DIMENSION GUARD

DIMENSION GUARD
pikun


__ADS_3

Nura berjalan turun menuju halaman luar setelah berganti kostum dengan pakaian kebaya style nuansa modern berwarna merah cerah.


Ada pun Agra, anak kedua dari kepala klan Mataram Wira, berdiri di samping sang ayah dengan penampilan penuh wibawa, sebagai putra mahkota yang akan melanjutkan kekuasaan kepala klan di masa depan.


"Nura, dimana Erdu ?." Bertanya Wira saat melihat anak perempuannya turun dari lantai dua.


"Dia mungkin masih di kamar ayah." Jawab Nura.


Wira cukup tahu tentang kebiasaan Erdu untuk menghindari pertemuan keluarga seperti ini, tekanan dari saudara-saudara lain pun menjadi salah alasan sejak dulu.


"Apa perlu aku panggilkan ayah ?." Ucap Agra.


"Baiklah, katakan untuk cepat turun, karena Kakek akan segera datang."


"Baik ayah."


Tapi baru satu langkah Agra ambil, sosok Erdu muncul dari atas lantai dua... "Itu tidak perlu kakak, aku ada di sini."


Wira melihat Erdu dengan sedikit perasaan aneh, karena ini jelas tidak biasa, Erdu menunjukan raut wajah tegas ketika semua saudara datang.


Tapi tetap saja, orang lain yang ada di sekitar mereka pun mulai berbisik-bisik, mengomentari Erdu seperti biasa.


"Ini mengejutkan, anak ayah yang biasanya cuma bersembunyi, kini berani datang sendiri."


"Sungguh berbeda dengan kedua saudaranya yang sangat jenius, tapi dia sangat tidak berguna."


"Sampah yang hanya mengotori klan Mataram."


Semua orang menganggap bahwa Erdu sebagai bahan ejekan saja atau mungkin sebuah hiburan untuk menghilangkan suasana bosan mereka.


Wira, Agra atau pun Nura melihat Erdu datang tanpa sedikitpun berkedip, memalingkan pandangan sampai dirinya berdiri di samping mereka.


"Ada apa ?, Kenapa kalian melihatku begitu aneh." Ucap Erdu sedikit sombong.


"Apa kau sedang sakit ?, Atau tidak enak badan Erdu ?." Bertanya Agra seperti apa yang dia pikirkan.


"Jika aku sakit, aku tidak akan datang kemari untuk menyambut kakek." Balas Erdu.


"Itu ada benarnya."


"Jadi ?, Ini bukan hal yang aneh kan ?."


"Ya.... Begitulah."

__ADS_1


Tidak berselang lama, setelah semua penyambutan siap, sebuah mobil hitam Limousine berhenti tepat di depan gerbang kediaman klan Mataram, dan muncul seorang lelaki tua bertubuh tegap kekar berjalan di atas karpet merah.


Dia adalah sosok legenda bagi klan Mataram, ketika perang dunia masih berlangsung, Susuhunan Prabu Anyakra membawa sepuluh ribu pasukan untuk menjaga perbatasan negara. Dia dan para ketua klan lain mampu membantai habis para penyusup yang coba memanfaatkan situasi perang untuk memasuki Nusantara.


Lelaki tua berjuluk Kesatria merah dari tanah Mataram, termasuk di dalam sepuluh kekuatan yang tidak bisa di goyangkan oleh pemerintah.


Berjalan penuh wibawa, langkah tegas dengan tubuh tegap berotot kini berdiri di hadapan Wira sembari melepas kacamata hitam.


Semua keluarga yang berkumpul di halaman luar tertunduk patuh, meski pun status kepala klan Mataram sudah berpindah alih kepada Wira, tapi tepat saja, sosok Susuhunan Prabu Anyakra menjadi leluhur yang harus di hormati.


"Kakek, selamat datang kembali di rumah." Berkata Wira yang tertunduk patuh.


"Wira, bagaimana kabar mu, apa klan Mataram baik-baik saja." Balas Kakek Anyakra dengan tepukan di pundak Wira.


"Tentu saja, ayah, klan Mataram tidak akan tergoyahkan di tanah Java ini."


"Baguslah kau melakukan tugas dengan baik."


"Terimakasih ayah."


Pujian dari Susuhunan Prabu Anyakra sangatlah berarti bagi Wira, dimana itu menjadi pembuktian bahwa tidak ada penyesalan bagi sang ayah menyerahkan kursi kepemimpinan klan Mataram kepadanya.


"Lantas ada kepentingan apa Ayah pulang ke rumah." Bertanya Wira.


"Apa itu menjadi hal aneh ketika aku ingin pulang ?."


