
Dengan menyembunyikan aura kehadiran Askar melihat semua yang terjadi dari balik jendela, karena bagaimana pun Setsu termasuk anggota pasukan Raynor Avya tingkat tinggi, bukan hal sulit untuknya bisa saja menemukan Askar.
Mata Askar yang memiliki kemampuan khusus menerawang ke tubuh Erdu, dan cukup mengejutkan, jika semua yang Setsu lakukan benar-benar memberi kekuatan tenaga dalam.
"Dia menciptakan alat yang cukup berguna bagi orang lain rupanya." Gumam Askar yang memperhatikan seksama.
Askar mengenal Setsu untuk waktu lama, dan dia tahu bahwa lawannya satu ini termasuk sebagai orang baik dalam hal kemanusiaan, selama empat tahun setelah kepergian Setsu dari keanggotaan Raynor Avya, Askar tidak tahu perjalanan hidup seperti apa yang dilalui oleh Setsu, sehingga mengambil Dimensional Cube.
Ditambah lagi, Erdu mulai mencoba kekuatan tenaga dalam itu dengan alat Elemenstator, dimana satu tangan mengalirkan energi berjenis element Angin. Berayun tangan Erdu yang mendorong beberapa barang hingga terhempas.
Tidak menganggap bahwa bantuan Setsu merugikan orang lain, Askar cukup lega, karena jika pada akhirnya dia hanya memanfaatkan keputusasaan Erdu demi kepentingan pribadi, Askar tidak akan segan-segan masuk untuk menghentikannya.
Berselang beberapa nafas, merasakan ada aliran energi mendekat, segera Askar melompat menjauh dan pergi. Tapi bukan berarti lepas begitu saja, dua mahasiswa lelaki dan perempuan mengejar dan menghentikan Askar tepat ketika mendarat di sebuah taman luar kampus.
"Oh.... Seorang murid SMA kah ?, Apa yang kau lakukan di atas gedung, mencuri ? Atau mengintip ?." Ucap satu wanita itu selagi memperhatikan emblem di jubah.
Askar bersikap sopan dan menjawab ..."Maaf senior, aku hanya berlatih meringankan tubuh dan tanpa sadar aku sampai di atas gedung kampus."
"Jarak antara gedung SMA dan gedung kampus sangatlah jauh, tidak mungkin kau berlatih tanpa memastikan tempat mu sendiri. Kau pasti berniat melakukan sesuatu yang tidak baik." Lelaki di samping wanita itu membalas dengan nada tinggi.
"Tolong jangan sembarangan menuduh senior, aku tidak melakukan hal yang mencurigakan."
"Ya kau tahu, tidak ada pencuri yang mengakui kejahatannya."
"Tapi aku benar-benar tidak mencuri atau hal lain, hanya berlatih dan sekarang aku akan pergi." Balas Askar.
Baru Askar melangkahkan kaki, lapisan dinding batu terbentang di hadapannya, dua mahasiswa itu tidak berniat membiarkan Askar untuk pergi tanpa kejelasan.
"Senior aku pikir di tempat ini melakukan tindak kekerasan dengan kekuatan, itu dilarang." Askar masih ingat tentang peraturan bagi para murid.
"Tidak, jika kami melakukannya untuk menegakkan kebenaran."
Askar tidak habis pikir...."Menuduh seseorang bukan sebuah kebenaran."
Satu hentakan dilakukan oleh mereka, tempat Askar berdiri tiba-tiba saja terangkat dan mengunci kaki dengan kekuatan Elementor tanah. Jelas tindakan yang mereka lakukan adalah untuk menangkap Askar.
__ADS_1
Tapi apa yang mereka lakukan masih belum cukup jika harus menghentikan Askar, melepaskan diri dengan melompat, meski begitu tanah mulai bergerak mengejar. Askar berhenti setelah cukup jauh lolos.
Satu orang lain datang, melepaskan serangan lurus yang mengarah tepat untuk mencengkram pergelangan tangan Askar. Sedikit gerakan bergeser ke samping dan berbalik memutar tubuh lelaki hingga jatuh.
"Apa kita tidak bisa bicara baik-baik, aku karena jelas aku bukan orang yang melakukan hal aneh." Askar coba membela diri.
Seakan tidak terima karena di jatuhkan oleh murid dibawah tingkatan, lelaki itu membalas ucapan Askar...."Jika memang kau tidak melakukan hal yang salah, kenapa kau melawan ?."
