
Jam pelajaran praktik beladiri tangan kosong, aula pelatihan.
Ada tiga jenis pelajaran dari kurikulum beladiri, pertama tangan kosong, senjata dan kekuatan tenaga dalam. Para murid harus mengikuti semua mata pelajaran beladiri baik teori atau pun praktik karena ini menjadi nilai wajib untuk mereka dapatkan.
Berbagai macam keahlian beladiri tangan kosong pun meliputi pencak silat, merpati putih, tapak suci, silat harimau, jujitsu, karate, taijutsu, taekwondo, kenpo, Jeet Kune Do dan gulat.
Masing-masing materi akan dibimbing oleh setiap guru profesional dalam bidangnya dan akan diberi nilai sesuai dengan pencapaian para murid dari teori dasar, menengah dan ahli.
Tentu bagi para murid yang belajar beladiri tangan kosong mereka lebih banyak memilih karate, Taekwondo atau pun Taijutsu, karena memang dalam hal teknik serangan, ketiga aliran beladiri itu sangat terkenal untuk mendominasi lawan.
Mengingat tentang ilmu beladiri lengan besi milik senior Silka, itu adalah warisan keluarga, dan secara khusus dia menguasai atas tuntutan sebagai generasi penerus.
Hanya saja sekarang Askar masih bingung untuk memilih salah satu dari aliran beladiri yang disediakan oleh sekolah, bukan karena dia ragu dalam berlatih, melainkan semua ilmu beladiri tangan kosong miliknya sudah mencapai tingkat ahli.
Berjalan Ze mendekat dan berkata..."Bagaimana Askar, apa kau sudah memilih untuk belajar aliran beladiri yang mana ?."
"Aku tidak yakin, semua sudah aku pelajari, jadi aku kurang tertarik." Santai Askar menjawab.
"Meskipun kau bilang begitu, setiap murid wajib memilih satu aliran sebagai kurikulum pelajaran beladiri." Balas Ze seakan tidak lagi terkejut untuk ucapan Askar.
"Baiklah, aku memilih silat harimau."
Mengangguk kepala Ze yang bisa memikirkan alasan Askar... "Oh .. Tidak banyak murid ingin belajar ilmu beladiri aliran lokal, tapi itu keputusan bagus karena cukup mudah untukmu mendapat nilai tinggi."
"Aku tidak perduli soal nilai, tapi aku mencintai kebudayaan lokal." Itu yang menjadi alasan sebenarnya.
"Benar-benar alasan yang sederhana."
"Lantas bagaimana denganmu Ze ?." Balik Askar bertanya.
"Tentu saja karate, karena banyak orang kuat yang mempelajarinya."
"Persoalan kuat atau lemah itu ada pada dirimu sendiri Ze, meski kau berlatih karate, tapi hanya teriakan mu saja yang terdengar keras, musuh tidak akan kalah, Kecuali wajahmu menyeramkan bisa menjadi serangan mental kepada lawan." Sedikit Askar memberi perkataan bijak.
Askar memperhatikan sekitar, nyatanya tidak hanya dua kelas yang mengikuti praktik beladiri tangan kosong, ada kelas reguler dan kelas elite lain pula sedang berlatih bersama.
Total empat kelas 1 reguler D dan B serta kelas 1 elite D dan B, mungkin karena guru cukup banyak dari masing-masing aliran beladiri, membuat sekolah menggabungkan empat kelas dalam satu jam pelajaran praktik.
__ADS_1
Askar mendekat ke lokasi dimana instruktur beladiri silat harimau sedang melatih para murid dari kelas lain, dia pula menjadi murid terakhir yang memberikan buku nilai sebagai pernyataan belajar beladiri di bawah pengarahannya.
"Jadi kau murid baru." Instruktur Jo mengangguk paham.
"Itu benar pak."
"Namamu Askar, kelas 1 reguler D, dari semua data penilaian fisik kau cukup mumpuni, ini bagus, kau mungkin bisa melakukan silat harimau hingga tahap ahli." Sedikit pujian darinya.
"Terimakasih pak."
"Baiklah, kau sekarang ikuti setiap gerakan dari murid-murid lain." Perintah Instruktur Jo.
"Baik pak."
