
Asrama pria, ruang kamar Askar....
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 19.21, Askar yang baru selesai membersihkan diri, kini berganti kostum dengan kemeja lengan panjang dan celana jeans. Sebuah penampilan tidak biasa bagi penghuni asrama kelas reguler dimana keseharian hanya menggunakan kaus polos dan celana kolor.
Ze seksama memperhatikan Askar dari ujung rambut hingga ujung kaki, bagaimana pun penampilan Askar sekarang bukanlah untuk tidur, beristirahat atau pun sekedar santai di dalam kamar. Melainkan sebuah kegiatan pribadi yang tidak banyak lelaki bisa lakukan. Askar bersiul, menatap cermin dan mulai merapikan rambut.
Sedangkan Ze menyibukkan diri dengan semua buku pelajaran yang bertumpuk-tumpuk di atas meja belajar.
"Kemana kau akan pergi Askar ?." Bertanya Ze.
"Ada hal yang harus aku lakukan." Santai Askar menjawab.
"Apa ini berhubungan dengan wanita ?." Hanya itu yang terpikirkan dalam otak Ze.
"Tidak, hanya bertemu teman lama."
"Untuk seorang teman lama kau benar-benar berpenampilan rapi." Itu cukup membuat Ze penasaran.
Askar selesai mengurus rambut dan semua hal yang diperlukan... "Kau tahu jika aku hanya menggunakan celana kolor aku bisa diusir nanti."
"Jawabanmu boleh juga." Ze pun mengangguk setuju.
"Aku akan pulang sedikit larut, jangan kunci jendelanya."
"Aku mengerti, jadi pergilah.... Dan jangan lupa bawakan aku martabak." Ucap Ze yang meminta sesuatu kepada Askar.
"Tenang saja."
Dalam Asrama semua hal yang dilakukan oleh para murid selalu mendapat pengawasan ketat, begitu juga untuk kegiatan di luar jam sekolah, jika bukan hal penting dan darurat mereka tidak diperbolehkan pergi. Karena itu satu-satunya cara adalah pergi melalui jendela atau mengendap-endap agar pengawas asrama tidak mengetahui kepergian mereka.
Melompat dari lantai 13, melepaskan kekuatan energi tenaga dalam dari kaki dan mendarat tanpa ada kesulitan. Melihat ada satpam yang berkeliling, Askar pun segera bergerak cepat menuju semak-semak untuk sembunyi.
__ADS_1
Sebagai seorang ahli dalam berbagai situasi serta kondisi, Askar mampu melenyapkan aura kehadiran untuk mengalihkan perhatian musuh, nyatanya cukup berguna di luar tugas militer selama ini. Melompati dinding pembatas dan keluar dari lingkungan asrama tanpa ada satu orang pun tahu.
Rumah sakit Harapan Kita....
Jarak antara asrama sekolah Elementor 3 dengan rumah sakit Harapan Kita terbilang cukup jauh, sekitar 40 kilometer di kota sebelah, tapi Askar berlari dan melompati setiap gedung dalam kecepatan tinggi.
Tidak kurang dari lima belas menit Askar telah sampai di depan gerbang rumah sakit yang memang ramai di kunjungi banyak orang. Tanpa ragu dia pun melangkah masuk menuju lobi rumah sakit.
Sebuah kebetulan dimana dia pula melihat komandan Zam sedang berbincang-bincang dengan salah satu petinggi militer. Meski Askar tidak kenal siapa orang itu, namun dilihat dari semua lencana yang hinggap di baju, bisa dikatakan sosok itu adalah seorang kolonel dari angkatan udara.
Bersembunyi dibalik tanaman hias Askar coba melihat ke tempat mereka berdua. Tapi insting Zam yang bisa merasakan seseorang dari jarak tertentu, mengetahui jika sedang di awasi. Sekilas pandangan tajam mata itu mengarah tepat ke tempat Askar sekarang.
Bagi seseorang seperti komandan Zam yang sudah mengalami banyak pertarungan dalam hidupnya. Jarang bagi komandan Zam menerima serangan dari belakang karena insting bertarung sangatlah tajam. Kecuali jika lawan yang harus dia hadapi adalah seorang Assassin terlatih tanpa aura kehadiran.
