DIMENSION GUARD

DIMENSION GUARD
kebetulan


__ADS_3

Kibasan rambut merah itu diterpa angin ketika langkah cepat dan melompat memasuki lift sebelum tertutup. Tapi Askar yang berada tepat di belakang pintu masuk, menerima sambutan keras dari hantaman lutut di kepala.


Sebuah kebetulan untuk kedua kali terjadi bagi Askar, dimana gadis cantik dengan rambut pendek berwarna merah itu datang tiba-tiba. Tentu saja Askar mengenal siapa dirinya, karena baru siang tadi mereka berdua berlatih ilmu beladiri aliran silat harimau, siapa lagi kalau bukan Redia atau orang lain panggil Red.


Redia melihat siapa sosok yang baru saja jatuh, dia pun terkejut ketika melihat wajah yang dia kenal muncul dihadapannya.


"Askar kenapa kau ada disini ?."


"Aku juga ingin bertanya hal yang sama." Balas Askar dengan mengusap pipi bekas hantaman lutut dari Redia.


Menjadi hal tidak terduga dialami Askar, Redia segera membantunya berdiri, bagaimana pun dia terburu-buru memasuki lift sehingga menjadikan Askar sebagai korban. Tentu tindakan Redia adalah hal yang buruk untuk siapa pun contoh, terlebih jika korbannya bukan orang baik, dia akan mendapat masalah.


"Apa kau baik-baik saja Askar." Pertanyaan yang aneh ketika tahu ada bekas merah masih jelas terlihat.


"Ya ini tidak bisa dibilang baik-baik saja, tapi selama kepalaku masih ada di tempatnya."


Redia tersenyum sendiri tanpa merasa berdosa.... "Syukurlah, aku pikir kau akan marah."


"Dari pada harus marah, aku lebih ingin kau membaca peringatan ini Red... 'Dilarang masuk jika pintu hendak tertutup' sedangkan kau malah berakrobat saat memasuki lift." Tunjuk Askar ke stiker peringatan yang terpampang jelas.


"Maafkan aku, aku terburu-buru."


Terhembus nafas berat dari mulut Askar..."Aku bisa melihatnya. Tapi kau tahu, itu akan membuat orang lain celaka."


"Karena itu aku minta maaf." Lirih Red menjawab.


Askar tidak mempermasalahkan apa pun, terlebih lagi dengan raut wajah Red yang menunduk malu, membuat Askar sadar jika dia sudah mengakui kesalahannya.


"Sudahlah. Lantas kenapa kau terburu-buru ?." Bertanya Askar.


"Aku mendapat pesan jika kakakku sedang di rawat di rumah sakit ini, jadi aku secepat mungkin datang untuk menjenguknya."


"Wajar saja kau terlihat begitu khawatir, jadi lantai mana kau akan pergi ?."


"Lantai 9." Jawab Red dan Askar menekan tombol menuju lantai 9.

__ADS_1


Redia merasakan suasana canggung antara dia dan Askar, ditambah dengan lift yang kosong tentu dianggap aneh untuk kedua teman dalam satu tempat tidak saling bicara.


Redia pun mengambil inisiatif bertanya..."Askar kenapa kau ada di sini."


"Soal itu, aku sedang menjenguk seorang teman lama." Jawab Askar.


Redia pun menanggapi jawaban itu..."Di lantai mana kamar temanmu Askar ?."


"Lantai 9."


"Kau sepertinya memiliki hubungan yang sangat akrab dengan temanmu." Redia hanya mencoba mencairkan suasana agar lebih baik.


"Kenapa kau berpikir demikian."


"Jika tidak kenapa kau jauh-jauh datang ke kota ini untuk menjenguknya, sedangkan jarak dari asrama sekolah cukup jauh." Balas Redia.


Askar menganggukkan kepala...."Kau ada benarnya, kami sudah saling kenal lama, bahkan berbagi kamar serta melakukan tugas bersama-sama, tapi untuk beberapa alasan aku memilih pergi dan bersekolah di Elementor 3."


"Kau teman yang baik."


"Tidak ada yang salah, kau memilih jalan hidupmu sendiri dan dia juga menjalani kehidupan miliknya."


