
Erdu benar-benar menunjukkan ekspresi penuh kebanggaan, karena harapan untuknya membangkitkan kekuatan tenaga dalam kini datang. Pencapaian Erdu sekarang akan membungkam mulut-mulut dari orang yang meremehkannya.
"Senior Setsu, aku benar-benar berterimakasih, jika bukan karena bantuan anda ini, aku tidak tahu sampai kapan harus menunggu keajaiban saat kekuatanku bangkit." Ucap Erdu yang menjabat tangan Setsu erat.
"Manusia memiliki tujuan masing-masing, kau atau pun aku, kita berdua saling membutuhkan bantuan, kau membantuku dan aku pun akan membantumu." Balas Setsu yang menunjukkan bahwa dia melakukan hal itu sebagai bentuk kerjasama.
"Tapi jika boleh tahu, apa yang senior ingin lakukan dengan artefak kuno itu."
"Hanya sedikit urusan dari penelitian ku." Jawab Setsu merahasiakan.
"Oh begitu, aku pernah diberitahu oleh leluhur klan Mataram, jika artefak itu memiliki kekuatan magis yang menunjukan penggunaannya ke tempat asing."
"Entahlah soal itu, tapi karena ada hal mistis membuatku merasa penasaran."
Erdu terlihat khawatir...."Tapi tolong senior, jangan sampai artefak klan Mataram sampai rusak."
"Kau bisa percayakan kepadaku."
"Baiklah aku akan pergi."
"Hati-hati di jalan."
Tidak lama setelah Erdu pergi, dua sosok datang mendekati Setsu, lelaki dan perempuan yang muncul tepat dibelakang, tanpa perlu berbalik, seakan memang diketahui oleh Setsu.
Wanita itu adalah Risa dan Yohan, dua mahasiswa yang mencoba membuat masalah dengan Askar beberapa waktu lalu. Tapi kehadiran mereka di tempat Setsu dengan alasannya sendiri.
"Setsu, siapa sebenarnya orang yang kau minta untuk kami tahan itu." Ucap Risa.
"Dia cukup kuat saat kami berdua lawan... Jika tidak ada pengganggu, sudah aku lempar dia ke tong sampah." Lanjut lelaki bernama Yohan.
Tersenyum Setsu meremehkan ucapan mereka, itu karena dia sendiri tahu bahwa perlawanan Askar bukan pertarungan yang nyata...."Hanya seorang teman lama, senior."
"Lantas apa yang terjadi dengan Askar."
"Senior Nura menghentikan kami, tidak mungkin kami melanjutkan pertarungan."
"Nura kah ?, Sungguh sebuah kebetulan." Gumam Setsu memikirkan hal lain.
"Aku benar-benar tidak mengerti, dia hanya seorang murid SMA kelas reguler, tapi temanmu itu mampu melepaskan diri dari serangan ku." Risa jelas menolak percaya.
__ADS_1
"Jika temanmu adalah kelas elite aku masih bisa memahami kekuatannya, tapi bagaimana pun aku lihat, dia hanya kelas reguler... Apa mungkin kelas reguler sekarang jadi lebih kuat." Yohan pun berpikir demikian.
Itu sudah bisa Setsu tebak, jika kedua senior tidak mampu menghadapi Askar, tapi demi menjaga harga diri mereka ada kebohongan dalam cerita yang Setsu dengar. Dikalahkan oleh anak SMA, kelas reguler pula, tentu menjadi penghinaan besar untuk keduanya.
"Dia menjadi kelas Reguler hanya sebuah kepura-puraan, sedangkan kemampuannya berada di kelas yang berbeda." Balas Setsu.
"Pantas saja dia bisa membuat kami berdua kerepotan." Risa mengakui.
"Hanya saja aku tidak habis pikir, dia sampai melepas kesempatan untuk masuk ke kelas Elite."
"Askar bukan orang yang akan merepotkan diri untuk bersekolah." Setsu sangat paham atas isi pikiran Askar.
Risa angkat bicara tentang Askar..."Tapi Setsu, kemampuan yang dia miliki, benar-benar aneh, aku tidak tahu apa itu, tapi kami tidak bisa mengalahkannya dengan mudah."
"Itu tidaklah aneh, senior, aku sendiri mustahil mengalahkannya sendirian. Bahkan jika kita bertiga melawan bersama, masih belum cukup mengalahkan Askar." Setsu mengatakan kenyataannya.