"Askar kemari lah." Panggil komandan Zam.
"Kapten Zam siapa bocah itu ?."
"Hanya kenalan anakku dan aku cukup akrab dengannya." Balas Zam yang menutupi identitas Askar.
Meski dianggap gurauan, tapi Zam tersenyum sebelum menjawab.... "Kolonel Wasesa bisa menganggapnya begitu."
"Baiklah, aku tidak ingin menggangu waktumu lagi. Besok aku akan coba melacak para pencuri itu dari satelit dan aku harap kita bisa menemukan mereka."
"Terimakasih kolonel, aku benar-benar mengharapkan kabar baiknya." Jawab Zam untuk sikap hormat mengantar kolonel Wasesa pergi.
Rumit masalah yang Zam hadapi sekarang, perihal pencarian mengenai pencuri dari Dimensional Cube. Dan pada akhirnya perintah tidak hanya untuk militer khusus, ketiga angkatan bersenjata laut, darat dan udara pun dikerahkan.
"Apa yang sedang komandan bicarakan dengan kolonel Wasesa ?." Bertanya Askar selagi datang menghadap Zam.
"Aku meminta bantuan untuk mencari barang teramat sangat penting."
__ADS_1
"Aku yakin benda yang komandan cari itu tidaklah murah." Askar berpikir karena tidak mungkin meminta bantuan kolonel Wasesa dari angkatan udara hanya untuk mencari dompet yang hilang.
"Kau benar Askar, aku sampai pusing untuk semua masalah yang terjadi." Jawab komandan Zam.
Barulah sadar jika kehadiran Askar di rumah sakit Harapan Kita tentu bukan sebuah kebetulan belaka.
"Untuk apa kau ada di rumah sakit ini ?."
"Aku hanya ingin menjenguk letnan Roi, komandan." Balas Askar dengan santai.
Tapi jawaban Askar membuat Zam terkejut, karena jelas kondisi Roi masih belum diketahui oleh orang lain kecuali keluarganya..."Dari mana kau tahu jika letnan Roi dirawat ?."
Askar membuka ponsel dan memperlihatkan pesan kepada komandan Zam..."Meski pun aku keluar dari militer bukan berarti kehilangan kontak dengan anggota lain, mereka memberiku kabar tentang masalah yang terjadi."
"Jika memang kau tahu, kenapa kau bertanya ini dan itu." Zam merasa kesal.
"Hanya sekedar basa-basi komandan."
"Kau itu ..... Sudahlah." Lemas Zam yang sudah dipusingkan oleh masalah Dimensional Cube dan sekarang menanggapi orang seperti Askar.
Tentu tidak jadi masalah jika Askar mengetahui kejadiannya, bagaimana Zam secara pribadi berniat meminta bantuan Askar untuk ikut ambil bagian mencari Dimensional Cube.
Askar berniat pergi, tapi kembali berhenti untuk menanyakan suatu hal.... "Iya komandan, kenapa anda membiarkan Sea pindah ke asrama ?."
Lemas wajah komandan Zam ketika membahas tentang Sea ...."Bukan aku membiarkan Sea, tapi dia memaksa untuk pindah. Aku benar-benar merasa jika Sea itu memiliki watak seperti ibunya."
"Dan anda adalah ayahnya." Askar melanjutkan kenyataan untuk Zam terima.
Tegas tangan Zam menepuk pundak Askar, sorot mata penuh keyakinan, kepasrahan dan harapan ditunjukkan jelas...."Askar tolong perhatikan Sea, aku yakin dia akan senang jika bersama denganmu."
"Aku memang melakukannya, tapi Sea lebih banyak marah dari pada senang. Wanita sangat sulit untuk di mengerti." Balas Askar yang ikut lemas memikirkan Sea.
__ADS_1
Lepas komandan Zam pergi, kini Askar berdiri di depan pintu lift untuk naik ke lantai 9, lebih tepatnya kamar pasien kelas umum No.57. Dimana itu adalah tempat dari letnan Roi menjalani perawatan.
Hendak pintu lift akan tertutup seorang wanita berlari dan menerobos masuk dengan cepat, hingga hantaman lutut kaki tepat sasaran di wajah Askar. Namun kebetulan lain pun terjadi, karena wanita yang muncul adalah kenalannya.