DIMENSION GUARD

DIMENSION GUARD
Tata Krama


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju sekolah...


Askar cukup santai dengan berjalan perlahan menikmati waktu, bagaimana pun di dalam dunia militer bangun sebelum fajar menyingsing sudah menjadi rutinitas layaknya orang pergi buang hajat setiap pagi.


Terlebih lagi Askar mengawali kehidupan sebagai murid sekolah dengan pakaian baru jubah putih corak biru dia gunakan, bertuliskan E.S.3 atau Elementor School 3, membuat Askar merasa bersemangat.


Tidak perduli jika dirinya berada di kelas reguler yang penuh murid-murid dengan nilai di bawah rata-rata, itu bukan hal penting bagi Askar selama tujuannya untuk merasakan hidup seperti orang normal dia dapatkan.


Jarak antara gedung asrama dan sekolah tidaklah terlalu jauh, karena ini masih berada di satu lingkungan wilayah yang meliputi 87.678 meter persegi. Tapi tidak hanya Terdiri satu gedung sekolah untuk murid Menengah Atas, di sisi lain, ada pula gedung perkuliahan sebagai kelas lanjutan atau bisa juga di sebut Akademi Elementor Internasional.


Dan disinilah Askar berada, di depan gerbang gedung sekolah yang tertutup rapat, dimana dia melihat ke arah jam dinding sudah menunjukkan pukul 05.13. Bingung Askar melihat sekitar masih tampak sepi, bahkan satpam penjaga gerbang belum menampakan diri.


"Apa yang kau lakukan sepagi ini." Tegas suara seseorang dari belakang.


Menoleh ke belakang dan nyatanya itu adalah bapak satpam yang baru saja datang untuk bersiap-siap membuka gerbang sekolah.


"Tentu saja berangkat sekolah pak, tapi kenapa gerbangnya masih tertutup, Apa hari ini tanggal merah ?." Itu yang Askar pikiran sekarang.


"Tanggal merah dari mana, kau datang jam segini mana ada sekolah yang buka, jadi anak jangan terlalu rajin." Ucap bapak satpam bertubuh gemuk itu dengan kesal.


"Hmmm ini pertama kalinya aku diberi nasihat untuk menjadi rajin adalah hal yang salah." Pikir Askar serius.


"Bukan salah juga, tapi coba kau sedikit lebih santai, karena orang lain akan tidak merasa nyaman jika kau terlalu cepat berjalan."


"Terimakasih aku akan mengingatnya."


Usut punya usut, dialah bapak Ruslan, selaku satpam gerbang sekolah, juru pengaman dan pengatur lalu lintas kendaraan. Berdiri tegak penuh wibawa sembari bersila tangan dan membusungkan dada. Jangan ditanya soal perut, karena itu sudah off-side, melewati batas, kelebihan muatan, ukuran celana 54, sabuk pengaman diujung, dan seakan percuma dipasang resleting.


Askar melihatnya waktu pertama datang ke sekolah ini, dan memang kehadiran bukan hanya pajangan depan gerbang semata, Ruslan memiliki tekanan aura kuat, meski pun tidak setajam Komandan Zam.

__ADS_1


"Kau murid baru di sini." Bertanya pak Ruslan dengan serius.


"Benar pak, aku baru dipindahkan." Jawab Askar dengan sopan.


"Memang dari sekolah mana kau sebelumnya."


"Bisa dibilang sekolah alam terbuka." Tentu Askar membayangkan rutinitas pelatihan militer yang lebih banyak dia lakukan di tengah hutan.


Ruslan memperhatikan dengan seksama, pengalaman sebagai satpam berpuluh-puluh tahun, tentu membuatnya ahli untuk menilai seseorang, apa dia penjahat atau hanya orang lewat .


Tapi di depan Askar dia mengangguk-anggukkan kepala, seakan ada hal yang membuat Ruslan tahu tentang penilaian sekolah atas diterimanya murid baru ini.


"Kau pasti kelas Elite." Ucapnya.


"Bukan pak."


"Bukan !?." Terkejut bagi Ruslan karena salah menilai seseorang.... "Tidak mungkin, kau pasti berbohong."


