
Askar sampai di ruang kelas, semua murid mulai merapikan diri dan bersiap untuk pulang, begitu juga dengan Askar. Tapi ketika ruang kelas telah sepi, dia tidak melihat Sea kembali, ditambah lagi tas serta buku pelajaran pun masih ada di atas meja.
Tidak ada alasan bagi Askar untuk melarang Sea bepergian di waktu pulang sekolah, dimana cukup banyak murid-murid melakukan kegiatan tambahan setelah jam belajar berakhir.
Tentu Sea memiliki kesibukannya sendiri, dan juga dia bukan orang yang mengatur kehidupan Sea, selama itu menjadi hal baik Askar akan mendukung.
Pintu terbuka dan Erdu Wirajaya muncul, dia berjalan tergesa-gesa menuju meja untuk mengambil sesuatu yang tertinggal.
"Askar kau belum pulang ?." Bertanya Erdu ketika sadar bahwa Askar masih duduk diam di bangku.
"Ini aku baru akan pulang. Ya Erdu apa kau melihat Sea ?."
"Hmmm tidak, aku sudah sampai di gerbang dan baru ingat jika ponsel ku tertinggal."
"Begitu kah."
"Apa yang kau khawatirkan Askar, mungkin dia ada urusan dengan teman-teman di kelas Elite."
"Ya mungkin kau benar, tapi aku merasa aneh saja, tidak biasanya dia meninggalkan barang-barang sebelum rapi."
"Dia bukan anak kecil, jika pun ada masalah aku yakin Sea bisa mengatasinya, tapi jika kau pikir, siapa yang mau mencari masalah dengan Sea."
"Kau ada benarnya Erdu, orang yang mencari masalah akan mendapat masalah karena Sea." Tapi tetap saja ada suatu hal di pikiran oleh Askar.
"Sudah lupakan itu, ayo kita pulang Askar. Biar aku mengantarkan mu ke asrama."
Askar coba untuk tidak berpikir terlalu rumit, meski tempat ini di penuhi para senior-senior sombong yang mendominasi adik kelas, tapi jika itu adalah Sea, mereka akan berpikir dua kali ketika ingin mengganggunya.
Berjalan pergi dengan Erdu, keduanya membicarakan banyak hal yang biasa di bahas antar sesama teman satu kelas. Askar tahu jika sikap Erdu tidak seperti keturunan klan kuno lain. Dimana mereka menolak akrab kepada masyarakat biasa, apa lagi orang-orang dari kelas Reguler.
Walau mungkin alasan Erdu karena dia tidak memiliki orang lain yang dianggap sebagai teman, semua memanfaatkan uang saku dari Erdu atau menjalin koneksi kepada klan kerajaan kuno Mataram.
Tapi Askar tidak demikian, dia benar-benar tidak perduli jika Erdu adalah anak orang kaya, anak pejabat, anak bangsawan, anak polisi, anak petani, anak pemulung atau bukan anak siapapun, Askar hanya menunjukan diri bahwa dia ingin berteman tanpa alasan lain.
"Askar, Aku tahu kau memiliki bakat yang sama tingginya dengan kelas elite, tapi kenapa kau memilih di kelas Reguler."
__ADS_1
"Kau orang ke lima menanyakan hal yang sama tentang pilihanku."
"Lima orang itu siapa."
"Kepala sekolah Gustav, ibu guru Nadia, Sea, Ze, senior Silka dan sekarang kau."
"Lantas jawabanmu."
"Ya aku tidak mau melakukan hal yang membuat hidupku repot lagi."
"Kenapa kau menganggap menjadi kelas Elite itu merepotkan."
"Dipenuhi oleh orang-orang sombong berlagak kuat, saling berebut posisi, dan menganggap diri mereka adalah yang terbaik, sehingga hari-hari di kelas elite bisa terbayang jika itu tidak menyenangkan sama sekali."
"Pikiranmu aneh sekali Askar."
"Aku lebih suka menyebutnya unik." Balas Askar.
