
Beberapa waktu lalu....
Disebuah rumah mewah di kaki gunung merapi dengan bagunan yang terbuat dari kayu jati tua corak coklat pekat inilah menjadi tempat bagi sesosok orang tua tinggal.
Dialah Susuhunan Prabu Anyakra, leluhur klan Mataram yang kini lebih memilih hidup menyendiri di sebuah desa dari kaki gunung Merapi.
Duduk dengan posisi tegak, tubuh kekar penuh otot, semua orang desa tidak akan percaya jika sosok kakek tua itu berusia hampir 90 tahun. Tapi ini adalah nyata, kakek Anyakra menggunakan kekuatan Tenaga dalam demi memperpanjang usia dan semua latihan yang dia jalani untuk memperkuat pondasi tubuh.
Tepat di hadapan kakek Susuhunan Prabu Anyakra, seorang lelaki yang sama tuanya, namun terlihat jelas perbedaan antara mereka berdua. Lelaki itu adalah Anshori, 70 tahun, teman dari Anyakra untuk mengisi waktu luang di usia senja.
Raut wajah rumit, urat-urat kepala tegang dan kaki bergerak naik turun sebagai tanda kakek Anyakra sedang mengalami kegelisahan. Hanya saja, apa yang terjadi membuat suasana di sekitar mereka menjadi berat.
Tangan lelaki tua dari kawan kakek Anyakra mulai bergerak maju, wajahnya menunjukkan senyum penuh kepastian dan berkata..."Skakmat... Kau kalah lagi Yakra."
"Si * alan, kenapa aku tidak pernah bisa mengalahkan mu, pak tua." Ucap kakek Anyakra dengan wajah lemas.
"Kau juga sama-sama tua... Bolehkan dalam urusan bertarung kau sangat kuat dan tidak terkalahkan, tapi untuk catur, kau benar-benar mudah di tebak." Balasnya dengan tersenyum puas.
"Ya kau benar. Jika bukan karena bantuan mu sebagai pengatur siasat ketika kita melawan musuh, aku mungkin mudah dikalahkan."
Tapi seketika raut wajahnya berubah...."Itu adalah masa lalu, kita berdua sekarang hanya sekedar orang tua yang menghabiskan waktu luang dengan bermain catur saja."
"Aku masih ingin merasakan pertarungan seperti dulu." Balas kakek Anyakra mengingat kejadian di masa kejayaannya.
"Ya mungkin kau benar, sudah cukup lama aku tidak merasakan sensasi mendebarkan."
Selagi mereka saling berbincang, ponsel dalam saku kakek Anyakra berbunyi, sebuah nama kontak yang muncul membuat matanya terbuka lebar.
Tentu hanya beberapa kontak penting saja yang secara khusus mengetahui nomor ponsel, diantaranya adalah para keluarga, teman lama, teman wanita dan teman seperjuangan.
"Askar ... Jarang sekali kau menelpon ku."
'Kakek Anyakra, aku ingin meminta bantuan mu.'
"Oh, apa itu... Selama masih dalam kekuasan ku, aku akan melakukannya."
'Kau pernah bercerita, jika di zaman kerajaan kuno dulu, leluhur anda dari kerajaan Mataram menjadi salah satu orang yang melakukan penyegelan tiga dimensi.'
"Ya itu benar, jadi apa yang kau inginkan."
__ADS_1
'Soal arsip tentang kejadian saat itu.'
"Aku mengerti, di dalam kediaman klan Mataram masih menyimpannya, tapi aku tidak bisa memberikan, karena itu menjadi harta bersejarah bagi keluarga kami."
'Tidak, tidak, aku tidak ingin mengambilnya, tapi apa boleh aku membacanya.'
"Jika memang hanya itu, aku bisa memperlihatkan kepadamu."
'Benarkah itu ?.'
"Tentu saja Askar, kau benar-benar menyelamatkan klan ku saat itu, aku akan membalas apa pun yang kau inginkan, selama masih dalam kekuasan ku."
'Terimakasih kakek Anyakra, jadi aku akan pergi ke klan Mataram.'
"Tidak perlu, biar aku menjemputmu, kirimkan saja alamat mu."
'Baiklah....."
*******
Dan disinilah mereka berada,
Semua orang jelas terheran-heran tentang perhatian khusus yang diberikan Kakek Anyakra kepada sosok lelaki muda dimana dirinya tidak lebih berusia 17 tahun.
