
Di dalam satu ruang kesiswaan itu, telah berkumpul sembilan belas murid yang akan menjadi peserta Event Festival Pesta Nusantara, salah satu diantara mereka adalah Sea.
Meski untuk sekarang Sea berada di kelas reguler, tapi perihal nilai peringkat dia masih menjadi pemegang top 20, dan salah satu murid di tingkat satu yang mendapat peringkat sebagai top ranking.
Tentu dari segi kemampuan bertarung, bakat pengolahan energi dan jumlah kekuatan tenaga dalam para top ranking tidak diragukan lagi sebagai yang terbaik di sekolah Elementor tiga ini.
Tapi Sea seakan tidak menyukai pertemuan dari para top ranking, dimana atmosfer suasana terasa begitu berat dengan aura kuat penuh persaingan satu sama lain. Bukan hal aneh, ketika para murid mengincar posisi lebih tinggi dan saling mengalahkan.
Dimana status kehormatan sebagai peringkat 'the big Four' sangat menjanjikan, mereka tidak hanya di lirik oleh banyak guild di Indonesia, melainkan guild skala internasional pun menginginkan para jenius seperti mereka.
Seorang wanita yang duduk tidak jauh dari Sea, kini berjalan mendekat untuk sekedar menyapa.., "Sea, bagaimana kabarmu."
"Senior Silka, aku baik-baik saja." Jawab Sea dengan sopan.
"Benarkah begitu ?, Aku cukup terkejut ketika tahu kau dipindahkan ke kelas Reguler." Balas kembali Silka penuh perhatian.
"Ya ini hanya sedikit kesalahan karena aku telah bertaruh kepada seseorang yang salah." Jawab Sea dengan senyuman.
"Tapi sepertinya kau tidak terlihat menyesal."
Senyuman sea tidaklah turun dia menganggukkan kepala perlahan...."Mungkin senior benar, karena aku cukup menikmati banyak hal di kelas reguler."
"Oh, itu cukup membuatku senang, aku pikir kau merasa depresi setelah kehilangan posisimu di kelas elite." Balas Silka.
"Tidak juga, terkadang aku berpikir menjadi kelas reguler tidaklah terlalu buruk, aku jadi lebih banyak memiliki waktu luang tanpa harus meladeni orang-orang yang ingin bertarung melawanku." Sea pun menjawab seperti apa yang dia rasakan, meski pun ada alasan kenapa dia senang.
"Aku seperti paham dengan pikiranmu itu."
Keduanya tampak akrab satu sama lain, dimana sebagai sesama wanita dan juga Sea menjadi junior yang sangat membanggakan. Silka tidak memiliki alasan membuat Sea sebagai saingan.
"Lantas, kau satu kelas dengan Askar ?."
Senyum Sea perlahan turun, ketika Silka menanyakan tentang keberadaan Askar ... "Ya itu benar Senior."
__ADS_1
"Bisa kau katakan, apa yang dia lakukan di kelas ?." Silka penasaran.
"Dia hanya orang yang sibuk dengan urusannya sendiri, tidak perduli soal orang lain." Orang lain yang dimaksud oleh Sea adalah dirinya sendiri.
Dimana sampai sekarang, Askar benar-benar seperti orang yang tidak perduli tentang isi perasaan Sea, dan lebih menganggap Sea sebagai saudara karena saling kenal sejak kecil.
"Kenapa senior menanyakan soal Askar."
"Aku memiliki urusan dengannya." Jawab Silka dengan nada berat dan kepalan tangan keras di atas meja.
'Kenapa dia selalu menarik perhatian wanita lain...' gumam Sea sendiri.
Selagi mereka berbicara untuk urusan pribadi, ada sosok lain yang berjalan mendekat, lelaki dengan senyum lebar dan tidak menyenangkan untuk dilihat.
"Oh. Oh. Oh, sungguh menjadi pemandangan yang menyenangkan melihat dua kecantikan saling bicara." Alex coba bicara dengan akrab.
"Geeh... Alex, untuk apa kau bicara denganku." Silka seakan tidak menyukai kehadiran Alex untuk banyak alasan.