Keduanya tertawa, menceritakan masalah Erdu yang hidup dipenuhi tekanan batin, dimana selalu dibanding-bandingkan dengan anggota keluarga lain. Ini menjadi hal lucu, karena dia hidup hanya untuk menyenangkan orang bukan dirinya sendiri.
"Terkadang aku berpikir, jika suatu hari nanti kekuatanku bangkit, aku akan menunjukan di depan wajah mereka semua, bahwa aku bukan bahan lelucon yang bisa ditertawakan."
"Aku sangat menantikannya."
"Aku bisa membantumu jika kau mau Erdu."
"Itu tidak perlu Askar, karena aku sudah menemukan orang yang tahu cara agar bisa membangkitkan kekuatan."
"Baguslah, memang siapa dia."
"Senior Setsu."
"Jadi begitu." Askar mengangguk kepala seakan paham tentang metode yang diberikan Setsu.
Sesampainya di depan gerbang sekolah, sebuah mobil hitam telah terparkir sebagai jemputan Erdu. Anak klan kerajaan kuno memang memiliki fasilitas pribadi yang mewah, tanpa perduli jika dia anak tidak berguna, orang tua Erdu tetaplah kaya raya.
__ADS_1
Tapi sebelum Askar masuk, ada perasaan aneh yang datang, dimana tatapan matanya sekarang tertuju ke arah langit. Tidak ada hal aneh di atas sana, hanya saja insting Askar sangat peka terhadap hal-hal abnormal ketika akan terjadi.
Ada gambaran di dalam pikiran Askar, jika langit akan pecah dan ada retakan dimensi besar yang muncul di wilayah sekolah, jelas itu bukan pertanda baik.
Memang semua itu belum terjadi, tapi gambaran di dalam pikiran Askar adalah sebuah pertanda masa depan yang bisa dikatakan salah satu kemampuan khusus miliknya.
"Maaf Erdu sepertinya aku tidak bisa ikut denganmu."
"Kenapa Askar ?." Erdu bingung melihat sikapnya.
"Ada yang perlu aku lakukan, jadi kau duluan saja."
"Baiklah kalau begitu."
Setelah Erdu pergi, Askar pun bergegas kembali ke dalam sekolah, dalam satu kali lompatan gedung tujuh lantai dapat dia lewati dengan mudah dan berhenti di atasnya.
Tidak jauh dari tempat Askar, seorang guru tampak sibuk menikmati waktu makan siang sendirian. Dia terkejut dan berhenti sebelum satu sendok masuk ke dalam mulut.
"Askar apa yang kau lakukan di atas sini." Ucap pak Agus merasa tidak nyaman saat Askar melihat.
"Maaf pak Agus jika aku menggangu waktu anda, tapi akan ada retakan dimensi."
"Kau bicara apa ?, Di sekolah ini telah terpasang alat anti dimensi, mustahil terjadi retakan."
"Kalau begitu, apa yang terjadi di sana." Balas Askar dengan menunjuk ke atas langit.
Mengarahkan pandangan ke lokasi dimana arah tangan Askar menunjuk, itu adalah retakan dimensi seperti yang dia katakan.
Wajah pak Agus terkejut dia sampai lupa dengan satu sendok yang masih ditangan... "Itu bukan retakan dimensi, hanya rekayasa optik dari cahaya matahari terpantul oleh awan."
Santai pak Agus melanjutkan makan dan mulai mengunyah, sedangkan Askar bingung atas sikap yang ditunjukkan oleh pak Agus, walau orang-orang dibawah berteriak keras karena melihat retakan dimensi muncul.
"Pak Agus tolong terima kenyataan, kita tidak sedang dalam jam pelajaran sains, jelas-jelas itu adalah retakan dimensi, bukan rekayasa optik atau hal lain."
Sejenak pak Agus memperhatikan, setelah menelan makanan di dalam mulut, dia barulah sadar... "Sepertinya kau benar Askar, kita harus memanggil bantuan pasukan khusus."
__ADS_1
"Itu tidak akan sempat."
Ketika retakan dimensi terbuka sepenuhnya, lima sosok predator besar melompat turun ke tanah dan mulai meraung-raung tidak jelas.