DIMENSION GUARD

DIMENSION GUARD
Event


__ADS_3

Kepala sekolah Gustav menjamin Askar jika dia tidak melakukan hal aneh untuk mencuri atau pun tindakan jahat, tapi soal mengintip itu masih menjadi pertimbangan.


Senior Nura tidak bisa membantah apa yang dikatakan oleh kepala sekolah Gustav karena bagaimana memang segala hal dari ucapannya bisa dipertanggungjawabkan.


Walau ini menjadi hal aneh, karena dia tidak pernah tahu tentang sosok Askar, sedangkan Gustav begitu percaya dan memberi perhatian khusus untuk murid kelas reguler.


"Jadi kepala sekolah, apa sekarang aku boleh pergi." Bertanya Askar dan siap balik kanan menuju pintu keluar.


Tapi cepat sebuah meja menghadang di belakang Askar, kemudian kepala sekolah Gustav menjawab...."Jangan dulu, ada yang perlu aku bicarakan denganmu."


"Baiklah, apa itu kepala sekolah." Jawab Askar dan kembali menghadap kepada Gustav.


"Ini soal event festival pesta Nusantara yang akan diadakan di sekolah Elementor tiga lima hari lagi."


"Lantas apa hubungannya denganku." Askar masih bertanya kenapa.


Rumit wajah Gustav atas jawaban itu...."Aku ingin kau ikut ambil bagian di dalam event pesta Nusantara, karena acara ini menentukan nama baik sekolah kita."


"Ehhh merepotkan." Singkat saja tanggapan Askar.


"Kau tidak boleh mengatakan itu, karena kau berjanji akan melakukan segala hal yang berkaitan dengan kepentingan sekolah." Balas Gustav mengungkit masa lalu.


"Tapi kepala sekolah, aku tidak berpikir ini menjadi hal baik, bagaimana anggapan para kelas elite melihat kelas Reguler seperti ku ikut ambil bagian."


Terhembus nafas berat dari mulut Gustav seakan menyesali sesuatu...."Itulah sebabnya dulu, aku tidak ingin kau masuk ke kelas Reguler."


Askar tersenyum cerah...."Karena itu...."


Hanya saja Gustav memotong ucapan Askar...."Tidak masalah, biar aku urus semua masalah tentang kelas Elite."


"Padahal aku belum selesai bicara." Gumam Askar.


"Aku yakin kau hanya ingin melepas tanggung jawab atas janjimu." Gustav sudah menyadari itu.


Nura yang masih ada di dalam ruangan mendengar banyak hal dari Gustav dan Askar, karena diantaranya adalah keinginan Askar untuk memasuki kelas reguler daripada kelas Elite.

__ADS_1


Ini cukup mengejutkan, dimana banyak orang berebut memasuki kelas elite, tapi satu lelaki itu melepas kesempatan yang berharga untuk mendapat nama besar demi masa depan cerah.


Nura merasa tidak nyaman untuk semua percakapan penting antara kepala sekolah Gustav dan Askar, dia pun mengangkat tangan dan berkata.


"Maaf kepala sekolah, bisa aku bicara."


"Oh nona Nura ... Ada apa ?." Bertanya kepala sekolah Gustav.


"Sepertinya obrolan anda sangat berat dan rahasia, aku tidak nyaman mendengar semua yang dibicarakan, jadi apa aku harus pergi saja ?."


Gustav barulah sadar, jika semua hal yang dia bicarakan dengan Askar terbilang sangat penting dan rahasia, sedangkan kehadiran Nura tentu akan mendengar.


"Ya itu benar nona Nura, maaf, jadi silakan... Maaf aku tidak bisa mengantar." Balas kepala sekolah Gustav.


"Itu bukan masalah tuan Gustav dan jaga diri anda." Ucap Nura sebagai salam sebelum pergi.


Selagi Nura berjalan menuju pintu keluar, tatapan mata itu tertuju kepada Askar. Ada banyak hal menjadi pertanyaan tentang status yang dia miliki, bahkan sikap kepala sekolah Gustav sendiri, terbilang sangat perhatian kepadanya daripada murid-murid kelas elite lain.


Askar membalas tatapan mata Nura dengan senyuman wajar seperti sebuah sapaan dan tentu dia pula tidak ingin dianggap sebagai orang yang sombong.


"Jadi bagaimana Askar ?." Bertanya Kepala sekolah Gustav.


