Naura itu kehendak kamu. Bahkan, aku sama sekali tidak mengigingkan semua ini."
Lee berkacak pinggang. Nafasnya tersengal menahan amarah.
"Terserah! lakukan apa yang ingin kamu lakukan sekarang. Mau pergi? pergilah ...."
Tanpa sadar wajah Siti sudah basah dengan air mata. Tangannya bergetar.
"Kalau bukan karena keinginanmu yang konyol ini, semua ini tidak akan terjadi. Kita akan hidup bahagia tanpa masalah yang rumit seperti sekarang ini." imbuhnya. "Pergilah, jika itu yang kamu inginkan." Suara Lee melunak, tapi sangat dalam melukai hati Siti.
Melihat Siti yang terdiam. Lee bangkit dan pergi tanpa sepatah katapun.
...****************...
Berulang kali Siti mencoba menghubungi ponsel Lee. Tidak ada jawaban.
Wanita cantik itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Berusaha menutupi rasa sedihnya. Meski, air mata yang menetes dari dagunya tidak bisa dia sembunyikan.
tok tok tok
Segera dia mengusap air matanya begitu ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
"Ya, sebentar."
Merapikan jilbab sambil berjalan ke arah pintu.
"Assalamualaikum, Siti."
"Waalaikumsalam, Kak Zein?"
Zein tersenyum. Dan mengajak Siti turun menuju ruang keluarga.
Siti sedikit terkejut melihat seluruh anggota keluarga sudah berkumpul termasuk suaminya.
Siti bergerak, hendak berlari menghampiri suaminya. Namun, dia urungkan tatkala melihat Lee berpaling muka.
"Kemarilah." Bu Amira melambaikan tangan.
Semua berkumpul. Diam, menunggu kelanjutan dari tujuan berkumpulnya mereka di sana.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh." sapa Zein.
"Waalaikumsalam ...." jawab semua orang.
"Pertama, saya ingin mengucapkan terima kasih pada semua yang telah datang dan menyisihkan waktu berharga kalian untuk berkumpul di sini."
Hening.
Sesekali Siti menatap suaminya yang masih terlihat marah dan sama sekali tidak menatapnya.
"Sebelumnya saya akan memperlihatkan sesuatu pada kalian."
Zein menyalakan ponselnya yang sudah terhubung pada infokus. Terlihat sebuah gambar di layar yang sudah tersedia.
Ada Naura dan Kakak tirinya di sana. Tapi ... Tunggu! Apa yang sedang mereka lakukan?
Semua orang terkejut. Bahkan Bu Amira menutup mulutnya yang terbuka lebar. Kecuali, Lee. Dia nampak tenang.
"Kalian terkejut? sama. Itulah hal yang saya rasakan dulu saat melihat ini semua untuk pertama kalinya."
Naura tampak marah. Melihat foto dirinya dan Kakak tirinya sedang berciuman.
"Tapi, kita bisa tanyakan pada Naura, langsung."
Wanita itu tampak gagap. Salah tingkah saat di todong Zein, untuk menjelaskan semuanya.
"Ini fitnah. Mana mungkin aku melakukannya itu dengan Kakak sendiri."
__ADS_1
"Apa dia juga anaknya?" Tohok Lee.
"Bukan. Sama sekali bukan, ini anak kita."
"Sungguh? berapa usia kandungannya?"
"Dokter bilang, usianya menginjak enam Minggu."
"Bahkan! aku tidak pernah menyentuhmu sebelum aku koma sampai sekarang. Hitung berapa hari kita tidak melakukan hubungan intim? Jelaskan!"
Lee berteriak dan beranjak dari kursi. Dia terlibat gusar. Mengacak rambutnya kasar.
Siti menangis. Dia merasa sangat bersalah atas kejadian waktu itu.
"Jelaskan semuanya!"
"Sayang, aku ...."
Bruk
Tubuh Naura terjengkang saat mendorong tubuhnya dengan kasar.
"JANGAN SENTUH AKU," tegasnya dengan penuh penekanan.
Perhatian Lee teralihkan pada Siti yang saat itu hendak membantu Naura.
"Kenapa? kamu ingin membantu dia?"
"Siapapun ayah bayi yang ada dalam rahimnya, dia tidak bersalah. Jangan sakiti."
"Kenapa? kenapa kamu begitu bodoh!"
"Inilah aku, aku yang memang sangat bodoh, tidak mengerti apapun selain perduli pada orang lain."
"Bahkan dia mengkhianati aku."
"Itu dosa dia. Jangan jadikan dirimu ikut berdosa karena menyakiti bayi yang ada dalam rahim Naura."
"Argh!"
"Cukup! hentikan."
Lee berusaha menenangkan dirinya. Nafasnya memburu cepat. Pelukan Siti meluluhkan emosi Lee.
"Duduklah. Kita biarkan Zein melakukan tugasnya." bisik Lee.
"Kita lanjutkan." timpal Zein.
"Percayalah, ini semua fitnah." Naura sesenggukan.
"Lagi pula, pernikahan Naura dan Lee tidak sah. Wali nikah untuk wanita itu haruslah terikat darah. Bahkan, laki-laki yang menjadi wali nikah Naura adalah orang lain. Pernikahan ini dilandasi kebohongan."
"Tidak ... ini tidak benar," bidiknya di sela Isak tangis.
