Dimadu Tak Semanis Madu

Dimadu Tak Semanis Madu
Aksa Erlangga Buana


__ADS_3

"Gimana, sayang? apa perutnya kembali sakit?" tanya Erlanngga cemas saat melihat raut wajah Siti yang meringis.


"Iya, tapi baru sebentar-sebentar aja sakitnya."


"Kita ke Dokter sekarang?"


"Jangan. Dokter bilang, kalau mau melahirkannya itu kontraksi nya udah sering, terus keluar lendir disertai darah. Ini belum apa-apa, Mas."


"Aku enggak tega liat kamu."


"Jangan di liatin makanya. Disayang dong."


"Eh, iya, iya. Mau di apain?"


"Duduk di belakang aku aja, kakinya buka. Aku mau nyandar di badan kamu."


"Baiklah, Nyonya."


Erlangga segera duduk, menyandarkan tubuh ke dipan. Memeluk istrinya dari belakang dengan posisi duduk.


"Nyaman, sayang?"


"Hmm. Elus perutnya, di pusarnya. Katanya itu merangsang kontraksi lebih cepat."


"Baiklah."


"Mas."


"Hmm?"

__ADS_1


"Kalau pegel, bilang aja."


"Iya ...."


"Mas, aku agak lelah, bobo boleh? Nanti bangunin aja kalau Mas pegel."


"Iya, sayang. Udah, bobo aja."


Siti menggelayutkan tangannya di tangan Erlangga. Kepalanya bersandar di dada. Dengan perasaan haru bahagia, Erlangga meletakkan pipinya di pelipis Siti.


Siti tertidur. Dia bangun saat kontraksi datang. Si Bibi yang juga menemani siap sedia dengan teh manis hangat.


Erlangga dan Bibi kadang bercengkrama, mereka uang sudah lama bersama sudah tidak seperti pembantu dan majikan.


"Harusnya, Nyonya besar di beritahu."


"Dia akan tau sendiri. Mata-matanya banyak."


"Kenapa, sayang? apa sakit banget, ya?"


"Ini, Mas. Aku pipis, tapi banyak banget. Kasurnya basah."


"Uwalah. Itu ketuban pasti. Ayo, bawa aja ke rumah sakit kalau ketubannya udah pecah." seru Si Bibi.


Siti dan Erlangga bangkit dari kasur. Dan benar saja, kasur yang Siti duduki basah kuyup. Akhirnya Erlangga memutuskan untuk membawa Siti ke rumah sakit, setelah Siti tetap bertahan di rumah dengan asalan lebih nyaman.


Erlangga merasa kesal pada dirinya sendiri, disaat seperti ini dia tidak bisa membopong istrinya. Dan membiarkan dia berjalan Dengan menahan rasa sakitnya.


Dalam perjalanan, Siti mengerang kesakitan. Tangannya yang semakin kuat mencengkram lengan Erlangga cukup menjadi bukti bagaimana dia menahan rasa sakit itu.

__ADS_1


Peluh bercucuran dari dahi wanita berhijab itu.


Erlangga berusaha meringankan rasa sakit Siti dengan merangkul dan mencium kepala istrinya meski, dia tau itu tidak membantu.


Mobil berhenti di dalam UGD kebidanan. Petugas sudah siap dengan bed yang akan membawa Siti.


Segera di bawanya ke ruang bersalin. Diperiksa hingga dokter menjelaskan butuh waktu untuk sedikit menunggu sampai pembukaan Siti lengkap.


"Coba, saya periksa kembali," ucap dokter setelah menunggu satu jam.


Dokter tersenyum, "Lengkap. Ayo, kita mulai persalinannya. Ikuti instruksi saya."


Erlangga setia mendampingi.


"Tarik nafas, angkat kepala, liat perut dan meneran ....." begitulah instruksi dokter, dilakukan secara terus menerus sampai persalinan lancar tanpa hambatan.


Seorang bayi laki-laki telah lahir. Berat badan 3, 3 kg. Panjang badan 52 cm.


Erlangga tak hentinya bersyukur. Mengecup dan memeluk Siti berulang kali.


Bayi di bersihkan. Setelah rapi, mereka membawanya ke ruang perinatal (bayi). Sementara Siti di bawa ke ruang perawatan setelah empat jam pengawasan di ruang nifas.


"Terima kasih, sayang. Terima kasih banyak,'' ucap Erlangga. Dengan kecupan yang tidak berhenti di kening Siti.


"Apa kamu sudah mengazani anak kita?"


"Hmm. Tentu, itu yang membuat aku bertahan hidup sampai saat ini."


"Bertahanlah sampai dia benar-benar siap kehilangan kita."

__ADS_1


"Aamiin."


__ADS_2