Tidak banyak murid yang mempelajari silat harimau, dimana ada sekitar 12 murid dan jika ditambah dengannya itu akan menjadi 13. Silat harimau memang tidak seterkenal pencak silat, apalagi karate, tapi setiap teknik gerakan terlihat tajam dan indah, tidak hanya asal teriak sampai lawan kena mental.
Tapi siapa sangka, dari sekian banyak murid ada satu orang yang menarik perhatian Askar, dia hanya murid wanita kelas Reguler, namun bisa dibilang kemampuan dalam gerakan silat harimau sudah mencapai tingkat ahli. Bahkan lebih dari itu, seakan-akan dia sangat memahami setiap untuk jiwanya.
Wanita berambut merah memiliki konsentrasi pikiran, lincah gerak tubuh, kecepatan dan indah teknik yang tidak biasa, Askar tidak pernah melihat seseorang mendedikasikan diri mempelajari tentang silat harimau sepenuh hati.
"Baik semuanya berkumpul, ada yang ingin bapak sampaikan." Panggil semua orang dan membentuk barisan.
"Siap."
"Sekarang kita akan coba latih tanding, aku ingin melihat perkembangan kalian semua. Askar karena kau baru masuk praktik beladiri, aku tidak memaksakan kau ikut bertanding, jadi kau bisa duduk untuk melihat." Sedikit kelonggaran bagi Askar.
Sedangkan Askar menggeleng..."Itu tidak perlu pak, biar aku ikut latih tanding, karena aku bisa mendapat pengalaman secara langsung."
"Apa kau yakin ?."
"Tentu saja pak."
"Baiklah... Redia Tyran kau coba melakukan dengan Askar."
"Aku mengerti." Jawab gadis berambut merah dengan siap.
Siapa sangka, dia wanita yang sejak tadi mendapat perhatian Askar, kini menjadi teman latih tanding nantinya, tapi setelah mendengar nama belakang dari Redia, mengingatkan Askar kepada seseorang.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian...
Dua orang telah selesai bertanding, itu menjadi kemenangan satu murid dari kelas elite secara telak.
"Cukup, kalian bisa kembali."
"Baik pak."
"Askar, Redia kalian masuk ke arena." Dipanggil nama mereka berdua.
Askar dan Redia memasuki arena latih tanding, bagi siapa pun ini bukan sesuatu yang menyenangkan untuk di lihat. Hanya seorang Newbie bersikap sombong dalam hari pertama mengikuti pelatihan beladiri.
Tapi dari tatapan mata Redia itu berbeda, dia serius, tidak ada tanda meremehkan Askar meski ini hari pertama.
"Aku sebenarnya tidak terlalu suka mengalah, tapi cobalah kau untuk berusaha membalas serangan dariku."
"Tidak perlu menahan diri Nona Redia, aku akan melakukan yang terbaik." Jawab Askar.
Redia bersiap dalam kuda-kuda silat harimau, tangan membentuk cakar dan tubuh sedikit membungkuk ke bawah seperti sosok harimau ingin melawan mangsanya.
Begitu pula dengan Askar, dia mengikuti kuda-kuda silat harimau yang jelas sudah memiliki pengalaman bertarung menggunakan silat harimau dari tanah Andalas.
"Mulai." Instruktur memulai pertandingan.
Lompatan maju bergerak cepat mengayunkan cakar ke depan, Askar menangkis, membalas kembali dengan putaran kaki ke atas kepala. Redia menghindar, serangan dari bawah pun dia lakukan, tapi cepat Askar melompat mundur.
"Untuk orang yang baru hari ini berlatih, bisa aku bilang kau sangat ahli Askar." Pujian dari Redia setelah melihat beberapa gerakan.
"Aku anggap itu sebagai pujian, karena aku menang memiliki sedikit ilmu dari silat harimau."
"Kalau begitu aku tidak boleh menahan diri." Balasnya.
"Aku tidak memaksa anda untuk mengalah nona Redia."
Sedangkan dari area penonton, satu buah pandangan mata wanita mengarah tajam melihat pertarungan Askar, aura permusuhan ditunjukan jelas untuk suatu kejadian antara mereka.
Silka, murid tingkat 3 kelas elite A, peringkat 9 dari top rangking sekolah Elemenstator ini. Setiap hal tentang ujian tes Minggu kemarin masih dia ingat dengan jelas. Walau tidak bisa dikatakan kalah, tapi Askar secara sengaja mengalah dan itu membuatnya merasa terhina.
__ADS_1