DIMENSION GUARD

DIMENSION GUARD
Kasur !!!


__ADS_3

Di sekolah elementor ini memiliki beberapa macam fasilitas yang disediakan untuk semua murid, entah dari kalangan kelas Reguler atau pun kelas Elite, salah satunya adalah Asrama.


Tapi mereka tidak bisa banyak berharap dengan adanya sistem perbedaan dua kasta yang ada di dalam sekolah. Anggap saja Kelas reguler seperti sebuah penginapan ala kadarnya di pinggiran jalan bersama penghuni lain, dan kelas Elite layaknya hotel bintang lima dengan servis pelayanan 24 jam disediakan oleh sekolah, kasur Double bad, full AC, dan ada Tv nya pula.


Bersama dengan satu orang yang di tunjuk kepala sekolah Gustav untuk mengantarkan Askar ke asrama, dia pula murid kelas reguler dan satu angkatan dengan Askar.


Dia bernama Zernad biasa dipanggil Ze, ketua kelas reguler tingkat 1 D, karena ini pertama kali bagi Askar hidup dalam lingkungan sekolah, Zam meminta kepada Gustav agar dia ditempatkan untuk tingkat 1.


Kelas reguler terbagi menjadi 3 tingkatan, setiap tingkat menunjukan senioritas, ada pun dalam satu tingkat, memiliki empat kategori A sampai D, dan kelas yang Askar dapatkan adalah D, kelas dengan nilai semua murid dibawah rata-rata.


Askar tidak tawar menawar mengenai kelas yang Gustav, berikan, selama tujuannya tercapai menjadi murid sekolah, dia benar-benar menerima dengan lapang dada.


"Jadi apa yang kau tahu tentang sekolah Elementor ini Askar."


"Aku tidak tahu apa pun, apa ada yang salah dari sekolah ini ?"


"Tidak juga, bukan sesuatu yang salah, karena sistem di dalam penilaian sekolah cukup rahasia dan tidak diketahui oleh publik. Baiklah, biar aku jelaskan....."


Bagi semua orang yang menjadi murid di sekolah elementor mendapat status sebagai kelas Elite peringkat atas adalah tujuan mereka. Tentu bukan hal mudah, tapi bukan pula hal mustahil. Entah mereka memiliki nilai di bawah rata-rata atau tidak bisa menggunakan kekuatan Elemenstator, masih ada kesempatan menjadi murid kelas elite, bahkan menduduki peringkat atas.


"Kenapa mereka ingin menjadi murid kelas Elite, bukankah itu merepotkan."


"Bicara apa kau Askar, kelas Elite adalah kebanggaan, siapa pun yang bisa menjadi bagian kelas Elite, segala macam fasilitas terpenuhi oleh sekolah, tidak hanya itu, nama mu akan sangat dihormati, para wanita kelas reguler tergila-gila kepadamu dan juga setelah lulus, akan ada banyak Guild menginginkan kau bekerja di tempat mereka."


"Hmmm, jadi begitu." Tidak menjadi hal menarik untuk Askar dengar.


"Apa kau paham ?."


"Sedikit, jadi bagaimana cara kita mendapatkan status kelas Elite."

__ADS_1


"Pertanyaan bagus."


"Padahal kau sendiri yang begitu antusias untuk menjelaskannya."


"Jadi ada tiga jenis dari sistem penilaian sekolah, pertama akademik, kedua pertarungan dan ketiga adalah pencapaian kelas."


Pertama mendapatkan nilai akademik yang tinggi, bahkan terbaik di antara semua siswa, mereka akan mendapatkan poin dimana dalam jumlah khusus bisa di tukarkan sebuah lencana agar menjadi bagian kelas Elite.


Kedua adalah pertarungan, ini bisa di bilang menjadi cara instan untuk mendapatkan lencana kelas elite, tapi sangat jarang bagi kelas Elite mempertaruhkan lencana mereka, sedangkan keuntungan yang di dapat tidak sepadan atas kebanggaan status murid kelas Elite.


Ada pun yang ketiga, ini berhubungan dengan nilai seluruh kelas, pencapaian-pencapaian dalam berbagai macam kegiatan menghasilkan poin, saling mengalahkan antar kelas dalam persaingan pun bisa mendapatkan poin, berlatih tanding atas ketentuan guru, juga menjadi poin, dan setelah semua poin melampaui target sistem sekolah, maka mereka akan mengubah kategori.