"Hmmm kau benar Wira, tapi mungkin ini bukan hal penting, hanya keinginan seseorang yang meminta bantuan kepadaku." Jawab kakek Anyakra dengan usapan di janggut.


"Bantuan, bantuan seperti apa yang ayah maksud."


"Arsip zaman kerajaan kuno klan Mataram."


Wira cukup terkejut dan membalas ...."Tunggu ayah, jika itu untuk seseorang, bukankah kita tidak bisa memperlihatkannya."


"Apa yang kau katakan Wira, dia bukan sekedar seseorang, atau pun orang Asing, karena dia cukup banyak membantu klan Mataram beberapa tahun lalu." Tapi kakek Anyakra jelas memberi perhatian khusus kepada orang itu.


"Maksud ayah ketika terjadi masalah dengan para pemberontak klan."


"Itu benar."


"Siapa orangnya ayah." Wira pun merasa penasaran.


Dengan senyum yang muncul di wajah tua Susuhunan Prabu Anyakra, dia bersiul sebagai tanda untuk sosok itu keluar dari dalam mobil.

__ADS_1


Semua orang mengangkat kepala ketika Susuhunan Prabu Anyakra memanggil seseorang yang berada di dalam mobil, tentu bukan sembarang manusia bisa mendapat perhatian dari leluhur klan Mataram ini.


Bahkan para petinggi pemerintah haruslah menundukkan kepala dan memberi hormat ketika Susuhunan Prabu Anyakra datang. Tapi dia secara khusus mendapatkan sambutan sebagai seorang teman, dan jelas siapa pun merasa penasaran.


"Kau harusnya ingat, Wira, permasalahan yang terjadi beberapa tahun lalu, kudeta dari para pemberontak klan Mataram, dan dialah sosok penyelamat itu." Wira penuh rasa kagum memperkenalkan kembali.


Tapi ketika pandangan mata mengarah ke depan, siapa pun yang melihat jelas sangat terkejut, karena tidak hanya soal penampilan atau kepantasan dianggap sebagai orang penting, dia juga masih menggunakan seragam sekolah.


Seorang anak muda yang dibawa langsung oleh mobil pribadi Susuhunan Prabu Anyakra, terlihat sangat muda dan tidak terlihat pula sebagai sosok penting.


Wira menyipitkan matanya dan mulai memperhatikan dengan cermat sosok lelaki yang kini berdiri tegas dihadapan semua orang.


"Lama tidak bertemu tuan Wira." Ucap sosoknya dengan senyum santai.


Tapi ada dua orang yang jelas tidak bisa menutup mulut mereka, kejutan yang membuat keduanya tidak bisa dibayangkan sedikit pun.


"Askar !!?."


"Askar !!?." Dua suara menyebut nama itu secara bersamaan.


Dua suara itu berasal dari Erdu dan Nura, bagaimana tidak kenal, karena baru beberapa jam lalu, mereka saling bertemu.


"Oh, kalian mengenal Askar."


"Tentu saja kakek, karena aku satu sekolah, bahkan satu kelas dengan Askar." Jawab Erdu yang tidak mungkin salah lihat.


"Hahaha, itu bagus, kalian berdua bisa menjadi teman."


"Tapi... Tapi... Tapi kenapa kakek menyebutkan jika Askar adalah sosok penting sebagai penyelamat klan Mataram." Nura pun mempertanyakan hal yang mungkin semua orang pikir kan.


"Ketika kudeta para pemberontak itu memulai serangan, dia adalah orang yang memimpin pasukan khusus dari untuk mengatasi masalah." Jawab kakek Anyakra.


Setelah Susuhunan Prabu Anyakra mengatakan identitas Askar, dia menarik lengan baju kakek Anyakra.


"Ada apa Askar."


"Bukankah sudah aku katakan kakek, jika itu adalah rahasia." Ucap Askar.


"Oh, apa benar begitu, aku sudah lupa." Kakek Anyakra menjawab dengan tawa yang cukup keras.


"Padahal baru beberapa menit lalu aku mengatakannya." Keluh Askar karena ingatan Kakek Anyakra yang sudah mulai pikun.


Satu hentakan kaki tegas menghantam lantai, semua orang terdiam tidak ada yang berani bersuara karena kakek Anyakra akan bicara.

__ADS_1


"Baiklah, untuk semuanya, semua yang aku katakan tadi adalah rahasia, jangan sampai ada orang lain tahu. Jika sampai terjadi, kalian semua akan berurusan denganku." Tegas ucapan Kakek Anyakra sebagai peringatan.


Tapi ini menunjukkan dengan jelas kepada dua orang, Erdu dan Nura, tentang asal-usul Askar yang memiliki kemampuan diatas rata-rata.


__ADS_2