Dimadu Tak Semanis Madu

Dimadu Tak Semanis Madu
Bonus #10


__ADS_3

Pagi sekali, aku sudah sibuk di dapur. Mempersiapkan bekal untuk hari ini Aksa belajar keluar kelas. Bukan hanya itu, aku juga harus mempersiapkan bekal untukku dan juga Johan bersama putri kecilnya.


Sebuah bekas nasi yang berbentuk karakter lucu yang dadakan aku pelajari tadi malam. Satu untuk Aksa, dan satu di kotak pink untuk Gisel. Kotak makan yang baru kami beli kemarin.


Sementara untukku dan Johan, ku siapkan salad, kentang goreng dan juga ayam goreng.


Waktu berjalan terasa sangat cepat. Waktunya untuk membantu Aksa menyiapkan perlengkapannya.


"Sayang, sudah bangun? bunda masuk, boleh?"


"Boleh, Bun. Buka aja pintunya." terdengar jawaban dari suara termanis yang pernah aku dengar.


"Wah, anak bunda udah rapi ternyata. Semangatnya yang mau piknik," pujiku. Melihat Aksa yang sudah rapi dengan pakaian yang sama persis dengan Gisel. Bedanya, hanya rok dan celana saja.


"Aku udah ganteng belum?"


"Hahaha. Ganteng banget, bunda aja sampe jatuh cinta begini." aku berlutut seperti orang yang sedang memuja kekasihnya.


"Kenapa sama papi yang ganteng bunda enggak cinta?" Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Dengan posisi yang masih sama, aku tidak bisa bergerak.


"Bunda, kenapa bengong aja? ayo berangkat. Nanti kita telat."


"Aahh, benar. Bunda ganti baju sebentar, ya."


"Aku tunggu di bawah, ya Bunda."


"Oke, hati-hati turun dari tangganya."


"Yaaa," teriaknya sambil sedikit berlari.


Setelah di rasa rapi. Aku mengambil tas dan ponsel. Dan segera turun menyusul Aksa. Saat menuruni anak tangga. Aku mendengar suara yang rame di bawah sana. Siapa pagi-pagi begini sudah berkunjung?


"Hai, Tante." Gisel melambaikan tangan.


"Hai, sayang. Kenapa lagi sekali sudah kesini?"


"Maaf, aku tidak memberitahu sebelumnya. Lebih baik kita berangkat bersama. Daripada sendiri-sendiri, boros tenaga, waktu dan juga bensin." candanya.


"Hahaha. Perhitungan sekali anda. Pantas saja jadi orang kaya."


"Bukan seperti itu Nyonya, ini hanya modus."


"Ish. Jujur banget, ya."


Aku menggiring anak-anak masuk ke mobil. Sementara Johan membantu Bibi memasukkan perbekalan kami.


"Eh, tunggu dulu. Papi, aku mau foto sama Aksa. Kita udah terlibat kembar belum?"


"Baik, tuan putri. Ayo turun, dan berdiri di sana."


"Ayo, Aksa. Kita foto berdua. Kita kan sodara."


Aku termangu dengan ucapannya. Sementara Johan terlihat sangat menikmatinya. Mereka berfoto begitu menggemaskan.


"Jo, nanti kirim ke aku, ya. Ya ampuun kenapa mereka lucu sekali." ujarku.


"Tante, kita foto bareng."


"Aah? haruskah?"

__ADS_1


"Iya, ayooo." Gisel setengah merengek.


Aku yang sudah duduk di mobil kembali turun. Berfoto hanya bertiga dengan anak-anak, berdiri di apit kedua malaikat.


"Ok, sudah, ya. Nanti kita terlambat." seru Johan.


Aksa dan Gisel duduk di belakang, semenjak aku dan Johan duduk di bangku tengah. Awal perjalanan, anak-anak begitu asik becanda. Hingga perjalanan sudah setengah, merek tertidur.


"Apa ini mobil baru? baunya masih menyengat." tanyaku.


"Hmm. Sebenarnya tidak terlalu baru, hanya saja baru dua kali ini di pakai."


"Kenapa?"


"Mobil ini terlalu besar untuk kami berdua pakai. Kini, aku tau, mobil ini untuk apa?" jawabnya. Dia melirik sekilas dengan senyumnya yang menawan. Apa? apa yang barusan aku ucapkan?


"Aku tidak pernah berpikir akan bisa bahagia seperti ini lagi. Setelah Mami Gisel pergi, aku pikir tidak akan pernah bahagia lagi." dia mendesah sedih.


"Kenapa? kenapa dia pergi? apa sama seperti ayah Aksa?"


"Tidak. Dia pergi meninggalkan aku dan Gisel demi laki-laki lain. Di saat kondisi keuangan aku terpuruk, dia pergi bersama laki-laki yang lebih mapan."


"Maaf ...."


"Aku tidak sesukses ini, dulu. Aku bangkit karena rasa sakit. Aku ingin membalas rasa sakit ini dengan kesuksesan. Aku ingin dia menyesal."


"Sabar, ya, Jo." tanpa sadar aku menyentuh lengannya. Dia langsung menoleh, menatapku begitu dalam.


"Eh, maaf. Aku tidak sengaja."


"Sering-seringlah tidak sengaja padaku."


Hampir dua jam kurang perjalanan yang ditempuh. Akhirnya kami sampai. Aksa dan Gisel tampak masih mengantuk. Mereka turun dengan badan yang masih lesu.