"Kau benar juga Red." Askar pun setuju.


Berbeda dari Setsu atau Zifa sebagai teman satu angkatan, letnan Roi lebih seperti guru pembina yang memberi perintah kepada para pasukan Raynor Avya di dalam pelatihan.


Tapi setelah banyak pertarungan dilewati oleh mereka semua, hubungan diluar pekerjaan sama baiknya seperti seorang teman. Duduk di meja yang sama, makan makanan yang sama dan saling berbincang untuk masalah yang sama pula. Tidak ada salahnya menganggap bahwa seluruh anggota Raynor Avya adalah teman, termasuk letnan Roi.


Setelah pintu lift terbuka di lantai tempat mereka berdua tuju, Askar dan Redia pun melangkah keluar, tapi perasaan aneh datang ketika berhenti di satu pintu yang sama.


"Apa temanmu ada di kamar ini Askar ?." Sekali lagi Redia bertanya.


"Tidak salah lagi, aku yakin jika dia berada di kamar 57. Kenapa kau bertanya Red ?."


"Kakakku juga ada di kamar 57."

__ADS_1


"Apa ini sebuah kebetulan ?." Balas Askar dengan santai.


"Ya mungkin saja."


"Tapi ruang perawatan kelas umum memiliki 3 ranjang tempat perawatan, aku pikir tidaklah aneh, jika kakakmu dan temanku di kamar yang sama." Askar pun merasa sedikit aneh untuk pertemuan mereka.


"Kau benar, ini tidak aneh." Redia mengangguk setuju, dia pula coba menerima semua hal sebagai kebetulan yang bisa saja terjadi.


Akan tetapi, ketika pintu mereka buka dan melihat ke dalam, di kamar nomor 57 hanya ada dua pasien yang menempati ranjang perawatan. Redia yakin bahwa tidak ada kebetulan untuk ketiga kalinya, sehingga bisa dipastikan bahwa satu pasien itu adalah teman Askar.


Redia membuka tirai dan tampak seorang lelaki yang di penuhi perban karena mendapat luka cukup besar sedang duduk menikmati makanan. Tapi melihat kehadiran Redia, lelaki itu mengarah pandangannya dengan senyum lebar.


"Oh Red, kau sudah datang." Sapa kakaknya itu.


"Awalnya aku khawatir setelah mendengar kabar jika kakak harus di bawa ke rumah sakit, tapi melihat kau sudah sadar aku rasa kekhawatiran ku menjadi percuma." Ucap Redia dengan mengambil kursi untuknya duduk.


"Padahal aku sudah senang mendengar kau khawatir kepadaku.... Ngomong-ngomong apa hubunganmu dengan Askar."


"Dia hanya teman satu sekolah.... Tunggu." Redia melihat ke belakang dan Askar ada di sana...."Askar kenapa kau disini."


Redia benar-benar terkejut karena tidak mampu menerima tiga kali berturut-turut dalam hal kebetulan, di waktu, tempat dan orang yang sama.


"Letnan Roi ini adalah teman yang aku katakan sebelumnya."


"Tapi kenapa ?... Bagaimana bisa ?, Kapan ?, Siapa ?." Rumit Redia berpikir tentang hubungan teman antara kakaknya dan Askar.


"Ucapan mu menjadi asal Red, jangan terlalu bingung, karena apa yang Askar katakan itu benar." Letnan Roi coba menenangkan Redia karena tidak bisa menerima kenyataan.


"Letnan, aku tidak tahu jika Red itu adalah adik yang selama ini anda ceritakan, Siapa sangka, sekarang aku berada di sekolah yang sama dengan Redia."


"Kalau begitu aku akan merepotkan mu untuk menjaga adikku ini." Cara letnan Roi menanggapi jawaban Askar sangat akrab.


"Tentu saja letnan." Balas Askar.


Antara Askar dan Letnan Roi tertawa, sedangkan Redia masih bingung sendiri, mengingat bahwa Askar adalah seorang murid sekolah yang dia kenal siang tadi. Tapi di sisi lain, Askar mengenal sosok Kakaknya, seorang letnan dua dari pasukan militer berkekuatan khusus.

__ADS_1


__ADS_2