Nyatanya apa yang dikatakan Askar adalah benar, dia tidak menggunakan lencana bintang untuk menunjukkan diri sebagai kelas elite, tapi Ruslan tahu, ada suatu keanehan dimana penilaiannya salah terhadap Askar.


"Hmmm tapi untunglah kau kelas reguler."


"Memang apa yang salah dengan Kelas Elite." Tentu Askar penasaran.


"Jangan di tanya kenapa, mereka hanya sekumpulan anak-anak sombong yang merasa hebat dengan status di sekolah ini, padahal jika dibandingkan tentang pengalaman aku jauh lebih banyak, harusnya mereka lebih menghormati orang tua seperti ku."


"Mereka masih muda, masih anak sekolah, jadi belum merasakan kerasnya dunia luar." Askar menanggapi dengan anggukan setuju perihal ucapan Ruslan.


"Asal kau tahu, sebelum menjadi satpam di sekolah ini, aku itu anggota militer yang sudah berhadapan dengan peperangan." Balas Ruslan sedikit sombong.

__ADS_1


Itu membuat Askar paham darimana asal aura penuh tekanan yang dia lihat dari Ruslan, meski dirinya hanya perwira kelas bawah, tapi setelah merasakan pertarungan melawan predator atau membunuh musuh dari negara lain aura dari tubuh mereka jelas berbeda.


Berbincang-bincang Askar dengan Ruslan, menceritakan kisah hidupnya, atau segala macam petuah, kata pengantar, kata mutiara, pantun, visi misi, kisah para pahlawan Nasional, perjuangan melawan penjajah, bertarung dengan makhluk dimensi lain, curhat, diakhiri dengan doa. Ruslan berceramah panjang dan itu lebih panjang dari pidato kepresidenan saat menjadi inspektur upacara hari kemerdekaan.


Tapi ini cukup membuang waktu Askar hingga gerbang sekolah dibuka, para murid asrama atau mobil-mobil mewah yang membawa murid kelas elite dari keluarga terpandang mulai berdatangan.


Setiap murid kelas Elite benar-benar menjadi sosok istimewa, para murid reguler segera menyingkir dari jalan tanpa berani menghadang langkah mereka.


Dari tempat Askar yang duduk berjongkok di samping Ruslan, pandangan mata mereka jelas menunjukkan kesombongan, tidak ada sopan santun untuk menyapa Ruslan, melangkahkan kaki pergi seakan tidak mau merendah diri di hadapan orang yang lebih tua.


"Lihat Askar, apa pantas mereka di sebut murid terbaik, jelas sekali mereka hanya menganggap kekuatan adalah segalanya, sedangkan tata karma sudah di lupakan." Sindir Ruslan atas perilaku para murid yang berjalan penuh kesombongan.


"Anda benar pak."


Dalam dunia militer Askar diajarkan untuk bersikap hormat terhadap senior, orang yang lebih tua dan semua pemimpin, entah seberapa kuat mereka ketika bertarung, adab dan tata karma jelas menjadi poin penting bagi kehidupan.


Tidak berselang lama, satu kehadiran lain pun datang, mobil mewah Limousine berhenti di depan gerbang, siapa pun tahu, hanya kalangan pejabat, bangsawan atau milyuner saja yang mampu membeli mobil mahal seperti itu.


Dan sosok lelaki keluar, kehadirannya menjadi perhatian semua orang, entah itu pria atau wanita, kelas reguler atau pun kelas elite, murid seangkatan atau para junior, semua terpaku melihat aura penuh wibawa dan ketampanannya.


"Askar dia itu pengecualian." Tunjuk Ruslan.


"Kenapa ?, Apa yang berbeda dia dengan murid elite kelas lain."


"Yang pertama, dia bukan kelas Elite, dan yang kedua, dia adalah putra salah satu klan kuno dan yang ketiga....."


Sebelum Ruslan menyebutkan yang ketiga, Askar sudah tahu kenapa, karena ketika berada di depan gerbang, lelaki berpenampilan tampan itu mencium tangan Ruslan penuh rasa hormat.


"Selamat pagi paman." Ucap lelaki itu.

__ADS_1


"Dia ini keponakan ku, namanya, Erdu." Ruslan memperkenalkan Sosoknya.


__ADS_2