
Bagi Askar sendiri, ini tidak bisa dikatakan pertarungan, dimana dia harus menggunakan kekuatan yang sangat terbatasi, bahkan untuk 1% kekuatan sejati dari ujung jarinya saja sudah cukup membunuh Doom tanpa perlu menggunakan alat Elemenstator.
Karena kekuatan yang dia miliki terlalu berbahaya, Askar harus menyegel semua hingga ke titik terendah, tapi dengan pertarungan percuma ini, menjadikan Askar serba salah.
Doom begitu percaya diri akan kemampuannya untuk mendapatkan posisi sebagai kandidat peserta Event Festival Pesta Nusantara jika Askar kalah, hanya saja itu menjadi sesuatu yang mustahil, karena dia sendiri tidak ingin kehilangan beasiswa dan segala fasilitas dari kepala sekolah.
Saat pertandingan akan dimulai, Doom mempersiapkan diri dengan sarung tangan yang menjadi alat Elemenstator untuk dirinya gunakan. Sebagai kelas elite, meski Doom masih tingkat satu, kekuatan dari dalam tubuh itu tidaklah kalah dengan para kakak kelas.
"Apa kau tidak mau menggunakan alat Elemenstator mu Askar." Bertanya Doom dengan kuda-kuda beladiri taekwondo sebelum menyerang.
"Tenang saja, aku sudah melakukannya." Jawab Askar yang berpura-pura agar tidak dianggap meremehkan.
"Tapi aku tidak merasa kau mengaktifkan kekuatan Elemenstator mu." Doom seakan menyadarinya.
Askar tersenyum sendiri dan menjawab ... "Ya kau tahu, aku menyembunyikannya, jadi jangan heran."
"Baiklah... Karena kau harus siap melawanku dengan serius."
"Majulah." Balas Askar yang juga siap melawan.
Kepala sekolah Gustav menjadi wasit untuk pertarungan mereka, tidak akan ada kecurangan, bahkan pilih kasih kepada siapa pun. Terlebih lagi semua murid pun menyaksikan secara langsung bagaimana Askar dan Doom saling bertarung.
Langkah pertama diambil oleh Doom, satu hentakan kaki keras menghantam lantai dan memberikan efek tekanan kuat di sekitar area dalam wilayah zona kekuatan itu.
Gustav yang hanya berjarak tiga meter dari tempat mereka berdua, merasakan jelas bagaimana tenaga dalam milik Doom sangatlah besar dan juga berat. Ini membuktikan bahwa sosok sebagai jenius muda tingkat pertama bukan sekedar omong kosong.
Hanya saja, melihat Askar yang berdiri diam dan santai dalam wilayah tekanan energi besar Doom, membuat siapa pun orangnya terkejut.
"Kau sudah mulai ?." Askar bertanya dengan wajah datar.
Doom merasa aneh, dia tidak melakukan kesalahan untuk melepas satu kemampuan khusus skill berupa kendali tekanan gravitasi dalam ruang lingkup sekitar wilayah Askar berdiri.
Melakukan satu hentakan kaki lagi, lantai batu yang cukup kokoh mulai retak dan amblas, dimana kekuatan pelepasan gravitasi Doom menjadi dua kali lipat. Tapi sayangnya, Askar tidak merasakan apa pun, hanya menggoyangkan pundak seakan ada yang hinggap di sana.
__ADS_1
Gustav mendorong mundur Doom dengan kekuatan kendali ruang hampa, ya ada rasa penasaran dan juga kecewa atas hasil dari serangannya.
"Bagaimana mungkin..." Doom sudah selesai melakukan serangan pertama dan Askar yang bertahan tidak sampai geser sedikit pun dari tempatnya berpijak.
"Askar sekarang giliran mu." Ucap Gustav memberi Askar tanda untuk melakukan serangan.
"Baik, pak kepala."
Askar mengarahkan satu tangan maju ke depan, begitu pula dengan Doom dia melepaskan lapisan energi dinding gravitasi di sekitarnya, ini menjadi pertahanan mutlak dari segala arah yang sangat sulit di tembus untuk satu serangan saja.
Dan Askar mengepalkan tangan menghantam udara, jarak antara dia dan Doom lima meter tapi pukulan Askar jelas tidak mencapai permukaan dinding energi miliknya.
