
Asrama yang menjadi tempat tinggal bagi para murid kelas Reguler tidaklah mewah, bahkan bisa dibilang sangat sederhana, hingga kesederhanaan itu dapat dirasakan ketika mereka semua menghabiskan waktu luang.
Tidak ada hal lain yang bisa mereka kerjakan kecuali berlatih, belajar dan tidur. Bahkan untuk tempat latihan seperti gym atau arena bertarung semua fasilitasnya adalah barang bekas dari sisa-sisa asrama kelas Elite karena tidak layak pakai.
Cukup cerdas bagi pihak sekolah demi mengurangi biaya pengeluaran untuk murid Reguler, termasuk dengan barang-barang bekas itu, agar bisa kembali mereka gunakan dengan sedikit polesan.
Ada pun hiburan bagi para penghuni asrama hanya satu buah televisi ukuran 42 inci yang terpajang di setiap tempat istirahat. Jangan berharap bisa menyaksikan sinetron malam secara leluasa, karena para senior selalu mendominasi kursi utama dan menjadikan televisi dalam kekuasaan mereka.
"Ze, bagaimana dengan murid wanita, apa mereka ada di asrama ini." Pertanyaan lain yang keluar dari mulut Askar.
"Untuk murid wanita kelas reguler, mereka ada wilayah sebelah gedung asrama ini, tapi..."
"Tapi apa ?." Askar penasaran.
"Tapi jangan sekali-kali kau melanggar zona wilayah antara lelaki dan perempuan." Serius Ze menjawab.
"Kenapa ?."
"Karena jika sampai pengawas asrama tahu, berakhir sudah kehidupan sekolah mu di sini."
Ini jelas menunjukkan bahwa peraturan sekolah Elementor sangatlah ketat, tapi bagi mereka-mereka yang memiliki status terpandang di kelas Elite mendapat semua kemakmuran, sangat dimanjakan, dan diberikan kepastian tentang masa depan cerah.
Tapi di asrama kelas reguler yang terlihat seperti tempat penampungan orang-orang buangan ini, bukan berarti mereka lemah dalam pertarungan ada pula para sosok kuat ditempatkan di kelas reguler karena harus menerima hukuman.
"Kau lihat lelaki kurus di sana Askar." Tunjuk Ze ke satu orang lelaki duduk bersama senior lain sembari menyaksikan sinetron malam di barisan terdepan.
"Dia adalah Sin Hou, mantan peringkat ke sembilan di top rangking dua tahun lalu."
"Lantas kenapa Dia ada di asrama kelas reguler, tidak mungkin hanya sekedar nongkrong di sini."
__ADS_1
"Tidak bukan itu, dia hampir dikeluarkan oleh sekolah karena menghajar habis-habisan satu murid reguler hingga membuatnya cacat. Jika bukan karena koneksi keluarga Hou dengan seorang guru, dia tidak akan pernah di maafkan."
Askar hanya mengangguk paham, meski pun itu semua bukan urusannya, terserah orang lain akan jadi seperti apa, selama orang bernama Sin Hou tidak mencari masalah Askar akan diam.
Tapi kehadiran Askar dan Ze di ruang istirahat itu menjadi perhatian bagi banyak orang, mereka semua tentu mengetahui berita dimana seorang murid baru melawan top rangking Silka.
Meski pun Askar dikalahkan oleh Silka, pertarungan antara mereka berdua bisa dibilang cukup mengagumkan, siapa sangka, Askar mampu memberi perlawanan seorang dari kelas Elite.
Begitu pula Sin Hou, dia pun menaruh perhatian terhadap Askar, tergambar jelas sorot mata dan senyum penuh makna ketika tahu bahwa lelaki di sebelah Ze banyak dibicarakan oleh orang-orang.
Ze merasa tidak nyaman ketika tahu bahwa Sin Hou berjalan mendekat ke tempat mereka sedang berdiri... "Askar sebaiknya kita pergi."
"Ya, baiklah." Askar tidak bertanya apa pun, hanya mengikuti Ze, walau secara sadar kegelisahan teman satu kamarnya itu bisa dirasakan.
"Oi apa kau mau pergi begitu saja tanpa menyapa senior mu terlebih dahulu." Ucap seseorang yang jelas Ze tahu dari mana asalnya.