"Secara hukum apapun, pernikahan kalian itu batal. Dan yang lebih mengejutkan adalah ini ...."
Mata Lee dan Siti membulat sempurna saat melihat foto Naura sedang memeluk Pak Hermanto.
"Ini, I-Ini apa maksudnya?" tanya Lee, masih dengan keadaan syok.
Semua orang terdiam.
"Kenapa diam? Adakah yang bisa menjelaskannya?" suara Lee meninggi.
Siti dan Lee menoleh saat Bu Han menangis sesenggukan.
"Mam?"
Bu Han mengacuhkan anaknya. Tangisannya semakin keras dan terdengar sangat memilukan hati.
"Dia adalah selingkuh Papa kamu, Lee."
"What's?" kening Lee mengernyit.
"Kamu ingat? bagaimana dulu orang tuamu hampir berpisah? itu semua karena wanita ini." menunjuk Naura.
__ADS_1
"Itulah, kenapa dulu mama kamu sangat tidak setuju kamu berhubungan dengan dia, kami ingin memberitahu semuanya. Tapi, kamu hampir bunuh diri saat itu. Sebagai orang tua yang tidak memiliki anak lain dan begitu mencintai anaknya, Han mengalah."
Jemari Lee bergetar. Tubuhnya seakan tidak memiliki tulang untuk menopang. Siti yang melihat suaminya, langsung memeluk dan mengajaknya duduk.
"Sekarang ... apa sekarang mereka masih ...."
"Tidak!" ucap Bu Amira lantang. "Hermanto menjauhi wanita itu setelah kamu ingin bunuh diri waktu itu. Tapi, dia ...." menatap Naura penuh amarah. "Masih selalu berusaha mendekati Hermanto bahkan sampai detik ini."
Lee dan Siti kembali dibuat terkejut. Mereka tidak habis pikir kenapa Naura mengejar semua laki-laki di keluarga ini.
"Wanita murahan! dia tercipta dari wanita hina hingga melahirkan manusia hina seperti dia."
"Cukup! hentikan ocehan kalian. Kamu, wanita tua?" ucapnya pada Bu Amira.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Naura.
"Kenapa? apa kamu tidak ingin mendengar semua kisahnya? bahwa Papa yang selama ini kamu banggakan adalah seorang ******** tengik?"
Mata Naura menyalak.
"Umur kita tidak jauh beda. Kita lahir di tahun yang sama. Bagaimana kalau kita terlahir dari ayah yang sama?"
"Hentikan!" ancam Lee penuh tekanan.
"Tidak. Ini semua baru di mulai. Sudah terbuka pintunya, kenapa kita tidak masuk sekalian?"
"Apa lagi yang ingin kamu katakan?"
"Tenang saja, aku akan menceritakan segalanya pada kalian semua."
"Sudahlah, hentikan semuanya sampai disini. Kenapa harus berdebat?"
"Kamu, diamlah!" bentak Lee pada Siti.
Siti ternganga dengan sikap Lee.
"Aku, bukan selingkuh Pak Hermanto. Dan foto itu, tidak seperti yang kalian pikirkan. Aku memeluk laki-laki bejad itu bukan karena dia selingkuhanku. Suamiku adalah laki-laki di foto sebelumnya."
"A*****ng!"
"Lalu kenapa kamu menikahi Lee dan mendekati dia? untuk apa? uang?" tanya Bu Han.
"Bukan. Uang? Pak, em maksudku Mas, Mas Hermanto sudah memberi kami banyak harta."
"Kami?" Zein semakin bingung.
Naura menyeringai.
"Hermanto adalah suami dari Kakak saya, Kakak yang sudah memberi dia dua orang putri dan sekarang ... sekarang Kakak saya tergolek lemah di atas kasur karena struk yang di deritanya. Anda sekalian tau dan pernahkah kalian bertanya-tanya, benarkah Hermanto keluar negeri? yaaa meski sesekali dia jujur."
"Jangan mengarang cerita!"
"Aku tidak mengarang cerita, Lee. Aku jujur. Kamu mau tau kenapa aku mendekati dan menikah denganmu meski aku sudah bersuami?"
Hening.
"Aku ingin membalas semua perbuatan kalian. Hermanto berniat meninggalkan Kakak yang saat itu hamil besar anak keduanya, hingga dia melahirkan dalam keadaan struk. Kakakku tidak kuat saat Hermanto ingin meninggalkan dirinya dalam keadaan hamil."
Naura menangis sesenggukan saat mengingat masa kelam dirinya bersama kakaknya. Kakak yang hanya dia miliki di dunia ini. Orang tua yang telah pergi meninggalkan mereka karena tekanan ekonomi, hingga harus berakhir di sebuah tali yang tergantung di atas pintu, berdua.
Tidak ada yang bisa berkata-kata saat itu. Hanya suara isak tangis Naura dan Bu Han yang saling bersahutan.
"Benar. Anak ini bukan anak kandung kamu, Lee. Dia anakku dan anak suamiku."
Gigi Lee beregemulutuk. Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal kuat.
"Pernikahan kita tidak sah. Sesekali kita berhubungan badan, itu hanya karena aku terbawa nafsu."
"Suamimu?" tanya Zein.
"Dia tau, dan dia memaafkan."
Mendengar pernyataan Naura, Zein dan Siti seperti terhempas. Merak syok. Karena itu artinya Siti dan Lee berzina.
__ADS_1