Tapi pukulan Askar bukanlah tanpa arti, dimana secara tiba-tiba ruang kosong yang ada di depan Askar menjadi retak, menjalar jauh ke tempat Doom, dan saat menyentuh pertahanannya ledakan udara menghempaskan tubuh Doom hingga jatuh beberapa meter ke belakang.
Semua orang terkejut, begitu pula dengan Gustav, tapi untuk Askar apa yang dia lakukan sangatlah sederhana, bahkan belum bisa dikatakan sebagai serangan khusus menggunakan energi element.
Dia memusatkan tenaga dalam di ujung pukulan, melepaskannya di ruang kosong dan menekan kuat hingga udara di sekitarnya pecah, tentu ledakan itu sendiri berhasil membuat Doom jatuh.
"Sejak kapan murid kelas Reguler bisa sekuat ini."
"Aku bahkan tidak tahu jika sekolah kita ada murid bernama Askar."
"Ngomong-ngomong bagaimana keadaan Doom."
Doom tidak kalah begitu saja, perlahan dia bangkit meski pijakan goyah dan hampir jatuh kembali.
"Apa kau masih sanggup Doom." Bertanya kepala sekolah Gustav karena sadar bahwa kondisi Doom tidak terlihat baik-baik saja.
"Bukan masalah, aku siap melakukan serangan." Jawab Doom penuh keyakinan.
"Baiklah, jika kau masih bersikeras untuk tetap beradu kekuatan."
Giliran kedua dari serangan Doom, dia mengumpulkan tenaga dalam di antara kedua tangan. Bola hitam ungu yang menjadi perwujudan energi gravitasi dari Elemenstator memiliki konsentrasi tekanan terbilang sangat kuat.
__ADS_1
Askar dengan santai berdiri tanpa perlu membentuk lapisan pertahanan atau hal lain demi melawan serangan Doom.
Pelepasan bola gravitasi melesat lurus ke tempat Askar, dan ketika berada tepat di hadapan Askar, bola itu membesar, semakin besar hingga menyelimuti seluruh tubuhnya dalam ruang tekanan gravitasi tingkat tinggi.
Tangan Doom kembali bergerak, dia seperti menekan turun untuk mengepal, mengendalikan ruang bola gravitasi agar menjatuhkan Askar ke tanah.
"Kau tidak akan bisa tersenyum santai setelah merasakan ini Askar...."
Room gravity : ledakan jatuh.
Dari tempat Askar itu, sebuah lubang diameter dua meter bola mengikuti bentuk serangan Doom, tapi Askar masih terlihat baik-baik saja setelah semua debu tersapu angin.
Hanya sekedar baju yang sobek di beberapa bagian tanpa ada luka selain bekas pertarungannya ketika menjadi pasukan Raynor Avya.
"Doom giliran mu sudah berakhir, kini berganti dengan Askar yang melakukan serangan kedua."
Doom menjadi gentar, sebelumnya merasa percaya diri karena serangan yang dia lepaskan adalah jurus andalan, tapi itu masih belum membuat Askar kalah.
Wajah Doom menjadi lemas, dia seakan ingin menyerah karena tidak tahu lagi harus melawan dengan apa, sedangkan serangan sebelumnya adalah yang terkuat.
"Baiklah aku akan mulai." Berkata Askar.
Askar tersenyum, ya kekuatan yang kini dia keluarkan jelas tidak seperti serangan awal, dimana saat ini Askar benar-benar mengumpulkan tenaga dalam di ujung jarinya.
Itu hanya menjadi satu titik cahaya merah kecil sebiji beras, tapi jelas bagi Gustav yang tahu seberapa besar kekuatan Askar, membuatnya takut jika saja itu akan membunuh orang lain.
"Askar, batalkan serangan mu." Gustav menghentikan Askar.
Tentu Askar tidak benar-benar menggunakan kekuatan yang bisa membunuh, dan seperti keinginan Gustav, dia pun melenyapkan cahaya merah di ujung jari itu.
"Doom kau kalah, tidak ada lagi yang perlu diragukan jika Askar menjadi peserta Event Festival Pesta Nusantara." Ucap Gustav sebagai pernyataan tegas.
Siapa pun yang sudah melihat kekuatan Askar melampaui Doom, menunjukkan wajah pasrah akan keputusan Gustav.
__ADS_1