"Ayo, anak-anak. Kumpul semua di sini. Bawa bekal kalian, ya." seru Mrs. Alin.


Aksa dan Gisel segera berkumpul bersam teman-temannya. Mereka berjalan dengan rapi sambil bernyanyi. Kami para orang tua mengikuti dari belakang.


Aku berjalan berdamping bersama Johan. Entahlah, apa yang para ibu-ibu bisikkan saat melihat kami. Merek melirik kemudian senyum-senyum tidak karuan. Hmm!


Resiko menjadi janda, seperti inilah.


"Jeng Siti, antar saya ke toilet sebentar, dong." tiba-tiba Jeng Hana menghampiri.


"Oh, iya. Mari saya antar, jeng. Jo, aku pergi sebentar. Kamu jalan aja sama ibu-ibu yang lain."


"Aman gak, nih? aku takut habis di preteli."


"Ish. Enggak lah. Aku pergi."


Aku berjalan bersama Jeng Hana. Toilet yang kami tuju cukup jauh rupanya. Sampai rombongan yang lain tidak terlihat.


Lama aku menunggu Jeng Hana. akhirnya ku gedor pintu untuk memastikan dia baik-baik saja.


"Sebentar lagi, jeng. Perut saya mules banget."


"Oh, iya. Gak apa-apa jeng, saya tungguin."


"Permisi."

__ADS_1


"Ya." seseorang menghampiri.


"Ada titipan buat anda." dia memberikan satu tangkai mawar putih.


"Dari siapa?" aku bertanya tanpa menerima bunga itu.


"Saya tidak tau, saya hanya menyampaikan pesan. Mohon di terima." dia sedikit memaksa


"Ada apa?" Jeng Hana keluar.


"Ini, ada yang ngasih bunga. Gak tau siapa pengirimnya."


"Ambil aja, udah. Ayo ah! nanti kita tertinggal jauh." Jeng Hana mengambil bunga itu, lalu menyeret tanganku, dan pergi.


Lagi. Seseorang datang dan memberikan setangkai bunga yang sama. Entahlah, ini untuk yang ke tiga kalinya.


Aku berjalan, dan sepanjang perjalanan banyak orang-orang yang memberiku bunga. Hingga aku sampai di tempat rombongan.


Ada apa ini? kenapa semua wali murid berbaris rapi dengan setangkai mawar putih di tangan mereka.


Astaghfirullah ... Johan kenapa berganti pakaian? kapan dia melakukan itu? Dia membawa bunga mawar merah yang sangat banyak.


Wali murid yang berbaris tampak tersenyum bahagia. Ada apa ini? kenapa aku merasa gusar?


Jeng Hana membawaku berjalan mendekati Johan. Dia yang terlihat gagah dengan stelan jas, sepatu formal dan bucket bunga besar di tangannya. Tersenyum padaku. Menawan.


"Maaf, jika aku membuat kamu bingung."


"Ada apa ini, Jo?"


"Siti, jujur. Sejak aku melihatmu waktu itu, kamu telah merusak aktifitas tidurku. Wajahmu dan Senyumanmu selalu membuat aku tidak bisa tidur. Entahlah, awalnya aku bingung kenapa? sampai akhirnya aku sadar, bahwa aku telah jatuh cinta padamu. Aku ... ish. Kenapa aku ini ...."


"Jo ...."


"Aku, ingin menjadi ayah untuk Aksa. Dan aku ingin kamu menjadi Mami untuk Gisel. Itu intinya. Konyol sebenarnya. Karena kita belum terlalu lama saling mengenal. Tapi, aku begitu yakin, bahwa kamu adalah wanita yang tepat untuk menjadi istriku.


Johan berlutut. Dia memberikan aku bucket bunga itu. Aku menerimanya. Kemudian dia mengeluarkan sesuatu, benda kecil berupa kotak biru.


"Siti, maukah kamu menjadi kekasih halalku?"


Johan? apa dia sedang melamarku? ya Allah apa yang harus aku lakukan saat ini? aku bingung ya Allah.


Hening. Hanya suara beberapa pengunjung yang berada jauh di sana yang terdengar. Di tambah semilir angin yang meniup pepohonan, menimbulkan bunyi yang syahdu. Semua yang hadir tampak tegang menunggu jawaban dariku.


"Johan, aku ...."


"Bunda ... Bunda ... Bunda ... Bun-da ...."


Ketegangan buyar begitu Mrs. Alin datang dengan tergopoh-gopoh. Nafas ngos-ngosan. Dia tertunduk, mengusap dadanya yang terlihat sesak akibat berlari.


"Ada apa Mrs?"


"Mrs. Kenapa?"


Pertanyaan-pertanyaan dilontarkan oleh semua wali murid. Tidak denganku, aku kali ini lebih tegang dari sebelumnya. Mrs Alin pasti ingin mengatakan sesuatu padaku. Karena hanya aku yang dia panggil 'Bunda'.


"Aksa ... Aksa pingsan! di-dia berkelahi terdorong dan jatuh sampai pingsan."


Begitu selesai mendengarkan Mrs Alin. Aku segera berlari, menjatuhkan bunga pemberian Johan. Mengabaikan semuanya. Mengabaikan bahwa saat itu aku sedang di lamar.

__ADS_1


Aksa ... ada apa dengannya? ya Allah, semoga tidak terjadi apa-apa pada anakku. Jagalah dia.


__ADS_2