Dimadu Tak Semanis Madu

Dimadu Tak Semanis Madu
Bonus #14


__ADS_3

"Aksa sudah boleh pulang." ucap Lee begitu aku sampai di kamar Aksa. Betapa bahagianya hatiku mendengarnya. Kebahagiaan ini bertambah saat menyadari barang-barang sudah siap dikemas. Aksa pun sudah rapi dan siap untuk segera pulang.


"Aku sudah menghubungi sopir, sebentar lagi dia datang."


"Supir siapa?"


"Keluargaku. Hemm" Lee menarik nafas. "Ok jagoan. Kita akan segera pulang, apa kamu senang? Papi akan mengantarkan sampai rumah."


"Benarkah?"


"Iya. Papi kan udah janji, mau nemenin kamu meski bunda melarang. Nanti ke festival di sekolah, Papi yang akan jadi Hero buat kamu."


"Asiikkkk. Sayang Papi." Aksa memeluk erat Lee.


Aku duduk di sofa. Mengistirahatkan badan sejenak. Entah kenapa tubuhku teras remuk saat ini.


Supir belum juga datang, aku memutuskan untuk memejamkan mata sejenak.


*


"Astaghfirullah. Dimana ini?" aku bingung saat terbangun bukan lagi di rumah sakit.

__ADS_1


"Bunda tadi bobo nyenyak, jadi Papi gendong sampai mobil. Kita di jalan mau pulang." ucap Aksa. Aku sedikit terkejut dan ... entahlah. Aku tidak bisa menjelaskan apa yang aku rasakan saat ini.


Aku melirik Lee yang duduk di depan, dia masih fokus pada layar ponselnya.


"Bunda, boleh makan dulu enggak?"


"Mau makan apa?"


"Burger aja."


"Emm bo ...."


"Tapi Papi ...."


"Sayang, jagoannya Papi. Itu enggak bagus buat kesehatan kamu, apa lagi baru keluar dari rumah sakit. Nanti ya, kalau kamu udah sehat banget, kita makan dimana pun kamu mau."


Aksa terdiam. Aku tau Aksa tidak setuju dengan pendapat Lee. Dia bahkan masih menekuk mukanya saat sampai di sebuah restoran. Lee menyunggingkan seulas senyuman. Senyuman untuk Aksa yang membuat jantungku berdebar.


"Sayang." Lee berlutut. "Papi janji, kalau kamu udah sembuh total, kita akan makan dan pergi kemanapun yang kamu mau, untuk saat ini nurut ya, masa jagoan Papi gini aja marah."


Aksa tetap diam. Dia bahkan tidak memandang Lee sama sekali.

__ADS_1


"Ayo." Lee menyodorkan punggungnya."Naiklah, kita main kuda-kudaan. Mau?" Aksa yang semula marah langsung sumringah. Dia naik ke punggung Lee, lalu mereka berjalan setengah berlari memasuki restoran.


Duduk bersama seperti keluar kecil yang bahagia. Lee dan Aksa yang tidak lepas dari tawa, saling menyuapi begitu asik sampai mereka seakan lupa ada aku juga di sini.


"Baiklah ... fiks, bunda jadi obat nyamuk di sini." Aksa dan Lee menghentikan tawa. Mereka memandang serempak ke arahku. Pura-pura menekuk muka menjadi cara untukku menarik perhatian mereka. Ku alihkan pandangan keluar jendela.


"Ayooo ...." mereka berteriak. Bangkit secepat kilat dari kursi. Mencoba menggelitikku yang memang tidak tahan dengan rasa geli. Aku tertawa diselingi teriakan kecil. Mencoba menepis tangan kedua jagoanku. Ah, apa?


Tanpa sadar, Lee yang menggelitik pinggangku dari belakang, setengah memeluk tubuhku. Aku tidak akan sadar akan hak itu jika tidak melihat ekspresi wajah Aksa. Dia memandang kami berdua dengan senyuman yang terlihat sangat bahagia


"Ada apa, jagoan?" tanya Lee. Dia hanya tersenyum, dan berubah jadi tawa ria.


"Aksa seneng liat bunda sama papi pelukan." Ucapannya membuat mataku membulat sempurna. Sungguh hati ini begitu terkejut menyadari tangan Lee ada di pinggang dengan tanganku diatasnya.


Laki-laki itu segera melepas tangannya. Dan aku segera melangkah mendekati Aksa.


Kenapa wajahku terasa panas .... Tidak, jangan sampai Lee menyadari bahwa aku tersipu. Meski, mungkin dia sudah tau, melihat dari tatapan matanya yang mengintimidasi disertai seringai menyebalkan di wajahnya.


Menundukkan kepala adalah satu-satunya cara untuk menyembunyikan wajahku yang masih terasa panas.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2