
Dalam hal pertarungan teknik beladiri tangan kosong, tanpa menggunakan energi tenaga dalam, Askar masih bisa dikatakan kalah, karena setiap gerakan silat harimau milik Redia, berhasil mengenai tubuhnya lebih banyak.
Tapi jika ini pertarungan secara serius, tanpa ada batasan menggunakan kekuatan Elemenstator, tentu Askar bisa mengalahkan Redia secara telak. Hanya saja untuk sekarang, tujuan utama pelatihan beladiri bukan kalah atau menang yang di nilai. Melainkan seberapa jauh pencapaian murid melatih ilmu beladiri.
"Sudah cukup, kalian berdua benar-benar membuatku terkagum." Puji instruktur setelah menghentikan pertarungan Askar dan Redia.
"Terimakasih pak."
"Terimakasih."
"Dan kau Askar, kau tidak mengatakan jika sudah memiliki wawasan dengan silat harimau, aku sempat mengira kau hanya murid sombong yang hanya cari muka saja."
"Aku anggap itu sebagai pujian instruktur."
"Dan kau Redia, kau sudah berkembang semakin baik, aku menaruh harapan besar agar kau bisa melanjutkan silat harimau di masa depan."
"Aku akan berusaha."
Jam pelajaran praktik beladiri tangan kosong pun berakhir, Askar segera membenahi diri untuk kembali ke kelas dan pulang. Tapi siapa sangka Redia mendekat ke tempat Askar untuk mengajak bicara.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu lawan yang membuatku bertarung dengan serius."
"Walau pun pada akhirnya aku kalah poin karena menerima banyak serangan dari anda nona Redia."
"Jangan terlalu kaku dengan memanggil ku nona, kita satu angkatan dan sama-sama kelas Reguler, panggil saja aku Red.
"Baiklah."
"Apa kau pernah berlatih ilmu beladiri silat harimau sebelumnya Askar."
"Itu benar, seseorang mengajarkanku."
"Kau sangat baik dalam setiap gerakan, aku pikir akan kalah jika di pertarungan nyata menggunakan kekuatan Elemenstator."
"Aku tidak yakin, karena bisa dibilang setiap gerakan silat harimau mu sangatlah luar biasa."
"Aku hanya memiliki keahlian ini, sedangkan kekuatan energi tenaga dalam ku sangatlah lemah, karena itu aku tidak boleh mengecewakan."
Itu menjadi alasan kenapa murid berbakat dalam beladiri tangan kosong seperti Redia tidak dimasukkan ke kelas elite, dimana kekuatan Elemenstator miliknya terlalu rendah, bahkan dibawah rata-rata, sehingga hasil akhir membawa Redia ke kelas Reguler B.
__ADS_1
Bagaimana pun itu sudah cukup membanggakan, sedangkan murid-murid dibawah rata-rata dari kemampuan tenaga dalam dan kendali mahluk astral, tanpa keahlian dalam bidang lain, atau sekedar nilai akademik yang baik, mereka berakhir di kelas Reguler kategori D.
Sistem kasta yang diberlakukan oleh Sekolah adalah untuk membuat para murid bekerja keras, mereka semua dipaksa menjadi yang terbaik, demi mencapai tujuan di kelas Elite.
Tidak ada yang salah dengan sekolah menerapkan sistem ini, seperti dikatakan dari pidato kepala sekolah Gustav 'Jika kau ingin mencapai tujuanmu, korbankan segalanya dan membuktikan diri bahwa kalian pantas'.
Askar berjalan dengan Redia dari aula pelatihan, tapi siapa sangka jika ada seorang wanita yang menunggu di pintu keluar, tentu siapa pun mengenal sosoknya. Dia adalah Senior Silka.
"Kau akhirnya keluar Askar."
"Senior apa kau sengaja menunggu ku ?."
"Ya itu benar."
"Aku merasa tersanjung karena mendapat perhatian dari senior." Jawab Askar yang tersenyum bodoh.
"Kenapa kau terlihat begitu senang."
"Bagaimana tidak, ini bukan hal buruk mendapat perhatian dari seorang wanita."
"Aku disini bukan untuk mengajakmu bicara santai, apa lagi memberi perhatian kepadamu, tapi aku ingin bertarung membalas kejadian saat ujian tes mu."
"Itu merepotkan dan aku lelah, baru saja aku selesai praktik beladiri, jadi bisa kita lakukan nanti."