"Dekat yang kau katakan, hanya sebatas teman belajar kelompok, tidak lebih dari itu, dan juga kau hanya bermain-main saja selama ini." Balas Silka.
"Kau tahu tidak ada yang membuatku harus serius, jadi aku anggap semua hanyalah permainan." Tapi seakan muka ada di pan*tat, Alex menjawab tanpa perduli hinaan dari Silka.
Tiba-tiba saja pintu terbuka, kepala sekolah Gustav dan seorang murid yang cukup terkenal karena menjadi bahan pembicaraan seluruh sekolah.
Dialah Askar, sosok fenomenal sebagai kelas reguler dan mampu mengimbangi perkelahian dengan Silka, meski pun pada akhirnya kalah, namun saat sekarang dia menjadi salah satu peserta Event Festival Pesta Nusantara.
"Cih.... Satu sampah masuk ke tempat ini." Gumam seseorang yang jelas tidak menyukai kehadiran Askar.
Alex dengan wajah rumit mulai ditunjukkan ketika sosok Askar masuk, dia pun bicara bicara ..."Kepala sekolah, apa kau yakin dengan membawa bocah itu kemari."
"Askar sudah membuktikan diri dengan mengalahkan Doom, jadi tidak ada yang perlu diragukan lagi." Jawab Gustav.
"Doom hanya bocah kemarin sore, kemampuannya bahkan tidak bisa dibandingkan dengan kami." Alex memberi pernyataan dengan mengejek.
__ADS_1
Ucapan Alex memang ada benarnya, dimana Doom mendapat predikat sebagai sosok jenius untuk tingkat satu, tapi jika harus dibandingkan dengan para top rangking, ibarat langit dan bumi.
"Jika memang senior Alex, meragukannya, coba saja untuk menguji Askar." Ucap Sea yang dengan jelas tidak menyukai sikap Alex.
Alex tersenyum, dia menganggap ucapan Sea cukup masuk akal, langkah tegap maju, dan wajah meremehkan kepada Askar. tapi dari cara Alex menatap, itu memiliki kekuatan energi.
Kekuatan khusus yang digunakan oleh Alex adalah intimidasi, membuat siapa pun bermental lemah dan kekuatan jauh lebih rendah akan lemas, jatuh kemudian tidak sadarkan diri.
Tapi Alex bingung, untuk beberapa menit saling menatap, bahkan cukup lama hingga mata Alex kering, tidak sedikit pun memberikan pengaruh terhadap Askar.
"Ada apa senior." Bertanya Askar santai saja.
"Tidak, bukan apa-apa, duduklah kau." Alex menyadari jika Askar tidak lebih lemah darinya.
Gustav mengetahui tindakan Alex hanya tersenyum sendiri, karena baru dia melihat kesombongan kelas elite pudar untuk satu orang kelas reguler.
Askar melihat sekeliling, para senior kelas elite dan para top rangking tidak terlalu perduli akan kehadirannya, kecuali satu orang, dia memberikan sorot tajam dari tempat duduk.
"Senior Silka...." Ucap Askar merasa enggan mendekat dan mencari tempat lain.
"Mau kemana kau, kemarilah." Panggil Silka dengan nada yang dibuat ramah.
Tidak ada pilihan lain, karena dia sebagai Junior dan harus menaati panggilan Seniornya.
"Kau sekarang menjadi sangat terkenal Askar, apa itu artinya tujuanmu untuk hidup santai telah berakhir." Berkata Sea yang berada di sebelah tempat Askar.
"Ya begitulah, jika terus seperti ini aku tidak tahu apa yang terjadi di masa depan nanti." Balas Askar.
Setelah semua berkumpul, Gustav pun mulai pertemuan yang membahas tentang event festival pesta Nusantara, dimana akan ada dua puluh peserta dari masing-masing sekolah Elementor.
Jenis Event yang akan di selenggarakan adalah perebutan gelang batu kristal yang dimiliki oleh kelompok setiap sekolah. Dari dua puluh peserta, akan dibagi menjadi lima kelompok, masing-masing mendapat satu gelang batu.
Bertempat di kaki gunung merapi selama tiga hari, semua kelompok akan saling bertarung untuk mendapatkan sebanyak mungkin gelang batu.
__ADS_1