Risa dan Yohan sejenak terdiam, sedangkan Setsu berjalan kembali ke ruangan untuk membenahi semua alat yang dia gunakan sebelumnya. Mereka berdua sangat paham jika Setsu adalah sosok luar biasa dan sangat kuat, tapi baru pertama kali mendengar dia mengaku sulit mengalahkan seseorang.
"Senior, katakan kepada ketua, aku akan memulai tujuanku dua hari lagi." Ucap Setsu dari dalam ruangannya.
"Baiklah akan aku sampaikan." Balas Risa dan membawa Yohan untuk pergi.
*******
Merasa risih dengan cara Askar menatapnya, Nura pun bicara...."Kenapa kau melihat ku seperti itu, apa ada yang aneh di wajahku."
"Hmmm, bukan hal yang aneh, hanya saja aku mengingat tentang suatu kejadian di masa lalu." Jawab Askar.
"Apa ada hubungannya denganku ?."
"Harusnya begitu, tapi jika senior tidak merasa demikian, lebih baik lupakan saja."
"Kau itu lelaki aneh."
"Aku lebih suka disebut unik atau misterius." Balas Askar.
"Terserah kau saja."
Di ketuk pintu ruang kepala sekolah, dan secara langsung terbuka sendiri, ini bukanlah pintu ajaib atau pun pintu otomatis, tapi dari kemampuan Gustav sebagai pengendali element ruang hampa, dia mampu menggerakkan apa pun dalam ruang jangkauan kekuatannya.
__ADS_1
"Permisi tuan Gustav."
"Oh, kau Nura, ada perlu apa kau kemari...." Sekilas melihat seorang lelaki yang berjalan masuk tepat di belakang Nura. Senyum Gustav untuk menyambut putri kepala klan Mataram perlahan turun.
"Askar... Masalah apa yang sekarang kau perbuat ?" Lanjut Gustav bicara.
"Askar ?." Nura sedikit terkejut ketika nama itu di ucapkan oleh Gustav.
"Apa anda sekarang menjadi paranormal tuan Gustav."
"Tidak juga."
"Tapi kenapa tuan Gustav tahu jika aku datang karena terjadi suatu masalah."
"Askar, setiap kali namamu terdengar di telinga ku, itu selalu menjadi masalah." Jawab Gustav selagi menggelengkan kepalanya.
"Tunggu kepala sekolah, jangan anggap aku sebagai pembawa masalah." Askar membantah.
"Memang kau tidak membawa masalah, tapi kau selalu terlibat dalam masalah."
"Ya ... Bagiku itu sudah menjadi hal biasa." Balas Askar dengan tersenyum.
"Kenapa kau tersenyum, aku tidak sedang memujimu." Kesal Gustav melihat sikap Askar.
Aneh bagi Nura melihat bagaimana Askar dan Gustav saling berinteraksi tidak seperti murid dan kepala sekolah. Bahkan sebagai alumni sekolah menengah Elementor tiga, dia tahu seberapa besar pengaruh kepala sekolah Gustav.
Klan Mataram sendiri masih memberi wajah dan kehormatan kepada Gustav, dimana dia adalah sosok veteran yang pernah membela negara saat perang dunia ke tiga.
"Tuan Gustav, aku mendapati laporan dari Risa dan Yohan, jika lelaki ini ada di atas gedung kampus, mereka mencurigai dia melakukan pencurian." Ucap Nura menceritakan semua perkataan mereka.
"Apa itu benar Askar ?."
"Tentu saja tidak kepala sekolah, jika dipikir lagi, untuk apa aku mencuri ?." Askar bertanya agar Gustav memikirkan sendiri.
"Ya itu ada benarnya." Gustav mengangguk setuju, tidak ada alasan untuk Askar mencuri, karena jika dia ingin, segala sesuatu sudah di sediakan oleh Zam.
"Lantas apa yang kau lakukan di atas gedung kampus ?." Gustav ingin tahu detail dari tujuan Askar.
"Baiklah... Aku melihat Erdu sebelumnya dan ingin tahu apa yang dia lakukan."
__ADS_1
Terkejut Nura dan cepat dia bertanya...."Kenapa Erdu datang ke kampus."
"Aku tidak tahu, tapi dia bersama senior Setsu." Santai saja Askar menjawab.