
Malam semakin larut, bahkan sudah lebih dari setengah jam untuk mereka berdua ada di atas gedung asrama, Sea menikmati waktu dengan Askar meski tidak nampak secara jelas di wajahnya.
"Sea, kenapa kau ada di asrama wanita, bukankah jarak antara rumahmu dan Sekolah tidak terlalu jauh." Bertanya Askar.
"Kau tahu Askar, terkadang berada di rumah itu membosankan, jadi aku berpikir untuk mengubah suasana dan tinggal di asrama." Santai Sea menjawab.
Askar mengangguk paham..."Ah aku pun pernah merasakan hal yang sama, ketika aku bosan tidur di atas kasur, aku berpikir untuk tidur di bawah kasur, suasana baru."
"Aku pikir otakmu itu yang salah."
"Aku hanya bercanda, aku tidak mungkin tidur di bawah kasur, sebenarnya kasur lah yang ada di atasku."
Cara Sea memandang jelas aneh... "Memang apa bedanya, itu sama seperti, kau harus berpikir menggunakan kepala, tapi ternyata otakmu ada di lutut."
"Jika itu terjadi maka aku harus menjaga lutut agar tidak jatuh."
"Sepertinya itu tidak perlu, karena aku tidak pikir bahwa lutut mu masih memiliki otak."
"Hei meski jarang aku gunakan, tapi aku yakin masih memilikinya."
"Di lutut ?."
"Di kepala tentunya."
Ini hanya sebuah perbincangan sederhana yang biasa mereka berdua lakukan, tapi beberapa tahun terakhir Askar benar-benar di sibukkan oleh pekerjaan, sehingga cukup lama mereka tidak bertemu.
Askar bisa melihat perubahan dari Sea, dia yang dulu tidak terlalu menonjol, kini memiliki banyak hal menonjol untuk diperhatikan. Lebih tepatnya dengan cara berpenampilan, tapi tidak luput pula yang tersimpan di balik pakaian.
Mengingat bahwa Sea adalah gadis manja yang selalu ingin mencari perhatiannya, tapi sekarang dia menjadi wanita tegas dengan keanggunan penuh wibawa.
Askar menunjukkan sebuah senyum ketika memperhatikan wajah Sea.... "Kau sekarang benar-benar berubah."
"Apa itu sebuah pujian atau kau mengejekku." Sea cukup sensitif dengan pertanyaan Askar.
"Tentu saja pujian, kau semakin cantik dan juga lebih menyenangkan untuk di lihat."
"Apa yang kau lihat sebenarnya."
Askar hanya tertawa untuk menjawab pertanyaan Sea, sedangkan dia berusaha tetap tenang dan menyembunyikan rasa bahagia dimana saat ini Askar memberi pujian secara langsung.
__ADS_1
"Apa yang lucu ?, Apa kau pikir sekarang penampilan ku seperti pelawak, sampai kau tertawa." Balas Sea.
"Tidak juga, hanya aku berpikir jika aku tidak mengenalmu sejak kecil, aku akan jatuh cinta untuk sekali pandang saja."
Wajah Sea merah merona mendengar ucapan Askar. "Itu .... "
Belum selesai Sea bicara, Askar segera menarik tubuhnya kembali dalam pelukan, mereka bersembunyi ketika dia mendengar suara langkah datang dari pintu masuk ke atap gedung.
Seorang wanita cantik paruh baya itu adalah ibu pengawas asrama, tentu Askar tidak ingin Sea atau pun dirinya ketahuan telah melanggar jam tidur. Jika dia melihat sepasang murid lelaki dan perempuan bersama ketika larut malam akan menjadi masalah.
Tapi setelah mencari dan tidak menemukan apa pun, ibu Esti selaku pengawas asrama kemudian pergi. Askar pun melepaskan dekapannya dari Sea, hanya saja melihat Sea diam dengan wajah memerah, Askar bingung.
"Apa kau sakit Sea ?." Bertanya Askar memeriksa kening.
Sea bersikap kasar dan memalingkan wajah...."Kau yang sakit !!!, Jangan tiba-tiba memelukku, aku belum siap."
"Memang apa yang kau siapkan."
"Sudah lupakan saja."
Askar hanya tersenyum memperhatikan sikap Sea marah-marah tidak jelas, itu seperti gadis kecil yang dulu.
"Tunggu, tapi..." Sea tidak mau waktu bersama dengan Askar hilang begitu saja.
Askar berbalik sebelum pergi..."Ada apa Sea ?."
"Tidak, aku juga akan kembali." Sea mengurungkan niat untuk mengatakan keinginannya.
"Baiklah, semoga kau mimpi indah." Ucap Askar sembari mengusap rambut Sea.
Dia memperhatikan Askar hingga lenyap ketika memasuki satu kamar dari asrama pria yang berada tepat di sebelah gedung asrama wanita.