Tanpa berbasa-basi terlebih dahulu, Silka segera pergi meninggalkan Askar dengan raut wajah rumit dan penuh kekesalan, sedangkan tepat di samping Askar, Redia terkejut karena lelaki yang baru saja dia kenal, bisa mendapat perhatian khusus dari seorang senior.
"Kenapa kau melihatku seperti itu Red." Bertanya Askar yang merasa risih dengan tatapannya.
"Tidak, aku hanya berpikir kau beruntung mengenal senior Silka."
"Dari pada kau berkata ini adalah keberuntungan, aku lebih menganggap ini sesuatu yang merepotkan."
"Kau bisa mendapat banyak pengalaman jika bertarung dengan senior Silka."
"Sekali lagi, aku menolak mendapat pengalaman, jika menjadi sesuatu yang merepotkan."
"Aku tidak mengerti jalan pikiran mu Askar."
"Harusnya aku yang mengatakan itu." Kesal Askar dari cara berpikir Red.
__ADS_1
Dan satu orang lain yang melihat Askar berjalan bersama Red dari belakang, ekspresi rumit di tunjukan wajahnya, perasaan kesal bercampur dengan cemburu ketika dia tahu bahwa Askar menaruh perhatian kepada wanita lain. Sea berdiam diri hingga Askar pergi meninggalkan aula pelatihan dan hilang dari pandangan.
"Nona Sea ayo kita kembali ke kelas." Satu teman kelas datang menyapa.
"Kau duluan saja."
Melihat tatapan tajam itu, teman yang datang merasa takut tidak nyaman..."Baiklah."
Setelah semua teman kelas pergi untuk kembali ke kelas, Sea berjalan sendirian dengan banyak mengoceh tidak jelas,
"Kenapa dia cepat sekali akrab dengan wanita lain, padahal dulu tidak pernah mendapat perhatian darinya." Gumam Sea.
Penuh dan rasa kesal mengingat Askar dan Red, tangan Sea menghantam dinding dengan kekuatan Elemenstator hingga retak, sedangkan orang lain yang ada di sekitar terkejut karena suaranya begitu keras.
"Aku yang lebih lama mengenal kak Askar, tapi kenapa dia hanya menganggap ku seperti saudara, padahal... Aku, aku... Arrrggghhhh." Sekali lagi pukulan membuat dinding di sebelah Sea retak lebih besar.
Mereka memperhatikan tindakan Sea, dan sorot mata yang penuh aura kental niat membunuh ditunjukan... "Apa yang kalian lihat."
Tidak ada satu orang pun berani mendekati sang ratu Duri, segera berjalan cepat untuk menghindari masalah jika Sea benar-benar ngamuk dan menghajar mereka.
"Kenapa ini sangat sulit." Lirih suara Sea.
Dalam diam Sea ingin sekali marah, tapi dia tidak memiliki alasan kenapa harus marah, sedangkan Askar berhak untuk mendapatkan kebebasan memilih hidupnya sendiri, tapi Sea jelas tidak menyukai wanita lain berada di dekat Askar.
"Oh, Sea, apa yang sedang kau lakukan." Suara seorang lelaki memanggil dari belakang.
Ketika Sea berbalik, sosok tampan yang dikenalnya karena cukup banyak prestasi, hingga membuat lelaki itu mendapat perhatian khusus.
"Senior Setsu." Ucap Sea memanggil nama lelaki yang kini berada tepat di sampingnya.
"Kau terlihat tidak baik-baik saja, apa ada masalah ?."
"Bukan hal penting, hanya sedikit merasa kesal karena latihan."
"Aku bisa mendengarkan masalahmu jika kau mau, ya sedikit bimbingan untuk junior ku yang berbakat."
"Aku merasa tersinggung dipanggil berbakat oleh murid jenius seperti senior Setsu." Sea berpura-pura tertawa untuk menutupi kekesalan di hatinya.
"Tidak nyaman kita bicara di tempat ini, jadi apa kau mau sedikit kopi agar perasaan mu menjadi lebih baik." Setsu memberi tawaran.
__ADS_1
"Tidak boleh aku menolak tawaran anda senior." Sea pun menerimanya.
Keduanya pun berjalan pergi ke kantin sekolah, karena Sea harus bersikap hormat atas perhatian Setsu sebagai seorang senior.