Jika kelas D berhasil mengungguli kelas C dalam sistem penilaian kelas, kategori kelas D akan berubah menjadi kelas C, terus berlanjut hingga mencapai Kategori A, dan saat mereka melampaui kategori D dari kelas Elite, maka secara otomatis, sistem penilaian sekolah memberikan status kelas Elite kategori D sebagai hadiah.


"Jadi apa kelas D kita ingin menjadi kelas Elite ?." Bertanya Askar tanpa perlu ragu.


"Kenapa sulit ?."


"Jarak nilai antara kelas reguler D dan reguler C sangat jauh, bahkan sampai nanti kita naik tingkat, hampir mustahil melampaui mereka."


"Kenapa bisa begitu, apa kalian semua tidak berusaha."


"Berusaha ?, Apa kau bercanda Askar, kelas reguler D kita itu, hanya berisi murid-murid sampah, tidak berguna, pemalas dan sisa-sisa murid buangan sebagai pelengkap jumlah kuota murid di sekolah ini saja."


"Ah aku mengerti sekarang."


"Tapi... Jika memang penilaian kelas tidak bisa diandalkan, aku... Pasti akan mendapatkan lencana kelas Elite." Gumam Ze dengan lirih.


Setelah semua penjelasan panjang kepada Askar, keduanya sudah memasuki gerbang yang menjadi tujuan mereka.

__ADS_1


"Jadi disinilah kita, tempat bagi para murid kelas Reguler tinggal, penampungan.... Maaf gedung asrama." Lemas wajah Ze menunjukan sebuah gedung cukup tua, cukup kumuh dan cukup layak untuk ditempati. Semua hanyalah cukup.


Tapi Ze memperhatikan ada hal tidak biasa dari ekspresi Askar, bahkan ketika mereka memasuki ruangan, mata Askar berbinar-binar, penuh semangat dan sangat antusias ketika melihat kamar yang akan dia huni mulai sekarang.


Di dalam kamar terdapat dua kasur, jendela usang, speaker, poster-poster artis lama, lukisan pemandangan alam, kamar mandi, lampu, meja belajar, tidak lupa pula dengan kursinya, ditambah sarang laba-laba dan semut yang merayap di dinding.


Bagi Ze ini bukan sesuatu yang mengagumkan, sekedar cukup layak untuk mereka gunakan sebagai ruang tidur. Hanya saja berbeda dengan Askar, dia tersenyum lebar seakan mendapat sesuatu yang menakjubkan.


"Kenapa kau terlihat begitu senang ?." Bertanya Ze.


"Apa benar ini kamarku." Balik Askar bertanya dengan nada tidak percaya.


"Ya kau tidak salah, mulai hari ini kita satu ruangan." Jawab Ze terasa aneh.


"Ini luar biasa." Tegas jawaban Askar penuh semangat.


"Maaf apa ?, Darimana nya ini luar biasa, bahkan kamar tidur di rumahku jauh lebih baik." Ze bingung.


"Tapi lihat, ini kasur !, empuk lagi, bukankah menakjubkan bisa tidur di tempat seperti ini." Balas Askar seakan tidak perduli bagaimana ekspresi Ze sekarang.


"Aku bertanya-tanya bagaimana kau hidup sebelumnya, hanya karena sebuah kasur kau begitu bahagia."


"Bukan sesuatu yang spesial."


"Entah kenapa aku bisa paham jika itu bukan hal yang spesial." Lemas Ze atas jawaban Askar.


Bagi Askar yang baru melihat kasur empuk, meski itu di kelas reguler terendah dari semua kategori, semua tampak menakjubkan, mewah dan luar biasa, mana kala di bandingkan dengan camp pelatihan militer yang hanya dibekali kasur keras seperti kapuknya hilang entah kemana.


Tidur dengan begitu banyak orang dalam satu ruangan, pengap, bau, kamar mandi berjamaah, rutinitas pelatihan kejam, tidak manusiawi, dan mempertaruhkan nyawa, hidup Askar saat ini adalah berkah yang begitu besar tanpa bisa dia banding.

__ADS_1


__ADS_2