Askar melihat sosok Sin Hou adalah lelaki kurus dengan tinggi 192 cm, dibandingkan dengan dirinya, Askar tidak lebih sebatas dagu Sin Hou saja.
"Zernad, kau berani mengabaikan panggilan dari senior mu ini."
"Tidak senior, aku hanya ingin mengantarkan murid baru ini berkeliling, karena sebentar lagi waktu tidur, dan ada banyak tempat yang belum aku jelaskan." Beralasan Ze seadanya.
"Kau pandai sekali beralasan, tapi apa yang kau lakukan itu percuma, tidak perlulah repot-repot menjelaskan tentang asrama ini, karena disini hampir tidak ada yang menarik untuk dilihat."
Ze menggaruk kepalanya sendiri sambil menjawab..."Ya senior memang benar, aku bodoh sekali karena tidak memikirkannya."
"Sejak awal kau memang bodoh, sama seperti kakakmu itu."
Ze ikut tertawa, tapi cara dia tertawa jelas terpaksa, Askar bisa melihat bagaimana tangan itu mengepal menahan emosi akan penghinaan yang Sin Hou ucapkan perihal kakaknya.
__ADS_1
Tapi Ze berusaha menahan diri, alasannya cukup sederhana dan semua orang pun tahu kenapa, Sin Hou terlalu kuat jika dibandingkan dengan Ze, melakukan perlawanan adalah hal bodoh untuk membuat dirinya semakin di pandang bodoh oleh orang lain.
Sehingga Ze tahu harus mengikuti alur penghinaan dari Sin Hou, mengakui dirinya sendiri sebagai orang bodoh untuk bisa menghindari masalah.
"Ze bukankah kau katakan, bahwa ada tempat menarik untuk kita melihat para wanita di asrama sebelah." Ucap Askar seakan tidak tahu situasi yang Ze hadapi sekarang.
"Kita bisa lakukan itu nanti Askar, jadi....."
"Maaf senior jika anda tidak memiliki kepentingan lain, aku ingin melihat-lihat tempat lain dengan Ze." Berkata Askar yang menghancurkan suasana hati Sin Hou selagi tertawa terbahak-bahak.
Lengkungan senyum di wajah Sin Hou perlahan turun, dia jelas tidak menyukai cara bicara Askar... "Kau murid baru tapi sikapmu cukup arogan, apa kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan."
"Aku tahu, senior adalah Sin Hou..."
"Terus... ?."
"Cuma itu. Aku belum tahu hal lain seperti tanggal lahir, tempat lahir, nomor telepon, tinggi badan, berat badan, alamat rumah atau seberapa lama senior menghabiskan waktu di dalam toilet."
Tanpa perlu menunggu apa pun, satu tangan melayang ke arah wajah Askar, itu cepat dan bisa terbayang seberapa menyakitkan ketika ada yang menerima tamparan dari mantan top rangking kelas Elite.
Askar tidak menghindar, atau coba menangkis, dia menerima langsung telapak tangan Sin Hou di pipinya, keras suara kulit yang saling bertepuk membuat orang-orang di sekitar diam seketika.
"Askar...." Ze melihat dengan khawatir.
Meski tamparan Sin Hou tidak sampai menggunakan kekuatan Elemenstator, itu sudah cukup membuat orang biasa jatuh pingsan. Tapi Ze masih melihat Askar tanpa bergeming dan tidak pula bergeser pijakannya setelah menerima tamparan.
Bahkan sebaliknya, ekspresi wajah Sin Hou cukup rumit, dia menyembunyikan tangan dengan mengepal tanpa ada satu patah kata pun terucap.
"Cepat kau pergi, jangan buat aku menamparmu sekali lagi." Tegas ucapan Sin Hou.
__ADS_1
"Terimakasih senior." Balas Askar terlihat santai dan biasa saja.
Ze bingung, tertegun cukup lama sebelum pergi mengikuti Askar yang keluar dari ruang istirahat. Semua orang tidak bertanya apa pun, tapi merasa aneh, sebab pertama kali dilihat jika Sin Hou melepaskan murid baru setelah membuatnya marah.