Sebuah kejutan ketika tahu bahwa dia adalah seseorang pasukan militer khusus yang menyelamatkan klan ketika terjadi pemberontakan.
Begitu juga dengan Erdu, dia menolak percaya, tapi kenyataannya, sang kakek sendiri lah yang mengatakan semua itu. Berjalan mendekati Askar untuk rasa penasaran di dalam pikiran.
"Askar..." Panggil Erdu.
"Ada apa Erdu."
"Apa semua ini benar, jika kau adalah anggota pasukan khusus Raynor Avya." Itu yang ingin di tanyakan oleh Erdu.
"Entahlah, bagaimana menurutmu ?." Balas Askar.
"Kenapa kau balik bertanya."
"Karena aku tidak bisa mengatakannya, dan juga kakek Anyakra sudah memberi peringatan." Jawab Askar dengan tersenyum sendiri.
__ADS_1
"Baiklah....." Sedikit terlihat wajah tidak puas dari Erdu.
Tapi apa boleh buat, ketika sang kakek sudah berkata, maka konsekuensi jika tidak mematuhinya benar-benar nyata dan berlaku untuk semua orang.
Berbeda dari Erdu, Nura memberi pandangan lain kepada Askar, ya dia ingat, benar-benar ingat akan kejadian kudeta itu, ketika para pemberontak menguasai kediaman klan Mataram.
Kakek Anyakra, para petinggi dan ayah mereka sedang melakukan perjalanan ke luar kota, tentu tanpa perlindungan para ahli itulah, menjadi situasi yang tepat untuk menyerang klan Mataram.
Dan ketika mengetahui kondisi klan dalam masalah, kakek Anyakra meminta bantuan kepada Komandan Zam, sekalu kenalannya di wilayah Mataram.
Hanya dengan satu orang yang dikirimkan oleh pasukan khusus Raynor Avya, semua pemberontak klan Mataram berhasil di lumpuhkan, dan menyelamatkan Nura yang di sandera.
Erdu dan Agra yang bersembunyi tentu tidak mengetahui apa pun, karena itu Askar cukup menyadari tentang wajah akrab Nura yang dia lihat, setelah sekian tahun kejadian pemberontakan berakhir.
"Jadi dialah orangnya saat itu..." Gumam Nura yang tersenyum sendiri.
Ruang penyimpanan harta klan Mataram, berada di bawah tanah, dengan penjagaan dua orang dan pintu besi setebal dua puluh centimeter. Mustahil bagi siapa pun untuk mencurinya, karena terdapat sistem pertahanan otomatis yang mengirimkan sinyal langsung ke kantor polisi.
Menggunakan kunci sidik jari, retina mata dan password dua belas karakter, barulah berhasil membuka pintu, dan jelas di dalamnya terdapat cukup banyak benda usang tersimpan di lemari kaca.
Dan Askar dibawa masuk lebih dalam ke sebuah kotak kaca dengan dua buah gulungan lontar penuh tulisan aksara Jawa kuno. Penuh kehati-hatian ketika Kakek Anyakra membuka kotak kaca dan mengambilkan untuk diberi kepada Askar.
"Ini adalah arsip klan Mataram dari zaman kerajaan kuno." Ucap Kakek Anyakra.
Askar mengambilnya ...."Biar aku baca arsip ini."
"Oh... Apa kau bisa membacanya Askar."
"Ya begitulah, aku cukup banyak belajar tentang sejarah dan budaya." Jawab Askar sembari tersenyum.
Askar membuka gulungan lontar yang sudah termakan usia ribuan tahun, meski dirawat dengan baik, tapi waktu memang memakan segalanya, beberapa kata dalam gulungan pun hampir tidak bisa dibaca.
'ketika cahaya Surya di telan oleh kegelapan jagat raya, langit maha tinggi runtuh membawa ketakutan para manusia. Mereka datang, membawa petaka, lautan darah di atas mimbar kekuasan, jeritan saling bersaut meminta pertolongan, seakan ini adalah hukuman dari sang kuasa.....'
Askar baru membaca satu bagian gulungan lontar yang mungkin menjadi awal kemunculan tiga dimensi ketika saling terhubung.
Mengambil gulungan kedua, Askar pun kembali membacanya.
'Dan dialah yang membawa harapan untuk kami, .... meyebut dirinya sebagai sang 'penjaga' .... Dav...ra, menggunakan artefak delapan arah mata angin, memasuki ketiga dunia dan mengunci mereka demi menyelamatkan kita.'
__ADS_1