"Baiklah... Karena tidak mungkin aku mengingkari janji. Tapi aku tidak ingin ada masalah yang terjadi karena keputusan anda, kepala sekolah." Askar memberi satu syarat secara langsung.


Bagaimana pun secara umum, orang-orang yang terpilih sebagai peserta dalam acara penting dan mencakup nama sekolah untuk skala nasional adalah para kelas elite. Hampir mustahil kelas reguler berhasil masuk dalam daftar peserta, kecuali lomba cerdas cermat atau olimpiade hitung cepat.


Akan menjadi hal aneh dan membingungkan bagi semua murid jika terjadi dalam sejarah sekolah Elementor, seorang dari kelas Reguler mampu menyingkirkan peserta kelas elite.


"Aku melakukan ini untuk kepentingan sekolah, event yang di hadiri semua sekolah Elementor seluruh Indonesia, dan itu akan menjadi nilai peringkat dalam rangking sekolah terkuat nasional. Dua tahun setelah Setsu lulus, sekolah Elementor tiga gagal dalam tiga besar." Tegas ucapan Gustav sebagai alasan dan memiliki rasa kesal dari caranya bicara.


Askar menghela nafas dengan wajah lemas dan bergumam sendiri...."Kenapa semua manusia selalu mementingkan peringkat dan kedudukan, pada akhirnya ini sama saja dengan sistem diskriminasi terhadap peringkat atas dan bawah."


Tetap saja, kepala sekolah Gustav memiliki telinga tajam untuk mendengar keluh kesah yang diucapkan Askar dengan pelan. Memang benar dan Gustav pun tidak menyalahkan, jika Rangking atau peringkat adalah diskriminasi dalam memisahkan dua hal dengan nilai berbeda.


Hanya saja, dunia memberlakukan sistem ini sejak dulu, tidak tergantikan atau berubah dari generasi ke generasi. Mereka-mereka yang memiliki kekuatan tinggi akan mendapat kehormatan, kejayaan dan semua orang jelas menyanjung untuk bisa menjilat.

__ADS_1


Sedangkan peringkat bawah, hanya berakhir seperti kain yang tergeletak di lantai untuk menjadi pembersih kaki. Sungguh Askar tidak pernah menyukai perbedaan kasta ini.


Gustav pun tahu itu, dia menjawab ..."Tidak perlu berpikir yang tidak-tidak Askar, kau hanya fokus untuk mengikuti event dan menang... Mudah kan."


"Ya mudah sekali kepala sekolah, hanya saja aku tidak mungkin menggunakan kekuatan sejati yang ada di dalam tubuhku." Askar masih mencari alasan untuk bisa terbebas dari tuntutan Gustav.


"Aku pun tidak ingin ada korban di acara ini.... Jadi, kau cukup mengeluarkan sedikit kekuatanmu." Balasnya dengan santai.


"Kata 'sedikit' yang kepala sekolah itu bisa membunuh seseorang." Askar tahu tentang takaran dari kekuatan miliknya.


"Kau harus bisa mengatur kekuatanmu." Tetap saja Gustav tidak ingin melepaskan Askar.


"Baiklah akan aku lakukan." Askar tidak bisa menolak setelah dia sudah berjanji saat memasuki sekolah ini.


"Itu yang aku harapkan." Tersenyum Gustav dengan wajah penuh kebahagiaan.


Tapi Askar tidak serta-merta melakukan ini tanpa imbalan, karena dia sendiri memiliki masalah yang harus di hadapi tentang hubungannya dengan seorang teman.


"Tuan Gustav, aku ingin meminta bantuan anda." Bertanya Askar tanpa basa basi.


"Apa itu ?."


"Apa anda miliki akses untuk melihat segala program penelitian murid di sekolah ini." Balas Askar atas tujuannya.


"Ya aku bisa, karena aku yang bertanggung jawab atas semua kegiatan siswa." Gustav memberi jawaban yang sangat tepat untuk urusan Askar.


"Kalau begitu ada satu penelitian yang ingin aku lihat."


"Tentang apa ?."


"Penelitian dimensi astral dari Setsu." Jawab Askar.


"Tunggu apa yang ingin kau lakukan." Potong Gustav mencari alasan Askar.


"Karena aku ingin tahu tujuan utama dari penelitian Setsu akan dimensi astral." Balas Askar tanpa perlu berbohong untuk alasannya.

__ADS_1


__ADS_2