*******
Breaking news :
(Terjadi kebakaran besar pukul 00.20 dini hari di gedung utama Badan Pengawas Sumber Energi Nasional, dikatakan terjadi kesalahan teknis dari peralatan, sehingga mengakibatkan hubungan pendek arus listrik.
Kerugian bagi negara lebih dari 500 milyar rupiah, tidak ada korban jiwa dan semua pekerjaan berhasil menyelamatkan diri sebelum terjadi ledakan besar. Tapi akibat kejadian yang menghanguskan pengolahan sumber listrik milik negara, mungkin kah menjadi masalah serius bagi para pengguna listrik di tanah air.
__ADS_1
Kami sekarang bersama ketua dari ilmuwan di Badan Pengawas Sumber Energi Nasional, Profesor Erin Wirajaya, bagaimana tanggapan anda tentang kejadian ini.
Komentar Profesor Erin Wirajaya : manusia memang tempatnya salah, meski pun kami dibantu oleh kecerdasan buatan 'Re', kemungkinan Human Error tentu ada. Tapi persoalan mengenai ketersediaan listrik di tanah air masih tetap berjalan, karena dari masing-masing wilayah provinsi ada gedung penyimpanan energi yang digunakan ketika kejadian seperti sekarang muncul.
Kami benar-benar meminta maaf karena sudah membuat seluruh rakyat Indonesia khawatir, dan kami akan melakukan penanggulangan secepat mungkin, agar masalah serupa tidak terjadi di kemudian hari.
Terimakasih.
Kembali ke reporter : terimakasih profesor Erin Wirajaya, kita cukup tenang karena semua masih bisa di atasi, masyarakat Indonesia harus berterimakasih karena anda sudah bekerja keras. )
*******
Pertemuan darurat para petinggi militer di lakukan, semua ini karena masalah yang terjadi tentang hilangnya Dimensional Cube. Sebagai harta Nasional berharga, mereka tidak bisa tinggal diam dan segera mengatasinya.
Komandan Zam berdiri di depan layar televisi setelah memberitakan kejadian di Badan Pengawas Sumber Energi Nasional, sedangkan di setiap kursi dalam ruangan hanya di sisi hologram petinggi tanpa perlu datang ke tempat pertemuan.
Tidak hanya para anggota militer, mentri pertahanan, para dewan tinggi negara, serta kepala presiden pun ikut ambil bagian dengan hologram jarak jauh.
"Kami sudah meminta kepada Profesor Erin Wirajaya untuk menyembunyikan masalah penyerangan kelompok asing yang mengambil Dimensional Cube, dan juga aku sudah mengerahkan para pasukan mencari keberadaan mereka." Zam menjelaskan secara terperinci di hadapan hologram.
"Ini salahmu Zam, kau telah membebaskan Overlord dari tugas militer, jika tidak, kejadian sekarang mustahil terjadi." Satu orang begitu marah untuk tindakan Zam.
"Tuan aku tidak menganggap bahwa membebaskan Overlord dari tugasnya adalah hal yang salah, dia masih terbilang anak di bawah umur, kita salah memanfaatkan hidupnya untuk kepentingan pribadi, dan juga sudah beruntung selama ini kita dibantu olehnya, apa salah membiarkan dia hidup normal." Zam membela diri.
"Tapi lihat, tanpa kekuatan Overlord kita dalam masalah besar, memang masyarakat tidak mempermasalahkan apa pun selama kebutuhan mereka terpenuhi, tapi bagaimana dengan kita ?, pasukan militer terkuat ke 3 di dunia, harus di permalukan oleh lima orang asing."
"Bukankah kita harus mengkoreksi diri sendiri, apa yang salah dari kejadian ini, dan mencari cara untuk mengatasinya."
Melihat keributan terjadi, hologram presiden angkat bicara...."Sudahlah lupakan perdebatan kalian, kita harus mencari keberadaan Dimensional Cube sebelum masalah semakin besar."
"Letnan Roi masih belum sadarkan diri. Menurut penjaga, dia tahu siapa yang menjadi otak dari para penyusup itu." Jawab Zam atas kejadian letnan Roi.
"Baiklah kita tidak bisa menunggu sampai letnan Roi sadar, angkatan darat, laut dan udara, semua pasukan militer harus bergerak mencari, jangan sampai Dimensional Cube hilang dari tangan kita." Presiden sudah memberikan suara untuk tugas semua orang.
"Siap pak presiden." Zam menjawab penuh hormat.
"Dan juga Zam, kau hubungi Overlord agar dia ikut membantu dalam mencari keberadaan Dimensional Cube." Lanjut presiden atas perintah lain.
"Baik pak presiden." Zam tidak bisa menolak untuk itu.
__ADS_1