"Hei... Kalian menyerang ku, aku tidak mungkin pasrah begitu saja untuk merasakan sakit."
"Aku anggap jawabanmu itu sebagai penolakan."
"Anggapan senior terlalu berlebihan." Askar kembali menjauh.
Sekilas melihat bahwa mereka berdua tidak berhenti menyerang, Elemenstator aktif dan kembali menggunakan kekuatan tanah yang semakin dekat.
Kedua tangan Askar di arahkan maju, ledakan gelombang pun muncul membuat segala kekuatan energi di sekitarnya terpecah. Dua mahasiswa yang berada tepat beberapa meter di depan Askar merasakan dorongan kecil untuk membuat mereka jatuh.
Mencoba melakukan serangan kembali, tapi kejutan terjadi saat tahu bahwa kekuatan energi dari alat Elemenstator tidak bisa diaktifkan.
Tapi jelas ini menjadi satu kemampuan khusus Askar yang dia gunakan, dia mengendalikan segala bentuk energi untuk dipecahkan dan tidak bisa digunakan.
"Apa yang kau lakukan !!!."
"Aku tidak berniat bertarung, jadi bisa kita akhiri ini dan aku akan pergi dengan tenang."
Meski kekuatan mereka telah Askar pecah, satu lelaki itu berlari mendekat dan ingin melayangkan satu pukulan tangan kosong. Askar mengarahkan jari telunjuk yang secara ajaib menghentikan semua pergerakan tubuh keduanya.
"Lepaskan kami."
"Jika senior sekalian masih tidak mau mendengarkan, aku bisa melakukan ini seharian."
Askar memang tidak berniat menggunakan kekuatan untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini, hanya saja sikap kedua senior sangat keras kepala tanpa mau mendengar penjelasannya.
Mustahil bagi mereka untuk melawan, karena kendali kekuatan yang Askar miliki jauh lebih besar dari keduanya, bahkan dengan pertarungan ilmu beladiri, dia masih bisa diatasi dengan mudah.
__ADS_1
Tahu bahwa ada orang lain datang mendekat, segera Askar menurunkan tangan dan membebaskan mereka dari kekuatan kendali yang digunakan.
Seorang wanita berjalan mendekat dan menghentikan tindakan mereka. Sikap anggun serta tegas menunjukkan diri dengan penampilan seorang yang terhormat di kalangan masyarakat menengah atas.
"Senior Nura...." Saut satu wanita yang jelas mengenalnya.
"Nura ?." Askar merasakan sesuatu dari nama itu.
"Ada masalah apa ini, Risa." Bertanya sosok Nura ketika tahu ada masalah yang sedang terjadi.
Dia anak kedua dari Wira Panatagama, putri kepala klan Mataram yang memang melakukan studi lanjutan di universitas Elementor tiga ini. Tentu semua murid mengenalnya, karena Nura termasuk mahasiswa jenius.
"Kami mendapati murid sekolah menengah atas ini berada di atas gedung kampus, jelas tindakannya membuat kami curiga, karena cukup banyak kejadian hilangnya barang-barang di dalam kampus." Jawab Risa seperti yang dia anggap.
"Apa itu benar ?." Balik bertanya Nura kepada Askar.
Menggelengkan kepala sebagai tanda penolakan...."Tentu saja tidak, kedua senior ini memiliki imajinasi aktif dalam berspekulasi."
"Kau....." Ditunjuknya Askar dengan kesal.
Tapi cepat Nura menurunkan tangan Risa...."Jangan asal menuduh Risa, aku pikir dia tidak mungkin melakukan pencurian di tempat ini."
"Senior, wajahnya terlihat mencurigakan."
"Maaf saja, jika wajahku mencurigakan, senior." Gumam Askar merasa terhina.
Mengeluh Nura karena ini hanya sekedar masalah kecil yang tidak pantas di ributkan...."Ok baiklah, biar aku urus semua, kalian berdua pergilah."
"Baik senior."
"Aku mengerti." Keduanya pun pergi, meski ada perasaan kesal karena dipecundangi oleh Askar.
"Jadi sekarang kau ikut aku."
"Kemana ?."
__ADS_1
"Ke kepala sekolah Gustav." Jawab Nura, dia ingin mendengar penjelasan dari orang yang lebih berhak memutuskan.p